Tengkarah Nikah Kontrak

BH, 14/10/09

Kalau saya sedang bepergian ke luar negara terutama Australia, maka tempat yang terkenal dan selalu ditanyakan kepada saya oleh mereka adalah Bali. Bagi mereka Bali bahkan lebih terkenal daripada Jakarta. Tentunya karena Bali terkenal dengan keindahan pantai, kaya budaya dan bermacam-macam tempat wisata lainnya.

Tetapi, apabila saya pergi ke negara Timur Tengah atau bertemu dengan orang Timur Tengah disebuah confrence dan tahu saya berasal dari Bandung-Jawa Barat, tempat pertama yang mereka tanyakan adalah Puncak, Bogor.

Tadinya saya menyangka bahwa Puncak terkenal oleh orang Timur Tengah karena tempatnya yang sejuk, pemandangannya yang indah dengan hamparan pohon-pohon teh yang hijau. Tetapi ternyata bukan pemandangan pegunungannya yang mereka kagumi.

Lalu apa yang membuat Puncak terkenal dimata orang Timur Tengah?

Ketika weekend lepas saya pergi ke Bogor, barulah saya mengerti mengapa daerah Puncak, Cisarua-Bogor begitu dikenal orang-orang Timur Tengah.

Kalau anda pergi ke daerah ini, banyak sekali turis-turis asal Timur Tengah yang bisa dijumpai.

Saya tanya kepada tukang ojeg  mengapa banyak orang bertampang Timur Tengah di daerah ini? Tukang ojeg itu hanya tersenyum dan balik bertanya, bapak belum tahu yah kalau banyak orang Timur Tengah yang ’nikah’ dengan orang Puncak?

Oh begitu yah, jawab saya? Saya meneruskan pertanyaan, kok bisa banyak orang Timur Tengah tertarik dengan orang Puncak, apa istimewanya orang disini? Apakah karena cantik-cantik atau bagaimana? Kan banyak juga orang di bandung tempat saya tinggal gadisnya yang terkenal cantik-cantik tetapi tidak banyak orang Timur Tengah di Bandung?

Tukang ojeg  itu menjelaskan lebih lanjut bahwa sudah bukan rahasia lagi kalau banyak orang Timur Tengah yang ’menikah kontrak’ dengan gadis-gadis di Puncak. Bisa menikah kontrak sepuluh hari, dua minggu atau berbulan-bulan sesuai dengan kesepakatan.

Biasanya para turis Timur Tengah yang rata-rata banyak uang itu akan menyiapkan mas kawin (mahar) yang cukup besar hingga jutaan rupiah dan menikah ’kontrak’ hanya beberapa hari sahaja dengan gadis di Puncak kemudian menceraikannya jika waktu kontraknya sudah habis.

Rupanya ’nikah kontrak’ inilah yang membuat para turis Timur Tengah tertarik dengan daerah Puncak. Kalau dilihat dari prosesnya, nikah kontrak ini hampir sama dengan nikah pada umumnya karena persyaratan-persyaratan pernikahan terpenuhi seperti ada mempelai, ada saksi, ada wali, ada mahar (mas kawin) dan ada ijab kabul. Yang membedakannya adalah adanya kesepakatan waktu berapa lama mereka terikat menjadi suami isteri dan tidak dicatatkan di kantor pejabat.

Permasalahan nikah kontrak ini menjadi tengkarah di masyarakat, ada yang membolehkan karena persyaratan dan rukun nikah terpenuhi tapi juga kebanyakan ulama melarang dan mengharamkannya.

Menurut undang-undang pernikahan di Indonesia ’nikah kontrak, tidak diperbolehkan dan dianggap melanggar hukum karena tidak dicatat oleh pejabat pemerintahan dari Kantor Urusan Agama (KUA).

Saya sepakat dengan kebanyakan ulama yang mengharamkan ’nikah kontrak’ ini. Meskipun seolah-olah persyaratan dan rukun nikahnya terpenuhi, tetapinya pernikahan ini seperti mempermainkan agama yaitu seolah-olah ingin menghalalkan ’prostitusi’ tapi berkedok agama.

Nampaknya, syah tidaknya nikah kontrak bukanlah hal yang utama, bagi mereka yang penting adalah mereka diuntungkan secara ekonomi.

Banyak alasan yang membuat ‘pernikahan kontrak’ ini terjadi di masyarakat.

Pertama, pemahaman agama yang kurang menyebabkan mereka merasa bahwa ‘nikah kontrak’ adalah syah karena menurut mereka daripada berzinah tanpa pernikahan lebih baik nikah kontrak.

Kedua, dan alasan inilah yang banyak saya temui di masyarakat yaitu karena alasan ekonomi untuk memperbaiki taraf hidup. Dengan menikah dengan orang Timur tengah banyak masyarakat yang percaya bahwa pernikahan mereka adalah syah dan ekonomi mereka akan meningkat.

Ketiga, banyak juga yang beranggapan bahwa anak gadis itu merupakan asset keluarga yang harus diberdayakan untuk meningkatkan status ekonomi dan memperbaiki keturunan. Mereka yakin dengan menikah dengan orang Timur Tengah maka anak keturunan mereka akan mempunyai paras yang elok.

Padahal dari cerita-cerita tukang ojek yang membawa saya keliling daerah Puncak, banyak kekurangan dan kerugian dari pernikahan kontrak semacam ini.

Kerugian yang paling dirasakan adalah oleh pihak perempuan. Banyak para isteri yang telah dinikahi secara kontrak tersebut hanya dijadikan pemuas hawa nafsu sahaja dan tidak diberi nafkah secara wajar. Harapan mendapatkan uang yang banyak karena menikah dengan orang kaya dari Timur Tengah juga terkadang hanya tinggal harapan tanpa kenyataan.

Kalau mereka hamil dan mempunyai anak sementara suaminya sudah kembali ke Timur Tengah maka anak akan menjadi terlantar karena tidak memiliki ayah yang jelas. Hal ini bisa dimaklumi karena pernikahan mereka tidak dicatat dilembaga resmi pemerintah.

Jika terjadi kekerasan dalam rumah tangga, lagi-lagi posisi perempuan tidak berdaya dan mereka tidak bisa mengadu ke pejabat polis karena pernikahan mereka memang tidak tercatat.

Melihat banyak kerugian dan kekurangannya dari praktek nikah kontrak ini, nampaknya pemerintah atau pejabat yang berwenang harus segera bertindak.

Para pejabat dari departemen agama harus memberikan pemahaman kepada penduduk tentang hukum nikah kontrak ini jika dilihat dari hukum Islam dan hokum negara Indonesia. Janganlah karena pemahaman agama mereka kurang mereka menyamakan nikah kontrak dengan nikah mut’ah.

Kalaupun nikah mut’ah ada yang membolehkan, tetapi harus dengan persyaratan-persyaratan yang ketat bukan seperti proses nikah kontrak yang biasa terjadi di Puncak tersebut.

Kementrian Pemberdayaan Perempuan juga harus ikut menanggulangi kebiasaan nikah kontrak ini. Para gadis dan perempuan di daerah Puncak harus diberi pamahaman tentang hak-hak yang harus mereka terima sebagai isteri agar mereka tidak mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga karena pernikahannya tidak tercatat di pejabat.

Tentu sahaja penyediaan lapangan kerja bagi para perempuan di daerah Puncak agar ekonomi mereka meningkat perlu diusahakan.

Jika secara ekonomis mereka tidak kesulitan, saya yakin praktek ‘nikah kontrak’ yang justru banyak merugikan pihak perempuan itu bisa dikurangi atau dihindarkan. Bukankah secara manusiawi, setiap perempuan ingin membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmat yang jarang bisa didapatkan kalau hanya dengan menikah kontrak?

Akhirnya, ketegasan pemerintah untuk melarang nikah kontrak sesuai dengan undang-undang negara perlu ditegakkan. Jika kebiasaan nikah kontrak itu dibiarkan, bisa jadi perempuan-perempuan di daerah lain akan mencontoh kebiasaan ‘nikah kontrak’ di daerah Puncak yang sudah banyak diketahui umum.

One Response to Tengkarah Nikah Kontrak

  1. Mulyana says:

    Fu….fu….fu…kenapa Puncak?
    Kenapa Bogor?
    Kenapa Sunda?

    Ada banyak kedok untuk legalisasi prostitusi ya, Kang? Naudzubillah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: