Dari Mesjid dan Penjara Melawan Terrorisme

BH, 30/09/09

Apa hubungan antara mesjid dan penjara? Dua tempat itu sepertinya tidak ada hubungannya bahkan terkesan saling bertolak belakang.

Memangnya, jika mendengar kata penjara, orang akan langsung terbayang sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang dihukum karena perbuatan kriminal, jahat dan nista.

Sementara kalau mendengar kata masjid, orang akan langsung menunjuk tempat suci dimana orang Islam yang sholeh beribadah mendekatkan diri kepada Allah.

Setiap Muslim akan dengan senang hati pergi ke mesjid yang sering disebut sebagai ’Rumah Allah’ untuk mengagungkan nama-Nya, bertaqorub dan menjalankan segala kebajikan.

Sementara untuk penjara, banyak orang yang berdo’a agar anak dan keturunannya dijauhkan dari segala kejahatan yang akan menyebabkan seseorang harus mendekam di ’hotel prodeo’ ini.

Tapi tunggu dulu. Di indonesia, antara mesjid dan penjara mempunyai hubungan yang cukup signifikan. Ini dikarenakan hampir disetiap area penjara (atau dikenal dengan sebutan Lembaga Pemasyarakatan/LP) selalu ada mesjid.

Ini tentunya dikarenakan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, sehingga kebanyakan orang yang dipenjara juga adalah Muslim.

Kebanyakan mesjid yang ada di penjara di Indonesia diberi nama Mesjid At-Taubah. Sebut saja, mesjid At-Taubah di penjara Sukamiskin, Bandung, penjara Batu Nusakambangan dan penjara di Jambi.

Nama mesjid itu tentunya secara simbolis melambangkan agar para tahanan yang ada dipenjara bisa bertaubat dan tidak mengulangi lagi perbuatan jahatnya setelah bebas dari tahanan.

Beberapa nama lainnya adalah mesjid al-Hidayah dengan tujuan agar para pesakitan di penjara itu mendapatkan hidayah setelah pergi ke mesjid.

Pembahasan tentang mesjid dan penjara ini mengingatkan saya kepada beberapa mahasiswa dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi di Universiti Islam Negeri di Bandung.

Beberapa waktu lalu, beberapa mahasiswa dari UIN melakukan kerja praktek lapangan di penjara Sukamiskin. Tugas mereka adalah mempraktekan cara berdakwah dan mengajak para penghuni penjara agar mereka insyaf mengakui kekeliruan dan kembali ke jalan yang benar setelah menjalani masa hukuman.

Selain berdakwah, mahasiswa juga disuruh untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling) bagi para tahanan. Memangnya tidak jarang para penghuni penjara itu frustasi dan stress sehingga ingin bunuh diri sahaja daripada harus bertahun-tahun menghabiskan sebagian umurnya di balik terali besi.

Dari pengalaman mahasiswa-mahasiswa itulah saya tahu bahwa setiap kegiatan keagamaan para narapidana/tahanan itu banyak dilakukan di mesjid yang ada di area penjara.

Tentunya mempraktekan dakwah dan bimbingan penyuluhan bagi narapidana yang ada dipenjara akan berbeda dengan berdakwah kepada masyarakat secara umum.

Pengalaman inilah yang nantinya akan membekali mahasiswa dengan profesi da’i (pendakwah) agar siap diterjunkan ke tengah-tengah masyarakat untuk berdakwah dengan objek dakwah (mad’u) yang heterogen.

Karena posisinya yang strategis sebagai pusat pembinaan mental dan spiritual para penghuni penjara, tak heran kalau mesjid di penjara bisa dikatakan sebagai oasis di tengah padang pasir. Siraman rohani dan keagamaan memang sangat dibutuhkan oleh para tahanan di penjara.

Fungsi mesjid di dalam penjara perlu terus ditingkatkan. Bukan hanya sebagai pusat pembinaan mental penghuni penjara tapi juga untuk memberikan pengajaran agama yang lebih komprehensif.

Apalagi di era perang melawan terrorisme yang sedang digalakan oleh semua negara termasuk Indonesia.

Dalam catatan kepolisian, sejak peristiwa Bom Bali sampai sekarang, ada sekitar 400 orang yang dituduh terkait terorisme yang sudah ditangkap dan di penjara di seluruh Indonesia dan lebih dari 200 orang sudah dibebaskan.

Melihat banyaknya jumlah tersangka terrorisme baik yang masih di penjara maupun yang sudah dibebaskan, maka fungsi pembinaan di mesjid-mesjid yang ada di penjara di Indonesia harus terus ditingkatkan.

Memangnya, beberapa terroris yang tertangkap di Temanggung maupun di Solo, Jawa Tengah yang membantu Noordin M. Top dalam pelariannya tercatat pernah dipenjara dan telah bebas dari hukuman, tetapinya kembali menjadi terroris.

Ertinya, diperlukan program pembinaan agar para bekas tahanan terroris tidak kembali radikal atau dikenal dengan istilah program deradikalisasi (mengembalikan orang yang tadinya radikal menjadi biasa).

Program deradikalisasi yang pada mulanya berasal dari kepolisian perlu di dukung oleh para pemuka agama dan para pendakwah.

Komisaris Besar Petrus Reinhard Golose, dalam bukunya Deradikalisasi Terorisme, Humanis, Soul Approach dan Menyentuh Akar Rumput (2009), menyebutkan bahwa agar sukses melawan ideologi radikal para terroris, diperlukan kerjasama dari semua pihak baik itu polisi, tokoh agama dan masyarakat pada umumnya.

Sambutan hangat atas program deradikalisasi datang dari Majlis Ulama Indonesia (MUI).

Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin seperti dikutip surat kabar detik.com menyebutkan: ”Terhadap yang kena (ideologi radikal) harus dilakukan pembinaan. Yang belum kena harus dilakukan pencegahan. Harus ada koordinasi berbagai pihak.”

Memangnya program deradikalisasi itu harus ditujukan kepada dua kelompok secara bersama-sama. Pertama, terhadap orang-orang yang sudah terpengaruh ideologi radikal. Dan kedua, melindungi dan mencegah orang-orang yang belum terpengaruh ideologi tersebut.

Dua program itu nampaknya perlu sekali dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi mesjid di penjara-penjara yang ada di Indonesia.

Program pertama harus ditujukan kepada para narapidana atau tahanan yang memang dimasukkan penjara karena terlibat kegiatan terrorisme.

Kepada kelompok ini pejabat Kepala Lembaga Pemasyarakatan  harus mampu menghadirkan ulama atau pendakwah yang betul-betul mampu mendebat pemahaman ideologi radikal para tahanan tersebut.

Ulama atau pendakwah dengan pemahaman agama yang mendalam diharapkan mampu mematahkan argumen dari tahanan dengan ideologi dan pemahaman Islam yang radikal. Pemahaman jihad yang komprehensif dan bukan hanya berarti berperang harus dijelaskan kepada para tahanan terroris ini.

Sedangkan program kedua dari deradikalisasi dipenjara harus ditujukan kepada narapidana lain yang bukan tahanan terrorisme.

Tahanan kriminalitas biasa selain harus disadarkan agar tidak mengulangi perbuatan jahatnya ketika sudah bebas dari penjara, mereka juga harus diberi pemahaman Islam yang komprehensif agar tidak terpengaruh oleh narapidana terrorisme lainnya.

Memangnya orang-orang di penjara yang putus asa boleh jadi akan mudah dipengaruhi oleh napi terrorisme dengan mengajarkannya pemahaman jihad yang salah.

Ertinya, program deradikalisasi ini diperlukan dengan cara mengintensifkan pengajaran pemahaman keagamaan yang bisa dimulai di mesjid-mesjid di penjara yang ditujukan kepada para tahanan.

Tentunya program ini merupakan salah satu usaha dalam mencegah terrorisme di Indonesia yang perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat umum lewat berbagai media.Tetapinya, tidak bisa disangkal bahwa mesjid di penjara-penjara bisa dijadikan langkah pertama dan utama dalam memerangi ideologi radikal para tahanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: