Kultur Bertetangga di Kampong Perlu Dipertahankan

BH, 23/09/09

Sebuah surat kabar besar di Melbourne, Australia, Herald Sun, pada 17 September lalu memberitakan bahwa seorang ayah telah memperkosa anaknya selama 30 tahun sejak tahun 1970-an hingga mempunyai empat anak.

Kasus ini mengingatkan kita kepada kebiadaban seorang berkebangsaan Austria bernama Josef Fritzl  yang menyekap putrinya sendiri Elisabeth Fritzl selama 24 tahun, pada tahun 2007.

Makanya, koran Herald Sun menulis dalam headline surat kabar tersebut sebagai Australian ‘Fritzl’ fathered all of daughter’s children.

Dua kasus di negara Barat ini cukup mengejutkan karena dua kasus penyekapan dan pemerkosaan tersebut berlangsung lama dan tidak diketahui oleh tetangga kedua pelaku.

Kasus di Australia bahkan menyebutkan bahwa sang Ibu tidak mengetahui pelecehan sexual suaminya terhadap sang anak.

Hal ini tentunya mengundang pertanyaan, apa yang salah dengan prilaku masyarakat dan kultur bertetangga pada masyarakat Austria dan Australia atau masyarakat Barat pada umumnya?

Meskipun dua kasus itu tidak bisa digeneralisir. Tetapinya budaya Barat yang pada umumnya bersipat individualistik dan tidak suka campur tangan dengan urusan orang lain yang sering dialu-alukan perlu dipertanyakan.

Adalah hal yang wajar di Barat kalau antara tetangga tidak bertegur sapa atau tidak saling mengunjungi karena alasan bisa mengganggu privacy seseorang.

Berkaca dari Kasus Josef dan kasus di Asutralia, jika tradisi ‘watch neigbourhood’ itu berlaku di Barat, nampaknya tragedi kemanusian seperti ini bisa dikurangi atau dihindari.

Mungkinkah masyarakat Barat perlu mengambil pelajaran dari tradisi kekeluargaan dan bertetangga yang umumnya menjadi ciri masyarakat di kampung-kampung di negara Asia Tenggara khususnya pada masyarakat Muslim?

Dari dua kasus  ini saya jadi teringat dengan tradisi kehidupan di kampong di Indonesia tempat saya dibesarkan.

Kehidupan kampong sangat menekankan tradisi atau budaya saling menyapa, saling bersilaturahim dan saling membantu.

Suasana akrab kekeluargaan bertetangga di kampong sangat terasa. Kalau ada tetangga yang sakit, orang sekampung pasti tahu dan menengoknya.

Kalau ada tetangga yang mengadakan hajatan pernikahan, banyak tetangga yang ikut membantu mempersiapkannya.

Kalo ada yang bikin sop, bikin kue, biasanya ada hantaran ke tetangga. Minimal hantaran ke samping kiri-kanan, depan-belakang rumah tetangga. Kalo ada pencuri malam-malam, atau kebakaran, satu kampung akan terbangun semua, bahu membahu saling membantu.

Tradisi silaturahim akan lebih terasa ketika merayakan Iedul Fitri. Bagi masyarakat Indonesia, kurang afdhol (utama) seandainya hari raya tidak mudik ke kampung halaman untuk bersilaturahim.

Selain mengunjungi saudara dekat, tujuan berhari raya di kampung adalah untuk bersilaturahim dengan teman dan tetangga.

Kata orang tua, tetangga adalah saudara terdekat. Memangnya, sebelum meminta bantuan kepada saudara jauh, kita akan sangat bergantung untuk meminta bantuan tetangga bila menghadapi emergency, baik itu karena sakit atau ada musibah yang lainnya.

Nampaknya masyarakat kampong mencoba mengamalkan ajaran Islam yang menekankan bahwa bertetangga yang baik adalah inti dari bermasyarakat.

Dari kasus di Austria dan Australia diatas, bisa diambil pelajaran bahwa saling bertegur sapa, saling mengunjungi dan bersilaturahim antar tetangga mempunyai banyak nilai positif.

Bagi masyarakat Melayu yang identik dengan Muslim, selain memang bertegur sapa dan bersilaturahim sesama tetangga adalah ibadah menjalankan ajaran Islam, hal ini merupakan kepedulian social antar sesama manusia.

Islam sangat menganjurkan kita untuk peduli terhadap tetangga dan juga tamu yang bersilaturahim.

Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman terhadap Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia memuliakan tetangganya”. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia memuliakan tamunya”.

Dalam hadits yang lain Rasulullah merinci hak dan kewajiban seorang Muslim terhadap tetangganya. Hadits itu berbunyi: Tahukah kamu apakah hak seseorang tetangga itu?

Nabi menjelaskan: 1) Jika ia meminta tolong hendaklah kamu tolong, 2) jika ia memohon pinjaman, maka hendaklah anda meminjamkannya, 3) Jika ia susah, maka hendaklah anda bermurah hati kepadanya, 4) Jika ia sakit, maka hendaklah anda melawatnya dan 5) Jika ia mati, hendaklah anda menghantar jenazahnya.

Dari hadits diatas Islam sangat menjunjung tinggi hak seorang tetangga.

Islam mengajarkan bagaimana seseorang harus concern dengan keadaan tetangganya, tidak hanya ketika tetangga itu sakit bahkan ketika sang tetangga meninggal dunia seorang Muslim harus ikut mengantarkan jenazahnya.

Yang menarik dari hadits diatas adalah bahwa Rasulullah tidak bersifat diskriminatif terhadap tetangga atau tamu.

Hadits itu menyebutkan kata tetangga atau jiran tanpa kata sifat atau bersipat umum.

Artinya siapapun yang menjadi tetangga kita, apapun agama atau etnisnya maka kita harus bersikap baik kepada mereka.

Jika tatakrama bertetangga seperti disebutkan dalam ajaran Islam itu dijalankan oleh siapapun, termasuk oleh non-Muslim, nampaknya tragedy kemanusiaan seperti yang terjadi di Austria dan Australia itu tidak akan pernah terjadi.

Dua kasus diatas merupakan pelajaran dan teguran bagi kita semua untuk mengevaluasi ulang sejauh mana kita telah mengamalkan tata cara hidup bertetangga yang baik seperti diajarkan oleh agama.

Seluhur dan semulia apapun nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasulullah, kalau hal itu tidak dilaksanakan maka kita harus khawatir kalau tragedy di Austria dan Australia itu bisa menimpa kita termasuk masyarakat Muslim di Asia Tenggara.

Bahkan sekarang ini, tradisi bertegur sapa antar tetangga di kampong di Indonesia perlu ditingkatkan lagi. Ini terjadi karena dari beberapa kasus penangkapan terroris di Indonesia seperti kasus penangkapan di Temanggung dan Solo Jawa Tengah baru-baru ini, menunjukkan bahwa para terroris itu sangat tertutup dan tidak mau bertegur sapa dengan tetangga.

Kita perlu bangga dan terus melestarikan nilai-nilai Asia seperti hidup bertetangga yang banyak faedahnya. Janganlah kita merasa inferior dengan harus selalu meniru apa yang datang dari Barat. Belum tentu sistem nilai yang ada di Barat itu lebih baik dan cocok untuk diterapkan pada kultur masyarakat Asia.

Dalam kasus bertetangga, bahkan Barat perlu mencontoh Asia agar tragedi kemanusiaan yang terjadi di Austria dan Australia itu bisa dikurangi atau bahkan dihindari sama sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: