Musibah Gempa Setelah Pilihan Raya

BH, 16/09/09

Sejak peristiwa gempa bumi di Aceh yang disertai gelombang tsunami pada Desember 2004, beberapa kali Indonesia di guncang gempa. Sebut saja gempa Nias (Maret 2005), Yogyakarta (Juni 2006), Pangandaran (Juli 2006), Bengkulu dan Mentawai (September 2007) dan terakhir gempa Tasikmalaya (September 2009).

Diantara gempa-gempa itu, gempa di Aceh dan Tasikmalaya merupakan yang terbesar jika diukur dari skala richter yaitu 8,9 dan 7,3.

Anehnya, ada yang menghubung-hubungkan musibah gempa bumi Aceh dan Tasikmalaya dengan urusan politik yaitu kepemimpinan Dr. Yudhoyono sebagai presiden Indonesia.

Memangnya, gempa Aceh terjadi ketika Pak Yudhoyono baru saja diangkat menjadi presiden untuk periode (2004-2009) dan gempa Tasikmalaya terjadi diakhir masa jabatan Yudhoyono periode pertama menjelang dilantik untuk periode kedua (2009-2014) pada 20 Oktober bulan hadapan.

Saya tidak percaya dengan ramalan mistis paranormal yang mengatakan bahwa gempa itu merupakan isyarat harus siap-siapnya masyarakat Indonesia menghadapi musibah karena dipimpin lagi oleh Dr. Yudhoyono.

Tidak ada bukti ilmiah yang bisa dijadikan pegangan yang menghubungkan kepemimpinan Dr. Yudhoyono dengan musibah alam yang terus melanda bangsa Indonesia.

Musibah gempa tidak ada hubungannya dengan siapa yang menjadi presiden Indonesia terpilih.

Siapapun presidennya, baik itu Yudhoyono, Prabowo ataupun Megawati, tetap saja potensi gempa di Indonesia, karena letak geografisnya itu, cukuplah tinggi.

Hanya sahaja kalau penanggulangan korban musibah dikaitkan dengan pristiwa politik sebelum dan sesudah pilihan raya tentu ada hubungannya.

Sebagai contoh, ketika terjadi musibah banjir dan tanah longsor di Situ Gintung, Ciputat pada Maret 2009, dengan cepat baik itu pemerintah, partai politik dan calon anggota parlemen sibuk memberikan bantuan. Tentunya karena mereka ingin dilihat sebagai orang yang peduli dan membela penderitaan rakyat korban bencana.

Beberapa relawan dari partai politik dengan bendera partai masing-masing sibuk memobilisasi bantuan baik itu makanan, obat-obatan maupun uang.

Tetapi kita lihat penanggulangan musibah gempa Tasikmalaya, hampir tidak ada partai politik yang berlomba-lomba memobilisasi bantuan.

Begitu juga para anggota parlemen yang dulu sangat dekat dengan rakyat menjelang pilihan raya, sekarang seolah menjauh.

Kesan yang muncul adalah bahwa pilihan raya berakhir, maka kepedulian partai politik dan pejabat terhadap musibah yang dialami rakyat juga berakhir.

Untungnya, presiden Yudhoyono sangat tanggap terhadap musibah ini. Dr. Yudhoyono bahkan rela berkantor di Cipanas Cianjur untuk memantau pemberian bantuan kepada msyarakat dan memberi dukungan moral bagi masyarakat yang terkena musibah.

Sikap presiden Yudhoyono ini merupakan pelajaran dari seorang pemimpin yang perlu dicontoh oleh pejabat-pejabat lainnya termasuk para elit partai dan anggota parlemen.

Memangnya dari setiap musibah yang terjadi, semestinya kita mengambil pelajaran. Baik itu pelajaran dari peristiwa musibahnya ataupun dari penanggulangan yang dilakukan oleh pemerintah.

Dari peristiwa gempa yang terus menerus melanda Indonesia, ada beberapa pelajaran yang mestinya diambil dan direnungkan.

Tuhan memang sudah memperingatkan manusia untuk selalu mengambil pelajaran baik dari ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kekuasaan-Nya yang ada di alam) maupun ayat-ayat kauliyah dalam Al-Quran. Ertinya, kita harus merenungkan pesan Tuhan tentang ayat-ayat gempa yang ada dalam al-Quran, dan ayat-ayat Tuhan yang ada di alam tentang kejadian gempa yang begitu dahsyat, agar kita bisa mengambil pelajaran untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Masyarakat Indonesia secara umum harus tahu dan sadar bahwa seringnya negara khatulistiwa ini diguncang gempa karena letak geografis Indonesia yang berada diantara lempeng Indo-Australia dan lempeng Asia. Jika kedua lempeng itu bertubrukan maka muncullah gempa. Inilah ayat kauniyah tentang kebesaran Tuhan.

Dengan posisinya yang rawan gempa, masyarakat Indonesia tidak perlu percaya terhadap ramalan ‘mistis,’ tetapi harus mengkaji secara ilmiah, bagaimana meminimalisir (mengurangi) resiko korban dan kehancuran jika gempa itu terjadi.

Bagi para  ilmuan di Indonesia, mereka diperingatkan untuk terus mengkaji watak dan tabiat gempa.

Para ilmuan harus mengkaji sejauhmana resiko gempa terhadap tempat tinggal dan mensosialisasikannya terhadapa masyarakat. Struktur rumah yang tahan gempa juga harus dikaji terus oleh para ilmuan dan memberitahukannya kepada masyarakat secara terus menerus.

Bagi pemerintah, mereka harus bahu-membahu dengan masyarakat bagaimana caranya menghindari resiko gempa yang waktunya tidak bisa diprediksi.

Memangnya belum ada yang bisa mendeteksi secara akurat kapan sebuah gempa akan terjadi.

Dalam hal gempa, pemerintah Indonesia perlu diingatkan untuk belajar dari pengalaman Jepang sebagai negara yang lebih rawan gempa dibanding Indonesia.

Konon katanya di Jepang, sejak kanak-kanak mereka sudah dilatih bagaimana cara menyelamatkan diri jika terjadi gempa bumi. Hal ini bisa ditiru untuk diterapkan disekolah-sekolah di Indonesia.

Pelajaran cara menghadapi gempa di sekolah-sekolah di Indonesia jarang sekali diberikan. Padahal anak-anak merupakan kelompok yang rawan sekali menjadi korban bencana yang tidak bisa diprediksi ini. Dalam musibah gempa terbaru sahaja, puluhan anak yang sedang main games Play Station ditemukan tewas.

Siswa sekolah perlu diberikan panduan praktis tata cara menyelamatkan diri jika gempa sewaktu-waktu mengancam.

Jika sejak kecil disekolah sudah diajarkan cara menyelamatkan diri, hal ini akan menjadi modal ketika mereka dewasa. Mereka akan terbiasa bagaimana ketika keadaan darurat terjadi.

Bahkan di Jepang, setiap pendatang yang akan tinggal lama di negeri sakura itu selalu diberikan pelajaran bagaimana cara menyelamatkan diri ketika terjadi gempa bumi.

Jepang mempunyai apa yang disebut Pusat Informasi Gempa. Selain menyediakan brosur tata cara menyelamatkan diri, lembaga ini juga menyediakan film tentang gempa dan latihan singkat evakuasi ketika gempa terjadi.

Hal-hal seperti inilah yang semestinya dipikirkan oleh pejabat dan anggota parlemen Indonesia. Anggota parlemen yang sering ‘study banding’ ke luar negeri dengan uang rakyat, perlu mencontoh apa yang dipraktekan oleh Jepang ini. Janganlah ‘study banding’ itu seolah hanya untuk berjalan-jalan sahaja tanpa hasil yang maksimal.

Anggota parlemen bisa berperan aktif mendorong pemerintah untuk mendirikan Pusat Informasi Gempa di Indonesia seperti di Jepang. Pusat informasi ini perlu dibangun di daerah-daerah di Indonesia sehingga bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat.

Pemerintah lewat departemen pendidikan juga perlu memikirkan bagaimana menyediakan informasi gempa dan cara-cara praktis evakuasi di sekolah-sekolah. Anak-anak mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU) harus terus diingatkan cara menghindari musibah gempa.

Jika mereka sudah terlatih cara menghindari gempa karena seringnya ‘simulasi latihan’ di sekolah, maka korban jiwa dari gempa yang tidak terduga datangnya bisa diminimalisir.

Inilah tentunya hal-hal penting cara penanggulangan musibah yang perlu dipikirkan oleh pejabat dan pihak berwenang setelah pilihan raya berakhir.

Bukan saatnya lagi para calon pejabat ‘mencari muka’ dihadapan rakyat agar dipilih. Adalah waktunya bagi mereka untuk mengabdi kepada rakyat termasuk bagaimana mencari jalan keluar agar korban rakyat jelata bisa dikurangi ketika musibah datang.

Karena musibah seperti gempa tidak memandang waktu, bisa pada masa pilihan raya atau bukan, bahkan di bulan suci Ramadhan sekalipun, maka adalah tugas semua lapisan masyarakat untuk selalu siap siaga dalam menghadapinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: