Ramadhan “Big Sale”

BH, 26/08/09

Satu hari sebelum menyambut datangnya bulan Ramadhan saya mendapatkan banyak sms (short message service) dan e-mel dari sahabat dan saudara dekat.

Rata-rata mereka memohon maaf apabila pernah melakukan kesalahan sambil tak lupa mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa.

Tentunya tradisi meminta maaf menjelang puasa ini alangkah baik dan perlu dilestarikan. Ini ertinya orang masih sadar dan ingat bahwa selama mereka berinteraksi social dengan sesama manusia selalu ada kesalahan dan khilaf, karena memang manusia adalah mahalul khoto wa nisyan (tempat berbuat salah dan lupa).

Selain tradisi menyucikan diri meminta maaf, kebiasaan lain masyarakat Indonesia menyambut ramadhan adalah berziarah kubur.

Ini juga kebiasaan yang baik iaitu sebagai pengingat bahwa pada akhirnya manusia akan meninggal. Sekaya dan setinggi apapun jabatan seseorang, pada akhirnya akan dikuburkan dengan hanya membawa selembar kain putih yang membalutnya. Tidak lebih.

Ziarah kubur juga sebagai rasa syukur bahwa seseorang masih diberikan usia oleh Allah untuk menjalankan puasa, tidak seperti saudara-saudaranya yang sudah wafat dan dikuburkan. Mereka sudah tidak sempat lagi menyambut bulan puasa yang penuh dengan berkah dan ampunan.

Ada satu yang menarik diantara berpuluh-puluh sms yang saya terima itu, kurang lebih isinya sebagai berikut: “Selamat Datang di Ramadhan Big Sale! Jangan Lewatkan, Obral Pahala Besar-besaran, Diskon (discount) dosa sampai 99%. Ini bukan basa-basi.”

Awalnya saya hanya tersenyum mendapatkan sms seperti itu, ini pasti dari sahabat saya yang suka iseng dan bercanda.

Memangnya isi sms itu sepertinya hanya ingin melucu (guyon) atau main-main sahaja, tetapinya setelah saya telaah, betul juga apa yang disampaikan teman saya lewat sms itu.

Kita patut menyambut Ramadhan ini dengan penuh gembira dan semangat menjalankannya dengan sepenuh hati.

Bagaikan sebuah toko yang sedang mengadakan big sale, Ramdhan juga bisa dikatakan seperti itu.

Kehadirannya sungguh ditunggu-tunggu umat Islam karena hanya satu bulan dalam satu tahun. Karena waktunya yang hanya satu bulan itu, maka seperti kegiatan ‘big sale’ pakaian atau elektronik tentunya ditunggu-tungggu oleh para pembeli.

Kata Rasulullah, sepuluh hari pertama bulan ramadhan berisi rohmat, sepuluh hari kedua berisi magfirah (ampunan) dan sepuluh hari akhir merupakan masa pembebasan dari api neraka.

Dengan ungkapan Rasulullah diatas, adalah tidak salah kalau bulan ramadhan ini diibaratkan sebagai ‘big sale’ pahala dan rahmat dari Yang Maha Kuasa.

Dengan sifatnya yang Maha Pemurah, Allah memberikan keistimewaan dilipatgandakannya semua pahala pada bulan ramadhan. Karenanya, adalah waktu yang tepat bagi umat Islam selain berpuasa di siang hari, juga memperbanyak membaca Al-Quran, banyak bersedeqah dan khusu’ dalam melaksanakan sholat malam seperti tarawih.

Pada bulan ini Allah membuka lebar-lebar pintu maaf-Nya, sebab itu umat Islam harus memanfaatkan waktu ini untuk berintrospeksi diri, mensucikan segala dosa dan khilaf dengan bertaqorrub kepada Ilahi.

Umat Islam perlu berlomba-lomba memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, bukankah masa ‘big sale’ ini hanya berlaku dari tanggal 22 Ogos sampai 20 september sahaja. Jangan lewatkan masa ini, karena kita tidak tahu kalau umur kita tidak sampai pada bulan puasa berikutnya.

Sejak awal kedatangannya, umat Islam harus bersungguh-sungguh menjalankannya supaya mendapatkan hadiah utama malam ‘lailatul qodr”.

Malam yang kata Rasulullah ada di malam ganjil sepuluh malam terakhir bulan ramadhan adalah malam keutamaan lebih baik dari seribu bulan seperti dikabarkan Al-Quran.

Sungguh mulia bulan ‘big sale’ ini, karena Allah tidak membatasi peserta dan pemenang utamanya. Siapapun dia asal beriman bisa berlomba-lomba untuk menggapai keutamaan sebuah malam yang lebih baik dari lapan puluh tahun yaitu ‘lailatul qodr’.

Bulan penuh keberkahan dan ‘big sale’ pahala ini jangan disia-siakan. Jangan sampai umat Islam lebih mendahulukan memburu ‘big sale’ pakaian dan perhiasan serta pernak-pernik duniawi daripada berlomba-lomba beribadah menggapai ‘big sale’ pahala di bulan puasa.

Memangnya bukan rahasia bahwa moment bulan ramadhan ini juga ada yang menjadikannya sebagai masa ‘big sale’ dalam arti materi yang sebenarnya.

Lihatlah outlet-outlet pakaian di Jakarta dan Bandung, mereka sejak awal-awal puasa sudah menawarkan discount besar-besaran untuk produk-produk pakaian.

Apalagi pada seminggu akhir ramadhan menjelang hari raya lebaran. Pusat-pusat belanja di Bandung biasanya penuh sesak dengan para pembeli pakaian dan belah.

Adalah sudah menjadi tradisi baik itu di kampong ataupun di kota di Indonesia kalau di hari raya mereka memakai baju, perhiasan atau kendaraan baru.

Bagi orang-orang di kampong tentu sangatlah wajar kalau mereka membeli pakaian baru menjelang lebaran. Karena dengan keterbatasan uang, biasanya mereka hanya bisa membeli baju baru di masa iedul fitri sahaja, apalagi anak-anak mereka.

Bagi anak-anak di kampong, hari raya lebaran sangat identik dengan memakai baju dan sepatu baru. Bukan rahasia lagi bahwa bagi anak-anak di kampong, membeli baju baru hanya satu kali sahaja dalam setahun.

Agama pun tidak melarang, bahkan menganjurkan umat Islam untuk menyambut hari iedul fitri sebagai hari kemenangan dan sudah sepantasnya merayakannya dengan penuh gembira.

Tetapinya, jangan sampai kesucian ramadhan dan kemeriahan hari raya iedul fitri dinodai dengan nafsu serakah manusia untuk berpoya-poya dan show off kemewahan.

Janganlah masa akhir ramadhan justru dijadikan ajang untuk pamer kemewahan dunia dan materi. Lebih baik kelebihan rizki dari orang-orang kaya itu dishadaqohkan untuk membantu faqir miskin terutama yang berada di kampong-kampung.

Janganlah justru orang-orang kota yang sudah terinfeksi virus konsumerisme menularkannya kepada masyarakat kecil terutama remaja di kampong-kampung.

Pamer baju dengan merk terkenal dan kendaraan mewah ke kampong-kampung diakhir masa ramadhan ketika mudik, harus betul-betul dihindari oleh para orang kaya dari kota.

Masa ‘big sale’ pahala dan ampunan selama ramadhan seharusnya dijadikan masa untuk berintrospeksi para kaum kaya untuk membantu kelompok ekonomi lemah yang kurang beruntung.

Masa ‘big sale’ pahala adalah masa yang paling tepat bagi kaum ‘the have’ untuk mengeluarkan zakat, infak dan shodaqoh dengan ikhlas dan hanya mengharap ridha ilahi.

Hasil ibadah di bulan ‘big sale’ pahala yang menjadikan orang kaya lebih toleran dan peduli dengan kaum dhuafa itulah yang harus ditonjolkan di akhir ramadhan.

Bukannya hasil perburuan ‘big sale’ material seperti membeli pakaian mahal, perhiasan dan mobil mewah yang ditunjukkan kepada para kaum miskin dengan tujuan ingin dipandang sebagai orang sukses.

Mari kita sambut bulan ‘big sale’ pahala dan kebaikan ini dengan sebenar-benarnya, sehingga diakhir ramadhan kita termasuk orang-orang yang benar-benar bersih kembali fitri dan menjadi mutaqin sejati.

Ingatlah bahwa tujuan utama puasa bulan ramadhan adalah menjadi orang yang betul-betul bertaqwa. Orang bertaqwa adalah orang yang selalu merasakan kehadiran Allah ketika berbuat baik, dan karenanya perbuatannya penuh keikhlasan dan bukan berpura-pura.

Bukankah ciri utama orang bertaqwa seperti disebut Al-Quran (Surat Al-Baqoroh: 4) adalah orang yang percaya kepada yang Maha Ghaib yang selalu hadir memperhatikan segala amal perbuatannya.

Jika sifat muttaqin telah melekat dalam diri seorang Muslim yang berpuasa, jangankan berbuat jahat, makan atau minum ketika sedang berada sendirian di ruang kantor pun tidak akan dia lakukan, karena dia tahu Dzat Yang maha Ghaib selalu memperhatikannya kemanapun dia pergi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: