KRL dan Potret Wong Cilik

BH, 19/08/09

Naik Kereta Api Tut…Tut…Tut

Siapa Hendak Turut, Ke Bandung, Surabaya

Bolehlah naik Dengan Percuma

Ayo Kawanku Lekas Naik, Keretaku Tak berhenti Lama

(Naik Kereta Api: Ciptaan Ibu Sud)

Itulah salah satu syair lagu populer anak-anak yang sering dinyanyikan oleh para pelajar Taman Kanak-kanak atau Tadika di Indonesia.

Tidak ada data akurat kapan lagu itu mulai diciptakan dan dinyanyikan. Yang pasti sejak saya masih belajar di tadika pada tahun 1979, lagu itu sudah populer.

Syairnya yang mudah dihapal dan irama lagunya yang riang membuat anak-anak senang dan gembira ketika menyanyikannya. Para guru biasanya menyanyikan lagu itu sambil mengenalkan sebuah kendaraan panjang bernama kereta api kepada anak-anak.

Meskipun ada yang mengkritik bahwa lagu itu kurang mendidik karena salah satu liriknya mengajarkan anak-anak untuk tidak bayar ketika naik kereta api, toh anak-anak merasa senang dan takjub dengan kendaraan berlokomotif yang berbunyi tut tut itu.

Kenangan dan image bahwa kereta api adalah sebuah alat transportasi yang nyaman dan cepat mengantarkan penumpangnya sampai ke tempat tujuan selalu mengendap di otak anak-anak sampai mereka dewasa, termasuk saya.

Artinya, image naik kereta adalah nyaman, cepat dan tepat waktu. Jarak antara Bandung dan Surabaya yang jauh, seperti digambarkan lagu di atas akan lebih nyaman jika ditempuh dengan kereta api daripada dengan bis.

Tetapinya, image naik kereta yang nyaman seperti disebutkan dalam lagu diatas seolah hilang ketika pada minggu lalu saya mencoba naik Kereta Rel Listrik (KRL) kelas ekonomi jurusan Bogor-Jakarta.

Tidak seperti MRT di Singapura, KRL jurusan Bogor-Jakarta mempunyai beberapa jenis atau kelas. Mulai dari kelas ekonomi non-AC (Air Conditioned), Economi dengan AC, sampai KRL express ber-AC yang tentunya ongkosnya lebih mahal.

KRL ekonomi non-AC lah yang banyak dipilih oleh warga yang ada di Bogor atau Depok yang ingin bepergian ke Jakarta. Alasan ongkosnya lebih murah yang menjadi pertimbangan para penumpang kereta api jenis ini, termasuk mahasiswa yang bedompet tipis.

Saya mendapatkan banyak pelajaran dan hikmah ketika bepergian dengan KRL kelas ekonomi dengan ongkos murah ini.

Ternyata kehidupan real masyarakat bawah atau ’wong cilik’ dengan jelas bisa disaksikan dalam kereta api.

Miniatur masyarakat Indonesia yang mayoritas kalangan ekonomi lemah akan terlihat jelas terlihat di depan mata.

Kehidupan mereka seolah kontras dan nampak ironis dengan julukan Jakarta sebagai kota metropolitan dengan kemegahan gedung-gedung bertingkat dan banyaknya konglomerat kaya berkendaraan mewah  seperti Mercedez Benz atau BMW keluaran terbaru.

Kalangan wong cilik bukan hanya menjadikan kereta api jenis ini sebagai alternatif alat transportasi murah ketika bepergian. Beberapa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah pun banyak yang menjadikan keberadaan KRL ini sebagai ladang mencari rejeki.

Miniatur orang-orang miskin yang berusaha mempertahankan hidup bisa dilihat dengan jelas di kereta ini. Mulai dari para pengamen jalanan yang menyanyi sebisanya untuk mendapatkan upah uang recehan, pedagang asongan, orang cacat peminta-minta, sampai pencopet  bisa kita temukan di kereta ini.

Tentunya para pedagang kecil, pengamen dan peminta-minta itu adalah mereka yang kurang beruntung secara ekonomi dan tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Para pedagang kecil, silih berganti hilir mudik menawarkan barang dagangannya kepada para penumpang. Dalam lima menit sahaja, bisa kita temukan lebih dari lima orang pedagang asongan dengan jenis dagangan yang berbeda-beda menawarkan jualannya.

Ada yang berteriak-teriak ”yang haus-yang haus, air minum aqua botol hanya 500 rupiah”. Mereka bersahutan dengan pedagang lainnya yang menawarkan, lontong, tahu, kacang dan jenis-jenis makanan kecil lainnya dengan harga terjangkau.

Ada juga yang kreatif menawarkan dompet, jepit, kaus kaki bahkan kalkulator. Mungkin mereka paham bahwa salah satu kelompok pengguna jasa kereta ini adalah para mahasiswa dan pelajar dari keluarga ekonomi pas-pasan.

Kehidupan pedagang kecil dengan omset kurang dari seratus ribu rupiah itu, bersaing dengan para pengamen yang menyanyikan lagu-lagu Indonesia yang mereka hapal dengan harapan mendapatkan imbalan uang recehan dari para penumpang kereta.

Ditambah lagi kerasnya kehidupan para penyandang cacat yang sama-sama ikut mengais rezeki meminta uluran sedeqah dari para penumpang kereta api jenis ini. Mereka terpaksa mengemis dengan ’menjual’ keterbatasan pisiknya demi belas kasihan para pemberi di KRL ekonomi karena dilarang mengemis pada KRL express ber-AC.

KRL ekonomi seolah menjadi wadah bagi semua kalangan terutama masyarakat kecil untuk bertemu dan bersosialisasi.

KRL tidak hanya tempat jual beli para kelompok wong cilik ini, tetapi juga sebagai pembelajaran bagi penumpang untuk peka dan bersimpati dengan nasib sesamanya.

KRL juga menjadi pembelajaran bagi penumpangnya untuk mempunyai sipat sabar, toleran dan peduli dengan orang lain. Sabar karena selain harus bergelut dengan panas suhu udara tanpa AC dan berjubelnya penumpang, KRL ekonomi juga terkadang lambat dan sering berhenti.

Harus toleran dan peduli karena melihat perjuangan masyarakat ’wong cilik’ yang ternyata berjuang lebih keras dan susah dalam mempertahankan kehidupan. Bahkan saking kerasnya kehidupan di KRL ini, para penumpang pun harus sigap dan hati-hati dengan aksi para pencopet bertangan jahil.

Bagi saya,  sungguh melakukan perjalanan ke Jakarta dengan KRL seperti memotret perjalanan hidup manusia.

Dalam perjalanan hidup manusia itu ternyata ada kelembutan, kerasnya persaingan ekonomi, kerja keras mencari uang, kepasrahan, harapan dan kepedulian.

Potret kehidupan yang keras, berliku dan harus penuh kesabaran tentunya tidak akan terlihat bila menggunakan KRL Express ber-AC dengan penumpangnya yang kelihatan lebih seragam dengan pakaian yang bersih dan tidak terganggu dengan hilir mudik para pengamen, pedagang asongan, pencopet atau bahkan pengemis.

Nampaknya, para pejabat negara atau para konglomerat kaya perlu belajar dari potret kehidupan orang-orang kecil di KRL tadi.

Kalau pemerintah sering bersuara lantang bahwa tingkat kemajuan ekonomi Indonesia termasuk maju dan pengangguran bisa diatasi, maka alangkah bijaknya jika mereka sekali-sekali mencoba bepergian dengan KRL kelas ekonomi.

Dengan pengalaman naik KRL, semoga pejabat dan orang kaya terketuk hatinya untuk bersama-sama berusaha meningkatkan tarap hidup kelompok ekonomi lemah ini.

Saya tidak tahu harus darimana memperbaiki situasi di KRL demi kenyaman penumpangnya tapi sekaligus mencarikan jalan keluar bagi para pengais rezeki kelompok ’wong cilik’ yang diuntungkan dari keberadaan KRL jenis ini.

Jika para pedagang asongan, pengamen dan pengemis dilarang menaiki KRL, disatu sisi memang membuat penumpang lebih nyaman. Tapi disisi lain tempat mencari nafkah bagi kelompok ekonomi lemah akan tergusur.

Adalah Pekerjaan Rumah (PR) bagi pejabat yang berkepentingan untuk mencari solusinya. Jika memang terpaksa para pedagang itu harus dilarang, maka akan bijak jika pemerintah memberikan alternatif tempat dimana seharusnya mereka berjualan.

Mudah-mudahan solusinya bisa segera ditemukan, sehingga suasana nyaman bepergian dengan kereta api seperti yang dibayangkan anak-anak ketika menyanyikan lagu ”Naik Kereta Api” bisa segera terwujud tanpa merugikan ’wong cilik’ yang kehilangan tempat mencari nafkah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: