Yogya: Kembali Bersepeda Demi Lingkungan

BH, 08/07/09

Siapa tak kenal Yogyakarta atau Yogya? Kota ini merupakan salah satu kota tujuan wisata terkenal di Indonesia. Jalan Malioboro, budaya makan lesehan, biaya hidup yang murah dan sebutan kota pelajar telah menjadi ikon bagi kota ini.

Sejak abad 18 dan puncaknya di tahun 1970-an sampai awal 1990-an, kota ini juga terkenal dengan budaya bersepeda ”onthel” (sepeda unta). Kalau pergi ke Yogya di era itu, anda akan disuguhi pemandangan hilir mudik orang bersepeda di jalan-jalan utama di Yogyakarta. Tua-muda, kaya-miskin, pejabat ataupun rakyat tanpa sungkan akan mengayuh sepeda ketika bepergian. Ke sekolah, ke kantor, ke pasar ataupun hanya sekedar jalan-jalan santai di sore hari, masyarakat Yogya lebih senang menggunakan sepeda.

Tapi cobalah anda pergi ke Yogya sekarang, pemandangan indah dan suasana teduh melihat orang naik sepeda sudah digantikan dengan kemacetan dan polusi udara para pengendara sepeda motor. Pengalaman seperti inilah yang saya lihat dan rasakan ketika minggu lepas bepergian ke Yogya.

Keramahan penduduk bersepeda yang menyapa di jalanan sambil melambaikan tangan, telah tergantikan oleh bisingnya suara klakson (horn) dan berebut jalan ingin saling mendahului para pengendara sepeda motor.

Sambil makan Gudeg lesehan dipinggir jalan Malioboro, pikiran saya dipenuhi dengan pertanyaan: mengapa kebiasaan naik sepeda itu seakan hilang dari budaya masyarakat Yogya? Dampak negatif apa yang timbul? Dan  bagaimana cara mengembalikan budaya yang ramah lingkungan itu?

Semakin meningkatnya ekonomi masyarakat, kurangnya sarana jalan khusus untuk jalur sepeda dan banyaknya pendatang dari kota lain menjadi alasan utama terpinggirkannya budaya naik sepeda masyarakat Yogyakarta.

Memangnya, daya beli masyarakat (ekonomi) yang meningkat berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mereka untuk membeli sepeda motor. Dulu, sepeda motor adalah barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu, tetapi sekarang tidak. Bahkan mahasiswa dan anak-anak sekolahpun merasa lebih ’gaya’ jika bersepeda motor. Anak-anak muda merasa menjadi ’kampungan’ atau ’ndeso’ jika bepergian dengan sepeda onthel.

Globalisasi ekonomi dan gaya hidup konsumerisme telah mendorong masyarakat untuk lebih memilih sepeda motor daripada sepeda onthel. Tidak hanya sebagai alat transportasi yang lebih cepat tapi juga simbol ’modernisme’.

Ketidakpedulian pemerintah menyediakan jalur khusus bagi pengendara sepeda onthel juga menjadi faktor kurang berminatnya masyarakat mengayuh sepeda ketika bepergian. Pengendara sepeda onthel terus terpinggirkan karena merasa kurang aman (safe) harus berebut jalan dengan pengendara bis, mobil pribadi dan sepeda motor.

Dalam catatan pemerintah Yogya, banyaknya pendatang terutama mahasiswa dari kota lain juga berpengaruh terhadap meningkatnya pemakaian sepeda motor sebagai alat transportasi. Hampir lapan puluh peratus masyarakat Yogya sekarang memilih sepeda motor sebagai alat bepergian.

Tentunya hilangnya budaya bersepeda onthel yang digantikan dengan sepeda motor mempunyai dampak negatif bagi masyarakat Yogya.

Polusi udara terus meningkat di kota ini. Pencemaran lingkungan ini menjadikan suasana kota Yogya semakin panas, bising dan semerawut. Wajah kota yang dulunya terlihat tertib, aman dan santai seolah hilang tergantikan dengan tidak tertibnya pengendara sepeda motor, dan bisingnya klakson yang dibunyikan.

Tentunya hal ini tidak hanya mempengaruhi kenyamanan penduduk dan pelancong yang ingin datang ke Yogya, tapi juga sedikit-demi sedikit akan merubah budaya dan tata nilai masyarakat Yogya.

Masyarakat Yogya khususnya dan Jawa pada umumnya yang dulunya dikenal dengan budaya alon-alon waton kelakon (biar lambat asal selamat) dan ramah seolah berubah menjadi masyarakat yang tidak sabaran, terburu-buru dan akhirnya cepat marah dan kurang toleran terhadap orang lain.

Lihatlah keterburu-buruan (grasa grusu) orang berkendara sepeda motor sambil membunyikan klakson yang keras menunjukkan hilangnya identitas kesabaran dan keramahan masyarakat Yogya. Budaya egois, ingin menang sendiri dan tidak toleran terhadap sesama pengguna jalan seolah menjadi pemandangan rutin dijalanan kota Yogya. Artinya, budaya konsumerisme dan egoisme sebagai ciri masyarakat metropolis dengan slogan think fast and move fast seolah menggantikan semboyan alon-alon waton kelakon tadi.

Masalah ini harus segera dicarikan jalan keluar dan solusinya terutama oleh pemerintahan daerah Yogyakarta. Adalah sudah waktunya bagi masyarakat Yogya untuk merevitalisasi dan berkampen untuk kembali menggunakan sepeda onthel sebagai ikon kota Yogya yang hilang ini.

Memangnya sudah ada usaha yang dilakukan oleh beberapa kalangan masyarakat Yogya yang peduli terhadap permasalahan ini. Diantaranya, pada tahun 2002 berdiri kelompok yang disebut dengan Yogya Onthel Community (YOC). Kelompok ini bertujuan untuk mengkampanyekan kembali bersepeda onthel bagi masyarakat Yogya.

Pemerintah Yogya juga sudah berinisiatif dengan menghimbau Pegawai Negeri Sipil (pejabat pemerintah) untuk menggunakan sepeda onthel ketika pergi ke tempat kerja lewat surat edaran  Wali Kota Yogyakarta  Nomor 656/30/SE/2008.

Sayang, himbauan pemerintah dan ajakan kelompok pecinta sepeda onthel untuk kembali naik sepeda ketika bepergian kurang mendapat perhatian dan kurang direspon oleh masyarakat Yogya pada umumnya. Sampai saat ini, sepeda motor tetap menjadi ”raja jalanan” di jalan-jalan utama di Yogyakarta.

Karenanya bertepatan dengan hari lingkungan hidup yang baru saja berlalu bulan lepas, kampen untuk membudayakan naik sepeda mutlak dilakukan kembali oleh pemerintahan Yogyakarta, lembaga swadaya masyarakat (NGO) dan juga tokoh-tokoh masyarakat pencinta lingkungan di kota ini.

Kampen bahwa budaya bersepeda onthel itu penting dan banyak manfaatnya harus terus disosialisasikan oleh pemerintah.

Memangnya, budaya bersepeda itu mempunyai manfaat yang besar tidak hanya bagi penggunanya tetapi juga bagi kenyamanan kota dan kelestarian lingkungan. Selain menjadi sarana olah raga untuk kesehatan pengendaranya, bersepeda juga merupakan jenis transportasi yang paling murah.

Bersepeda tidak perlu membeli bensin dan tidak perlu membayar mahal uang parkir dan itu berarti berhemat, juga secara tidak langsung ikut menjaga kelestarian lingkungan dari polusi udara yang membahayakan. Slogan bersepeda adalah sehat, murah dan bebas polusi perlu terus di kampenkan ke seluruh masyarakat Yogya, baik itu melalui media elektronik maupun cetak.

Tentunya selain dengan kampen slogan, pemerintah Yogyakarta harus berinisiatif membangun jalur khusus di jalan-jalan utama bagi pengendara sepeda onthel. Tanpa jalur khusus yang disediakan untuk pengguna sepeda ini, jangan berharap kampen slogan kembali bersepeda akan berhasil.

Sangat disayangkan, bahwa kampen para calon presiden yang baru saja berakhir kurang menyentuh isu-isu sekitaran terutama ketika mereka berkampen di kota Yogya.

Jika tidak ada inisiatif dari pemerintah dan masyarakat Yogya akan perlunya kembali membudayakan naik sepeda, maka semakin lama budaya hidup sehat bersepeda yang telah menjadi ikon masyarakat Yogya akan tinggal kenangan.

Kesemerawutan dan ketidaknyamanan berjalan-jalan di kota Yogya akan berpengaruh signifikan terhadap tidak diminatinya kota budaya ini oleh para pelancong baik domestik maupun internasional. Dan itu artinya secara ekonomis pun merugikan masyarakat Yogya.

Nampaknya, penyediaan jalur khusus sepeda dan kampen menghidupkan budaya bersepeda juga tidak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan kota Yogyakarta tapi juga bagi pemerintahan kota-kota lain di Indonesia.

Jika sarana telah disediakan dan kampen hidup sehat lewat sepeda terus didengungkan oleh pemerintah, saya yakin masyarakat akan dengan senang hati kembali menjadikan sepeda onthel sebagai alternatif transportasi bepergian. Bukankah bersepeda memangnya lebih menyehatkan dan ekonomis.

Kita tunggu, bisakah kota Yogyakarta yang terkenal dengan kota budaya itu mampu mempelopori budaya bersepeda dan menjadi contoh bagi kota-kota lainnya di Indonesia bahkan di Asia Tenggara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: