Suramadu: Ikon Baru Indonesia atau Kampen Politik Penguasa?

BH, 17/06/09

Tanggal 10 Juni lepas, bangsa Indonesia khususnya warga Jawa Timur menjadi saksi lahirnya satu lagi ikon Indonesia iaitu diresmikannya jembatan Suramadu.

Jembatan yang menghubungkan kota Surabaya dan pulau Madura (disingkat Suramadu) nampaknya akan melengkapi ikon lain Indonesia seperti Candi Borobudur (Magelang) dan Tugu Monas (Jakarta).

Disebut-sebut sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara dengan panjang 5.438 meter dan lebar 30 meter, jembatan ini menghabisakan biaya sebesar 5,7 triliun rupiah.

Sayangnya, kebanggaan lahirnya ikon baru Indonesia itu seolah ternoda oleh isu-isu politik yang kurang menyenangkan dan menjadi tengkarah.

Memangnya, peresmian jembatan yang dilakukan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu tepat satu bulan sebelum pilihan presiden.

Para pengamat politik di Indonesia akhirnya ramai menghubungkan peresmian jembatan itu dengan usaha Dr. Yudhoyono menambahkan image bahwa pemerintahannya berhasil menyelesaikan pembangunan jembatan prestisius yang merupakan salah satu landmark Indonesia dan menarik pengundi untuk memilihnya kembali sebagai presiden.

Kita setuju bahwa betul jembatan itu selesai pada masa pemerintahan Yudhoyono. Tetapinya, harus diingat bahwa proses pembuatan jembatan itu memakan waktu sangat panjang. Bahkan ide pertamanya sudah didengungkan oleh Mochamad Noer pada tahun 1950-an ketika menjabat wakil bupati Bangkalan.

Jasa Soeharto, Habiebie, Gus Dur dan terutama Megawati yang memulai pembangunan pisik jembatan itu pada tahun 2003 tidak bisa dilupakan begitu saja. Artinya, proses pembuatan jembatan itu memiliki sejarah panjang dengan hampir semua mantan presiden Indonesia pernah terlibat dalam prosesnya bukan hasil satu orang presiden sahaja.

Dijadikannya jembatan Suramadu sebagai sarana kampen untuk pilihan presiden sangat jelas terlihat. Pada hari peresmian, nampak spanduk dan baliho diatas jembatan tersebut yang menampilkan foto bersama Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono, Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan wakilnya, Bupati Bangkalan Fuad Amin, dan wakilnya. Anehnya photo Jusuf Kalla, wakil presiden yang akan menjadi pesaing Yudhoyono pada pilihan raya bulan hadapan tidak tercantum?

Menurut beberapa media di Indonesia disebutkan bahwa tim sukses SBY membagi-bagikan buku bertajuk Harus Bisa! Seni Memimpin Jilid II Ala SBY pada acara peresmian tersebut. Buku ini dengan jelas menunjukkan bagaimana strategi pembangunan SBY kalau dirinya dipilih kembali untuk kedua kalinya menjadi presiden periode 2009-2014.

Terlepas dari tengkarah politik disebalik peresmian jembatan Suramadu itu, yang perlu diperhatikan adalah sejauhmana dampak positif dan negative jembatan itu bagi masyarakat Jawa Timur terutama suku Madura?

Presiden SBY dalam pidato peresmian jembatan tersebut menyebutkan harapannya agar jembatan itu lebih banyak manfaatnya dan tidak menimbulkan pengaruh buruk bagi masyarakat Madura.

SBY mengatakan: “”Dibangunnya jembatan Suramadu ini, masyarakat Madura memiliki tingkat perekonomian yang lebih maju…dengan catatan, kemajuan ini jangan sampai mengganggu karakter dan sifat masyarakat Madura yang religius, islami, yang penuh dengan adat dan tradisi yang mulia.”

Peringatan SBY ini tentunya sangatlah tepat. Sebagaimana pembangunan apapun selalu mempunyai sisi positif dan negatifnya. Karenanya masyarakat justru harus bisa mengambil lebih banyak ‘madu’ (keuntungan) dan meminimalisir ‘racun’ (kerugian) dari pembangunan jembatan Suramadu ini.

Keuntungan kemajuan ekonomi bagi masyarakat Madura dengan dibangunnya infrastructure jembatan itu harus dimaksimalkan. Waktu tempuh antara Madura dan Surabaya yang lebih mudah dan cepat perlu dimanfaatkan oleh masyarakat Madura dari sisi ekonomi.

Pengiriman dan penjualan produk dan karya masyarakat Madura untuk dijual ke sentra ekonomi di Surabaya bisa ditingkatkan dengan dibangunnya jembatan ini.

Begitu juga kemudahan dan kecepatan akses antara Madura dan Surabaya harus dijadikan pendorong bagi kedua masyarakat tersebut untuk saling berhubungan demi kemajuan dan peningkatan ekonomi kedua belah pihak.

Hanya saja, pembangunan jembatan ini juga perlu disadari oleh masyarakat Madura akan sisi negatifnya. Terutama pengaruh budaya kota bagi nilai-nilai tradisional masyarakat Madura.

Masyarakat Madura adalah suku yang cukup unik di Indonesia. Suku ini sering disalahfahami sebagai suku yang keras. Simbol senjata khas celurit dan ‘carok’ (perkelahian massal menggunakan senjata tajam) seolah menjadi stereotype negative masyarakat suku ini.

Memangnya suku Madura sangat keras kalau membela kebenaran dan harga dirinya. Karenanya dalam masyarakat Madura dikenal dengan ungkapan Ango’an Poteya Tolang, Etembhang Poteya Mata (kematian lebih dikehendaki daripada harus hidup dengan menanggung perasaan malu). Artinya, demi harga diri mereka siap membela sampai darah penghabisan.

Dibalik sikapnya yang keras, masyarakat Madura juga terkenal sebagai masyarakat yang santun dan sangat hormat terhadap pendatang atau kelompok lain. Ungkapan oreng dadi taretan (orang lain yang tidak punya hubungan apa-apa akan diperlakukan layaknya saudara sendiri) sebagai buktinya. Sayang, budaya santun, hormat dan menghargai orang lain sebagai karakteristik suku Madura ini kurang dikenal dibandingkan dengan budaya kerasnya.

Karenanya, terhubungnya jembatan antara Surabaya dan Madura ini diharapkan bisa meningkatkan saling memahami dan menghargai antara suku Madura yang mempunyai karakteristik unik dengan masyarakat lainnya di Surabaya.

Pemahaman antar etnik  memangnya sangat penting bagi keharmonisan bangsa yang multicultural seperti Indonesia.

Terhubungnya jembatan ini, berarti juga bahwa masyarakat Madura yang mempunyai karakteristik relegius (islami) dan memegang teguh nilai-nilai moral agama terhubung dengan pusat kapitalisme ekonomi (Surabaya) dengan berbagai karakteristik metropolis lainnya.

Sebagaimana pusat ekonomi kapitalis lainnya di kota-kota besar, tentunya pengaruh negative budaya konsumerisme sebuah kota besar akan lebih cepat mempengaruhi masyarakat Madura.

Begitu juga pergaulan metropolis anak-anak muda kota besar secara tidak langsung akan dengan lebih cepat dicontoh oleh anak-anak muda di  Madura.

Ini artinya, masyarakat Madura terutama para tokoh dan agamawan harus mempersiapkan diri membentengi generasi muda mereka agar mempertahankan nilai-nilai tradisional yang dianut oleh suku ini.

Jangan sampai pembangunan jembatan yang ditujukan untuk meningkatkan kemakmuran dan kemajuan ekonomi masyarakat di pulau Madura justru merusak nilai-nilai budaya Madura yang religious islami itu.

Jika sisi positifnya lebih banyak tentunya pembangunan jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Madura ini bisa dijadikan contoh untuk pembangunan serupa di tempat lain di Indonesia.

Bukan tidak mungkin pembangunan jembatan di Selat Sunda yang menghubungkan antara pulau Jawa dan Pulau Sumatera bisa dipertimbangkan oleh pemerintah Indonesia di masa hadapan. Artinya, presiden Yudhoyono bisa mempertimbangkan pembangunan jembatan baru yang tidak dikaitkan dengan kempen pilihan presiden di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: