Mari Lestarikan Hutan dan Binatang

BH, 10/06/09

“Kalau kempen pilihan presiden hanya tiga minggu namun kempen penanaman sejuta pohon harus terus berlangsung sepanjang masa,”

(Dr. Yudhoyono)

Itulah kata-kata presiden Yudhoyono dalam pidatonya menyambut Hari Lingkungan Hidup dunia pada tanggal 5 Juni 2009.

Dalam peringatan hari lingkungan hidup yang bertepatan dengan masa kampen pilihan presiden di Indonesia ini, Yudhoyono mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk lebih serius memperhatikan masalah sekitaran.

Bagi Yudhoyono, berkampen untuk menyelamatkan lingkungan sekitaran lebih penting daripada berkampen untuk menjadi presiden. Karenanya, kampen untuk menyadarkan rakyat akan pentingnya alam sekitaran harus terus menerus selama manusia menempati bumi ini.

Yudhoyono nampaknya sadar bahwa sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Quran, manusialah yang biasanya membuat kerusakan di bumi ini. Artinya, selama manusia menghuni bumi ini, manusia harus selalu diingatkan agar tidak membuat kerusakan baik di daratan maupun dilautan.

Dalam konteks Indonesia, negara kepulauan dengan hutan-hutannya yang luas yang merupakan ‘paru-paru’ dunia, peringatan presiden Indonesia itu sangat penting dan signifikan.

Selain mengajak masyarakat menanam satu juta pohon dengan slogan ‘one man one tree’ tiga agenda lain penyelamatan alam sekitaran disebutkan Yudhoyono.

Pertama, masyarakat dunia dan terutama Indonesia harus terus merawat hutan, ladang gunung dan lautan.

Kedua, mengajak masyarakat untuk aktif secara bersama-sama memperbaiki hutan dan lingkungan yang sudah terlanjur rusak.

Ketiga,  mengajak semua lapiasan masyarakat di seluruh dunia untuk mengurangi emisi karbondioksida demi menyelamatkan bumi dari pemanasan global (global warming).

Penyelamatan hutan-hutan tropis di Indonesia memangnya perlu ditingkatkan oleh masyarakat.

Kerusakan hutan memangnya tidak hanya akan menyebabkan longsor dan banjir ketika musim hujan datang, tetapinya juga bisa menyebabkan habitat binatang dan hewan yang ada di dalamnya terganggu.

Peringatan dan kampen Yudhoyono untuk memelihara hutan nampaknya bukan tanpa alasan.

Beberapa bulan terakhir ini sering terjadi konflik antara manusia dan binatang yang disebabkan oleh rusaknya hutan sebagai habitat binatang.

Beberapa contoh penyerangan binatang seperti harimau dan gajah yang turun dari hutan menyerang penduduk merupakan bukti sudah parahnya kerusakan hutan dibeberapa tempat di Indonesia.

Di Aceh, kira-kira ada lapan orang yang tewas karena diserang harimau ketika sedang bercocok tanam di kebun dekat pinggiran hutan.

Kejadian yang sama terjadi di Jambi terutama di daerah Sungai Gelam. Pada bulan Maret lalu sahaja ada tujuh pembalak liar (perusak hutan) yang mati diterkam harimau.

Serangan harimau terhadap manusia tentunya bukan tanpa sebab. Hal ini bisa terjadi karena hutan, habitat harimau, diganggu oleh manusia. Para pemburu liar yang banyak menembak mati hewan kecil sebagai sumber makanan harimau bisa menyebabkan harimau turun dari hutan ke perumahan penduduk mencari makanan.

Tak heran kalau hewan ternak milik penduduk bahkan manusianya menjadi sasaran penyerangan harimau tersebut. Anehnya, masyarakat yang merasa jengkel dengan serangan harimau tersebut balik menyerang harimau dengan cara menjerat dan membunuhnya.

Hal ini tentunya sangat merugikan karena populasi harimau terutama jenis sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang langka dan dilindungi akan turut punah. Anak cucu kita tidak bisa mengenal lagi keindahan dan keunikan binatang ini nantinya.

Sebenarnya, manusialah yang harus sadar bahwa mereka adalah penyebab utamanya bukan binatang yang justeru menjadi korban pertama. Dalam kaitan inilah pesan pelestarian hutan yang di kampenkan Dr. Yudhoyono menemukan signifikansinya.

Konflik ‘perang’ antara manusia dan binatang terutama gajah, juga terjadi di provinsi Riau dan pulau Sumatera pada umumnya.

Departemen Kehutanan Indonesia mencatat ada lima puluh orang telah tewas karena konflik gajah di Sumatera sejak tahun 2002. Lebih dari seratus ekor gajah telah mati di bunuh karena konflik ini.

Tentunya penyerangan gajah terhadap kebun-kebun dan rumah penduduk dipinggir hutan disebabkan karena ulah manusia yang menjarah habitat gajah. Manusia tentunya jangan menyalahkan binatang seperti gajah yang tidak memiliki akal dan pikiran.

Karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia sebagai makhluk yang sempurna dengan akal dan pikiran justeru yang harus digunakan oleh manusia dalam menyelesaikan konflik dengan binatang ini dengan bijaksana.

Manusia harus pandai menggunakan ilmu pengetahauan dan kearifan sebagai manusia untuk mencari jawaban mengapa binatang itu menyerang mereka.

Dengan ilmu, seharusnya manusia mengerti bahwa seekor gajah memerlukan luas hutan sebanyak 400 hektara sebagai daerah jelajahnya. Artinya, jika hutan-hutan digunduli dan dirusak maka daerah jelajah gajah tersebut berkurang dan akhirnya menyerang rumah-rumah penduduk.

Konflik antara binatang dan manusia ini sebenarnya hanya merugikan manusia itu sendiri. Dalam masalah gajah misalkan, banyak masyarakat Indonesia yang belum tahu fungsi gajah bagi kelangsungan alam sekitaran terutama hutan.

Arnold F. Sitompul, pemerhati dan aktivis perlindungan gajah, menyebutkan paling sedikit ada tiga fungsi gajah bagi lingkungan sekitaran terutama hutan.

Pertama, gajah adalah binatang yang ’smart’ yang bisa dijadikan ukuran tentang baik tidaknya sebuah hutan. Artinya, kalau gajah masih merasa aman di hutan dan tidak turun ke kampung, menunjukkan bahwa hutan masih layak dihuni oleh hewan, bukan hanya gajah.

Kedua, dengan ukurannya yang besar, gajah juga bisa menjadi sumber penolong bagi binatang-binatang kecil lainnya di hutan dalam membukakan akses jalan.

Dan yang paling penting, gajah berfungsi sebagai binatang yang berfungsi sebagai penyebar biji tumbuhan yang dimakannya. Artinya, gajah adalah ’penyebar biji’ alamiah yang dimiliki hutan untuk menanam pohon-pohon spesias baru di alam yang tidak bisa digantikan oleh manusia.

Akhirnya, dalam memperingati hari lingkungan hidup ini, sudah sepantasnya manusia memikirkan kembali keberadaannya di muka bumi sebagai khalifah Tuhan. Bumi dan alam sekitaran yang diberikan oleh Allah tentunya harus terus dilestarikan.

Manusia yang hidup sekarang harus mengerti bahwa alam yang kita diami sekarang adalah pinjaman dari anak-anak dan cucu-cucu kita generasi selanjutnya.

Jika kita masih ingin melihat generasi yang akan datang hidup dengan nyaman di muka bumi ini maka tanggung jawab kitalah untuk menjaganya sekarang seperti diingatkan Dr. Yudhoyono diatas.

One Response to Mari Lestarikan Hutan dan Binatang

  1. Rini says:

    thx for sharing ur information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: