Pentingnya World Ocean Conference (WOC) Bagi Indonesia

BH, 27/05/09

Di tengah hiruk pikuk kampen politik para calon presiden di Indonesia, ada berita penting yang sedikit terlupakan yaitu tentang konferensi kelautan di Manado, Sulawesi Utara.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, 121 negara berkumpul di Indonesia mengadakan konferensi dunia tentang kelautan pada 11-15 Mei 2009. World Ocean Confrence (WOC) yang dibuka Presiden Yudhoyono ini berthema Climate Change Impacts to Ocean and the Role of Ocean to Climate Change.

Dari thema itu sangat jelas bahwa konferensi tingkat dunia ini bertujuan untuk membahas dua masalah pokok yaitu pengaruh perubahan iklim global terhadap laut dan fungsi laut dalam mengatasi pemanasan global.

Artinya antara laut dan pemanasan iklim global ada hubungan timbal balik.

Disatu sisi, karena terjadinya pemanasan global (global warming) bisa mengakibatkan pemutihan karang (coral bleaching), naiknya permukaan air laut dan terutama banyak terumbu karang di lautan yang rusak.

Padahal terumbu karang itu mempunyai peranan penting dalam ekosistem laut sebagai tempat, peneluran, pembesaran anak, dan sumber  makanan. Terumbu karang juga berfungsi untuk melindungi pantai dan pulau kecil  selain tentunya sebagai pusat wisata kelautan karena keindahannya.

Disisi lainnya, laut sebenarnya bisa membantu mengurangi pemanasan global dan karenanya harus dilestarikan. Laut juga tentunya merupakan sumber ekonomi yang penting bagi manusia.

Karena itu, kegiatan WOC ini merupakan kegiatan yang penting tidak hanya bagi kelangsungan pelestarian laut dan pengurangan pemanasan global, tapi juga bagi kelangsungan umat manusia di dunia ini.

Dari konfrensi ini diharapkan akan terwujud kesadaran masyarakat di seluruh dunia untuk bekerjasama memelihara dan menyelamatkan laut.

Dalam pidato pembukaan konferensi, presiden Indonesia Dr. Yudhoyono mengatakan:”Kita harus menghentikan meluasnya dan semakin cepatnya perusakan laut dan sumber daya perairan dunia. Kita harus melindunginya dari ulah manusia, eksploitasi yang berlebihan, dan dampak perubahan iklim.”

Yudhoyono lebih lanjut menjelaskan lapan masalah kelautan yang harus segera dicarikan solusinya iaitu: penangkapan ikan berlebih, eksploitasi berlebih, semakin banyaknya biota laut yang musnah, polusi, peningkatan permukaan air laut, peningkatan suhu laut, kerusakan terumbu karang, dan perubahan iklim.

Sebagai negara dengan luas lautan yang mencapai dua pertiga dari luas nusantara dan mempunyai garis laut terpanjang di dunia, tentunya kegiatan konfrensi WOC ini sangatlah penting bagi Indonesia.

Dengan  konfrensi ini Indonesia diingatkan untuk bisa menjadi pioneer dalam melestarikan laut. Dengan Manado Ocean Declaration (MOD) yang dihasilkan dari konfrensi ini, Indonesia diharapkan bisa mengajak dan memimpin masyarakat dunia menghentikan  praktek kejahatan perikanan dan pencemaran laut.

Memangnya kerjasama antara negara maju dan negara berkembang dalam melestarikan laut dan mencegah pemanasan global sangatlah diperlukan. Sudah banyak diketahui bahwa negara-negara maju merupakan negara yang paling banyak menyebabkan pemanasan global dengan emisi gas-nya.

Dengan ditandatanganinya 21 kesepakatan dalam deklarasi Manado diharapkan akan ada kesamaan visi antara negara-negara maju dan negara berkembang dalam menyelamatkan laut dan pemanasan global. Kesepakatan kesepuluh khususnya menyebutkan bahwa negara-negara maju diharapkan bisa memberi insentif terutama bantuan finansial kepada negara-negara berkembang.

Tentunya sebelum mengajak negara-negara lain adalah tugas bagi Indonesia untuk mempraktekan 21 butir kesepakatan itu di tanah air.

Konferensi ini seolah mengingatkan pemerintah Indonesia agar dalam mengeluarkan kebijakan pembangunan harus memperhatikan kelestarian dan pemberdayaan lautan.

Pemerintah Indonesia diharapkan kembali mengingat sejarah masa lalunya tentang bagaimana nenek moyang mereka begitu unggul dilautan.

Lagu kanak-kanak yang sampai sekarang masih populer di Indonesia menunjukkan bagaimana ketangguhan para nenek moyang negeri ini dalam melestarikan dan menjadikan laut sebagai sumber kehidupan.

Simaklah lagu kanak-kanak ciptaan Ibu Sud yang masih sering dinyanyikan di sekolah-sekolah tadika di Indonesia:
…nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

Lagu ini sungguh sangat heroik. Menjelaskan bagaimana nenek moyang bangsa Indonesia merupakan pelaut-pelaut ulung.

Cerita-cerita rakyat dari pelosok nusantara juga banyak menyebutkan tentang bagaimana leluhur mereka begitu tangguh dilautan. Makanya tak heran kalau tentara angkatan laut Indonesia mempunyai semboyan “Jales Veva Jaya Mahe yang berarti Di Laut Kita Jaya”.

Tentunya konfrensi WOC di Manado ini harus dijadikan momentum bagi para calon presiden Indonesia untuk kembali menengok laut sebagai prioritas pembangunan Indonesia ke depan.

Diharapkan presiden Indonesia terpilih nanti bisa terus mengupayakan laut sebagai salah satu focus pembangunan.

Dengan visi pembanguan yang berorientasi kelautan diharapkan Indonesia mampu berpartisifasi aktif dalam melestarikan laut dan mencegah bertambah parahnya pemanasan global di dunia.

Pembangunan dengan orientasi kelautan juga diharapkan mampu meningkatkan status ekonomi masyarakat terutama nelayan yang sekarang ini dianggap sebagai kelompok warga miskin.

Potensi laut yang sangat besar dari segi ekonomi perlu terus digali. Ini tentunya memerlukan dukungan kebijakan pemerintah yang pro-lautan.

Mudah-mudahan kampen salah satu calon presiden yang mengusung visi ekonomi kerakyatan yang akan memprioritaskan pembangunan untuk mengangkat ekonomi ‘wong cilik’ seperti petani, buruh dan nelayan bukan sekedar slogan.

Memangnya, jika melihat 65 peratus luas Indonesia yang merupakan laut, adalah seharusnya bagi Indonesia untuk memperhatikan potensi laut ini.

Peringatan novelis terkenal Pramoedya Ananta Toer, dalam salah satu karyanya Arus Balik, perlu didengar oleh calon-calon pemimpin Indonesia ke depan. Dalam buku itu Pak Pram menyebutkan bahwa bangsa Indonesia besar dari lautan dan pusat-pusat peradaban awal di nusantara terbentuk dari kerajaan-kerajaan pesisir dengan watak bahari masyarakatnya yang tegas, terbuka, kosmopolit, dan menggelora.

Jika peringatan dari konfrensi Manado itu tidak dipraktekan mulai dari sekarang, jangan salahkan alam seandainya pada tahun 2050 sebagain besar wilayah Jakarta seperti Ancol, Kapuk dan Tanjung Priok akan tenggelam seperti diingatkan oleh para peneliti.

Semoga saja para calon presiden yang sedang sibuk berkampen diketuk hatinya oleh hasil konferensi ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: