Pemberantasan Rasuah di Indonesia Mendapat Ujian

BH, 13/05/09

Di tengah meningkatnya suhu politik Indonesia yang diwarnai dengan intensifnya ‘silaturahim politik’ antara partai untuk mengusung calon presiden, masyarakat dikejutkan dengan berita ditangkapnya ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar oleh polis.

Tiap hari media cetak maupun elektronik lainnya di Indonesia dipenuhi dengan berita penangkapan ketua KPK. Masyarakatpun dengan antusias terus mengikuti berita besar ini. Di warung-warung kopi dan di kantor-kantor pemerintahan, public terus mendiskusikan kasus ini.

Antasari Azhar, diduga terlibat dalam pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, seorang direktur perusahaan Putra Rajawali Banjaran. Antasari ditetapkan oleh polis sebagai tersangka dan dalang pembunuhan tersebut.

Nasrudin ditembak mati dalam mobilnya oleh orang tak dikenal pada tanggal 14 Maret 2009 ketika pulang dari bermain golf di Lapangan Golf Modernland, Tangerang.

Penangkapan ketua KPK ini tentu saja menimbulkan tengkarah dan banyak pertanyaan di masyarakat.

Benarkah motif pembunuhan itu karena kisah ‘cinta segitiga’ antara Antasari-Nasrudin dan Rani Juliani (caddy golf), seperti dikatakan polis?

Apakah penangkapan ini murni kasus criminal atau ada konspirasi politik tingkat tinggi untuk melenyapkan Antasari dan menjatuhkan KPK yang dikenal gigih memberantas korupsi di Indonesia? Dan bagaimana implikasinya bagi institusi KPK dan pemberantasan rasuah di Indonesia kedepan?

Pertanyaan-pertanyaan diatas wajar berkembang di masyarakat karena selama ini Antasari dan KPK dianggap sebagai lembaga yang menjadi harapan terakhir bagi pemberantasan rasuah di Indonesia. Sebelum munculnya kasus ini, sosok Antasari dipandang sebagai wira pemberantasan rasuah bahkan banyak yang menjagokannya untuk menjadi calon wakil presiden masa depan.

Sejak diangkat menjadi ketua KPK pada tahun 2007, Antasari dan KPK telah menunjukkan prestasi yang luar biasa. KPK tanpa ragu menangkap pelaku rasuah tanpa pandang bulu dan menyeret mereka ke pengadilan.

Antasari dengan berani menangkap beberapa pejabat tinggi termasuk anggota parlemen (DPR) yang terlibat rasuah untuk diadili. Bahkan besan presiden Yudhoyono yaitu Aulia Pohan pun diseret ke pengadilan dengan dugaan terlibat rasuah di Bank Indonesia.

Dengan ketegasan dan prestasi mengungkap kasus rasuah di Indonesia, adalah wajar kalau Antasari dan KPK menjadi musuh bersama bagi para koruptor baik itu dari kalangan pengusaha ataupun pejabat.

Ditangkapnya Antasari yang diduga terlibat pembunuhan tersebut tentu saja menjadi ironi. Kalau selama ini Antasari dengan gigih menjebloskan tersangka rasuah ke bilik jail, sekarang seperti ditayangkan Televisi bisa dilihat bagaimana sang ketua KPK ini menggunakan baju seragam tahanan.

Tentu saja dibalik kesedihan isteri dan keluarga Antasari, banyak para koruptor yang belum dan sudah ditangkap justeru bertepuk tangan. Para koruptor yang pernah ditangkap KPK merasa dendamnya terbalaskan dengan ditahannya Antasari. Bagi koruptor yang belum tertangkap KPK, mereka merasa lega karena keberanian KPK mengusut kasus rasuah tentunya akan berkurang.

Motif sebenarnya dari pembunuhan ini masih terus diselidiki. Tetapi polis menduga bahwa pembunuhan ini dilatarbelakangi oleh ‘kisah asmara’ antara Antasari dan Rani Juliani yang merupakan isteri ketiga korban pembunuhan Nasrudin.

Memangnya kasus ini bagaikan kisah dalam sinetron atau film sahaja. Disebutkan polis bahwa Antasari pernah kepergok  sedang berada di hotel bersama Rani oleh suaminya Nasrudin. Agar Nasrudin tidak menyebarkannya ke public yang akan menjatuhkan kredibilitas Antasari dan KPK maka Nasrudin perlu dihilangkan. Demikian dugaan polis.

Memangnya sebagaimana pepatah orang tua yang bijak bahwa kesuksesan seseorang bisa jatuh karena ‘Tiga Ta’ (Tahta, Harta dan Wanita). Siapapun orangnya harus waspada terhadap godaan duniawi ini.

Banyak orang besar didunia ini yang jatuh karena wanita. Sebut saja Napoleon Bonaparte dan Julius Kaisar, dua-duanya jatuh dari tangga kekuasaan karena permasalahan asmara atau wanita.

Tetapi pertanyaannya benarkah sebodoh dan senaif itu sang ketua KPK dengan tega menyuruh membunuh orang hanya karena alasan asmara? Disinilah polis ditantang untuk membuktikan dan menyingkap apa motif sebenarnya dalam kasus ini.

Meskipun Antasari baru ditetapkan sebagai tersangka, belum terdakwa, tetapi berdasarkan undang-undang Dr. Yudhoyono telah mengeluarkan keputusan presiden memberhentikan sementara Antasari sebagai ketua KPK. Jika nantinya Antasari menjadi terdakwa maka berdasarkan undang-undang, ketua KPK harus diberhentikan secara tetap.

Pertanyaan selanjutnya bagaimanakah pengaruh kasus Antasari terhadap masa depan pemberantasan rasuah di Indonesia oleh KPK.

Tentunya nama baik KPK sedikit banyak tercoreng dengan kasus ketuanya yaitu Antasari, tetapinya masyarakat Indonesia berharap bahwa lembaga ini terus melanjutkan perjuangannya memberantas rasuah di Indonesia.

Meskipun banyak orang pesimis akan kelanjutan KPK karena ketuanya diduga terlibat kasus criminal, saya yakin bahwa KPK masih bisa diharapkan menjadi lembaga yang terus memperjuangkan diberantasnya rasuah.

Beberapa alasan bisa dikemukakan mengapa saya masih optimistis lembaga ini akan melanjutkan memerangi rasuah.

Pertama, kepemimpinan dalam lembaga ini bersipat kolektif kolegial. Artinya meskipun ketua umumnya sekarang dijadikan tersangka, empat ketua KPK yang ada bisa terus menjalankan kegiatan KPK mengungkap kasus-kasus rasuah di Indonesia.

Kedua, kasus yang menimpa Antasari bukanlah kasus korupsi tetapi lebih pada kasus criminal. Ini akan berbeda signifikan kalau Antasari sendiri terlibat kasus rasuah. Jika Antasari terlibat rasuah, maka kepercayaan masyarakat terhadap anggota KPK yang lainnya akan hilang. Tetapi karena kasus criminal maka meskipun nantinya Antasari divonis bersalah, anggota KPK yang lainnya masih bisa dipercaya oleh masyarakat.

Ketiga, kasus yang menimpa Antasari juga bersipat individual bukan bersipat institusional. Artinya meskipun betul bahwa Antasari adalah notabene ketua KPK tetapi harus dibedakan anatara Antasari sebagai individu dan Antasari sebagai ketua KPK. Masyarakat Indonesia nampaknya juga sudah cukup cerdas untuk membedakan mana kasus yang bersipat individu pribadi dan mana kasus yang melibatkan institusi sebuah lembaga.

Meskipun saya optimis bahwa KPK akan terus melanjutkan perjuangan gigih Antasari memberantas rasuah di Indonesia, tentunya kasus yang melibatkan ketua KPK ini akan berpengaruh terhadap psikologi para pegawai KPK.

Opini masyarakat dan media bahwa kasus Antasari ini merupakan konspirasi tinggi untuk melenyapkan KPK membuat anggota KPK yang lainnya takut menjadi sasaran berikutnya.

Memangnya seperti dikatakan isteri Antasari, Ida Laksmiwati, ketika diwawancara beberapa media, keluarganya banyak sekali mendapatkan ancaman termasuk pembunuhan karena keberanian Antasari mengungkap kasus-kasus rasuah besar.

Bagi Ida, penangkapan suaminya merupakan salah satu bentuk ancaman bagi keluarganya yang biasa mereka terima. Ida yakin suaminya tidak terlibat dalam pembunuhan Nasrudin.

Akhirnya, mudah-mudahan polis segera mengungkap apa  motif sebenarnya dibalik kasus yang menimpa Antasari ini. Jika memang betul kasus ini adalah kasus criminal semata dan Antasari terbukti terlibat maka Antasari tentunya harus dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Tetapi jika ternyata kasus ini hanya merupakan konspirasi besar untuk menjatuhkan KPK dan Antasari tidak terlibat dalam pembunuhan maka nama Antasari harus dibersihkan dan dipulihkan kembali.

Sambil menunggu proses penyelidikan oleh polis, saya berharap ketua dan anggota KPK yang lainnya terus melanjutkan ‘jihad’ mereka melawan rasuah di Indonesia. KPK harus berani menunjukkan kepada public bahwa kasus yang menimpa ketua umumnya tidak berpengaruh terhadap kinerja mereka. Kita tunggu akankah KPK membuat kejutan selanjutnya dengan mengungkap kasus-kasus rasuah besar lainnya? Semoga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: