Menimbang Tiga Pasangan Capres

BH, 20/05/09

Setelah terjadi lobby yang cukup intensif diantara partai-partai politik untuk berkoalisi, tiga pasangan calon presiden Indonesia resmi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta pada 16 Mei weekend kemarin.

Ketiga pasangan tersebut adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dengan tag slogan (JK-Win), Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (Mega-Pro) dan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY Berboedi).

Slogan JK-Win menunjukkan bahwa  pasangan ini siap untuk menang (Win), Mega-Pro sebagai komunikasi politik untuk  menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan calon presiden yang Pro-Rakyat dan SBY-Berboedi memberikan pesan bahwa pasangan ini adalah calon presiden yang arief dan berakhlak elok untuk menarik simpati rakyat memilihnya.

Setelah resmi mendeklarasikan dan mencalonkan diri menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden, pertanyaan selanjutnya siapa diantara mereka yang lebih berpeluang untuk menjadi presiden Indonesia lima tahun ke depan (2009-2014)?

JK-Win

Pasangan ini adalah pasangan yang paling pertama mendeklarasikan diri sebagai rekan gading yang siap bertarung memenangkan pilihan presiden. Ketika SBY dan Megawati masih mencari pasangan siapa rekan gadingnya, Jusuf Kalla dan Wiranto dengan cepat dan tegas mendeklarasikan diri sebagai pasangan.

Dengan kampen ‘lebih cepat lebih baik’ pasangan ini ingin memberikan pesan moral bahwa jika terpilih nanti mereka akan bertindak cepat dalam mengambil segala keputusan untuk kepentingan rakyat. Slogan ‘lebih cepat’ nampaknya juga merupakan sindiran kritik atas kepemimpinan Yudhoyono yang dianggap selalu ragu (teragak-agak) dalam mengambil keputusan.

Kelebihan cepat dan tegas dalam membuat keputusan dan menjalankan program pemerintahan nampak melekat dalam sosok pasangan ini. Jusuf Kalla dengan latarbelakang pengusaha dan berasal dari Bugis memangnya terbiasa membuat keputusan cepat dalam urusan bisnis. Begitu juga, Wiranto sebagai mantan panglima memang terbiasa membuat keputusan cepat dan tepat.

Dari sudut pandang kombinasi sipil-militer, pasangan ini dianggap pasangan yang ideal karena merepresentasikan hal itu. Tidak bisa dinafikan bahwa realitas politik Indonesia masih menginginkan kombinasi sipil-militer untuk memimpin negara ini.

Kelebihan lainnya adalah pasangan JK-Win juga merepresentasikan gandingan Luar Jawa-Jawa. JK yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan mempunyai keuntungan politik bisa menarik pemilih yang berasal dari kawasan Indonesia bagian Timur. Sementara Wiranto berpotensi menarik pemilih dari pulau Jawa.

Bukan tidak mungkin dukungan bulat akan didapat oleh pasangan ini dari pemilih di luar pulau Jawa. Meskipun Megawati mempunyai aliran darah Bali dari ibunya, tapi sosok Megawati- Prabowo sangat identik dengan pasangan dari pulau Jawa.

Kekurangan pasangan JK-Win adalah mesin politik yang mengusungnya yaitu partai Golkar dan Hanura bukanlah partai politik yang memenangkan pemilu tahun ini. Pasangan ini hanya didukung oleh kekuatan 18,22 peratus suara nasional dan 22,32 peratus kursi di parlemen.

Pasangan JK-Win juga harus bisa meyakinkah rakyat dan kalangan dunia internasional bahwa Wiranto benar-benar bersih dari tuduhan pelanggaran Hak Asasi Manusia ketika menjabat menjadi panglima tentara.

Mega-Pro

Pasangan ini mempunyai kelebihan sebagai calon presiden dan wakil presiden yang dianggap pro-rakyat kecil (wong cilik). Partai pengusungnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerindra identik dengan partai pembela kaum petani, nelayan dan buruh.

Prabowo dianggap akan mengusung ekonomi kerakyatan yang pro rakyat kecil dan tidak setuju dengan ekonomi neoliberal yang identik dengan pasar bebas. Ekonomi kerakyatan yang dijanjikan oleh pasangan ini juga secara tidak langsung mengkritik Dr. Yudhoyono yang mengambil rekan gading dari kalangan ekonom Prof. Dr. Boediono yang dituduh sebagai tokoh pendukung kapitalisme dan neoliberalisme.

Pasangan Megawati-Prabowo ini juga merepresentasikan kombinasi sipil-militer. Prabowo adalah sosok militer yang tegas dan berprestasi elok ketika masih menjadi tentara.

Prabowo yang merupakan calon termuda diantara calon-calon yang bertanding juga merupakan kelebihan pasangan ini. Hal ini ditambah dengan sosok Megawati yang merupakan satu-satunya calon yang mewakili kelompok perempuan.

Hanya sahaja Megawati dianggap sosok yang tidak berhasil ketika pernah menjabat presiden Indonesia sebelumnya. Begitu juga tuduhan keterlibatan Prabowo dalam kerusuhan Mei 1998 di Jakarta akan mempengaruhi  popularitas Prabowo terutama dimata dunia internasional.

Pasangan ini juga mempunyai kekurangan dukungan politik terutama dari pemilih di Indonesia bagian Timur. Dukungan partai politik bagi pasangan ini juga tidak terlalu besar.  Pasangan ini berdasarkan data pilihan anggota parlemen bulan lalu hanya mendapat dukungan 18,74 peratus suara sah secara nasional dan 21,60 peratus dukungan kursi di parlemen.

SBY-Berboedi

Sebagai incumbent, SBY dipandang sebagai pasangan yang paling populer untuk memenangkan pilihan raya tahun ini. Karenanya SBY dengan percaya diri memilih Boediono yang bukan berasal dari partai politik untuk menjadi rekan gandingannya.

Kemenangan Partai Demokrat pada pilihan parlemen menunjukkan bahwa SBY masih mempunyai dukungan besar dari rakyat Indonesia.

Apalagi SBY berhasil mendapatkan dukungan dari partai-partai politik lainnya seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan partai-partai kecil lainnnya. Jumlah dukungannya sangatlah besar yaitu  mencapai 51,72 peratus suara rakyat secara nasional dan 51,72 peratus suara kursi di parlemen.

Pemerintahan SBY juga dianggap oleh rakyat cukup berhasil. Keberhasilan SBY menjaga stabilitas keamanan dan ekonomi Indonesia  merupakan modal politik yang tinggi bagi pasangan ini untuk kembali menang dalam pilihan presiden.

Beberapa lembaga survey di Indonesia juga masih menempatkan SBY sebagai calon presiden yang mempunyai tingkat keterpilihan (electability) paling tinggi diantara calon-calon lainnya.

Hanya sahaja SBY dan partainya dianggap terlalu percaya diri akan dengan mudah memenangkan pilihan presiden tahun ini. Pemilihan Boediono yang bukan berasal dari kalangan politisi dianggap sebagai ‘blunder politics’ SBY.

Pemilihan Boediono juga banyak dikritik. Bahkan PKS, PAN dan PPP meskipun pada akhirnya mendukung, mula-mulanya kecewa dengan pilihan SBY terhadap Boediono. Boediono dianggap sebagai tokoh yang terlalu pro-IMF (International Monetary Fund) dan terlalu mengusung ekonomi neoliberal yang kurang cocok bagi ekonomi Indonesia.

Pemilihan Boediono juga merugikan bagi SBY karena ini berarti pasangan SBY-Boediono tidak merepresentasikan kombinasi Jawa-Luar Jawa. Kombinasi pasangan Jawa-Jawa  bahkan kedua-duanya berasal dari Jawa Timur nampaknya disadari oleh SBY. Tak heran kalau SBY mendeklarasikan pencalonannya di Bandung Jawa Barat untuk menarik simpati pemilih dari suku Sunda yang cukup besar populasinya di Jawa Barat.

Hemat Saya

Tentu sahaja masing-masing pasangan mempunyai kelebihan dan kekurangannya seperti telah dibahas diatas. Nampaknya pilihan presiden tahun akan berlangsung secara ketat dan tidak mudah untuk menduga siapa pemenangnya.

Meskipin beberapa lembaga survey menyebutkan SBY adalah calon yang paling unggul, saya berpendapat pilihan presiden tahun ini tidaklah mudah bagi SBY. Ketiga pasangan calon diatas mempunyai kelebihan masing-masing sehingga susah bagi SBY untuk memenangkannya dalam satu kali putaran.

Jika SBY tidak bisa mendapatkan dukungan 51 peratus pada pilihan tanggal 8 July nanti, bisa jadi harus ada pilihan presiden putaran kedua pada 9 September.

Seandainya pasangan SBY-Boediono dan Jusuf Kalla-Wiranto masuk ke pusingan kedua, bukan tidak mungkin pasangan Megawati-Prabowo akan mendukung JK-Win. Ini artinya pasangan SBY akan mendapatkan tantangan yang berat untuk memenangkan pilihan presiden.

Akhirnya semuanya akan diserahkan kepada rakyat Indonesia siapa yang akan mereka percayai untuk menjadi presiden dan wakil presiden periode 2009-2014. Akankah SBY dengan mudah mengalahkan para pesaingnya seperti diprediksi oleh banyak lembaga survey?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: