Tengkarah ‘Brain Drain’ di Indonesia

BH, 29/04/09

Minggu ini saya mendapatkan dua buah kiriman e-mail dari teman lama waktu masih di Junior College. Uniknya dua isi e-mail itu hampir sama matlamatnya yaitu mengajak saya untuk bekerja atau berkarier di luar Indonesia. Menurut mereka, berkarier di luar Indonesia banyak keuntungannya terutama dari sisi ekonomi.

Dua teman saya itu memangnya sekarang bekerja sebagai pensyarah di luar negeri. Mereka melanjutkan berkarier dan tidak  pulang ke Indonesia setelah menamatkan sekolah PhD di luar negara.

Menjawab e-mail tersebut sayapun bimbang, apakah saya harus mengikuti jejak mereka meninggalkan Indonesia demi menggapai keuntungan ekonomi karena salary dan fasilitas yang jauh lebih baik akan saya terima atau saya tetap tinggal di tanah air mengabdikan ilmu yang sudah saya dapatkan untuk saya share dengan mahasiswa-mahasiswa saya di kampus.

Kebimbangan ini nampaknya bukan hanya terjadi pada saya seorang tapi juga banyak mahasiswa-mahasiswa Indonesia lain yang sekarang sedang study di luar Indonesia.

Memangnya, akhir-akhir ini anak-anak Indonesia berprestasi yang mendapatkan beasiswa untuk sekolah S2 (master) atau S3 (PhD) di luar negara banyak yang tidak pulang lagi ke Indonesia setelah lulus kuliah, tetapinya meneruskan bekerja dan tinggal di luar negara. Amerika, Kanada, Inggris, Jerman, Australia dan Singapore menjadi negara pilihan anak-anak bangsa ini untuk berkarir.

Istilah yang dikenal  untuk menyebut bibit-bibit unggul pelajar dan profesional yang tidak kembali ke tanah airnya dan memilih berkarier di luar negara disebut dengan ‘Brain Drain’.

Permasalahan ‘Brain Drain’ ini tentunya bukan hanya menjadi problem Indonesia, tetapi juga negara-negara berkembang pada umumnya.

William J. Carrington dan Enrica Detragiache (1998) dalam tulisannya How Big Is the Brain Drain? memperkirakan bahwa dari 61 negara berkembang, 54,3 peratus menjadikan Amerika Sarikat sebagai negara tujuan. Artinya banyak sekali para professional dari negara-negara berkembang yang ingin berimigrasi ke negara Paman Sam untuk menggapai ‘American Dream’.

Dari tulisan Carrington dan Detragiache di atas tampak jelas bahwa masalah ‘Brain Drain’ ini sudah lama terjadi. Di Indonesia sendiri, fenomena ini sudah dikhawatirkan sejak zaman Orde Baru Soeharto ketika banyaknya mahasiswa berprestasi yang dikirim belajar ke luar negara atas inisiatif B.J. Habiebie (ketika itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi), banyak yang tidak kembali lagi ke tanah air.

Hanya sahaja, di era globalisasi dan semakin majunya teknologi informasi ini, jumlah tenaga ahli dari Indonesia seperti dokter, insinyur, pensyarah, peneliti dan teknisi professional dari Indonesia yang berimigrasi ke negara-negara maju ini semakin bertambah.

Banyaknya tawaran beasiswa dari negara-negara maju untuk pelajar Indonesia berprestasi seperti dari Australian Development Scholarship (Australia), Full Bright (Amerika), British Chevening Awards (Inggris), Deutscher Akademischer Austauschdienst (Jerman) dan beasiswa dari negara-negara lainnya termasuk dari universitas-universitas di Singapore tentunya juga mempunyai andil dalam peningkatan jumlah pelajar Indonesia yang pindah dan menetap di negara pemberi beasiswa setelah kuliah mereka tamat.

Banyaknya tenaga ahli dan pelajar cerdas yang pindah dari Indonesia keluar negara tentunya merugikan bagi negara. Secara tidak langsung, negara sudah kehilangan sumber daya manusia berkualitas yang semestinya dimanfaatkan untuk pembangunan di Indonesia.

Melihat fenomena seperti itu beberapa pertanyaan perlu dicarikan jawabannya: mengapa jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun? Siapa yang harus disalahkan dari permasalahan ini dan bagaimana mencari solusinya?

Meningkatnya para tenaga ahli yang hijrah dari Indonesia dan berkarier di luar negara tentunya bukan tanpa alasan.

Gaji yang besar, kondisi kerja yang kompetitif, jaminan hidup bagi diri dan keluarga, prospektif karir yang jelas, fasilitas untuk riset yang bagus merupakan alasan mengapa para professional di negara berkembang itu pergi meninggalkan tanah airnya.

Kurangnya penghargaan terhadap para lulusan sekolah luar negara yang pulang ke Indonesia juga menjadi factor mengapa para professional itu lebih nyaman tinggal dan berkarier di luar negara.

Amich Alhumami, peneliti social asal Indonesia di jurusan Social Anthropology, University of Sussex Inggris, menyebutkan dua alasan utama mengapa tenaga ahli dari negara berkembang memilih berkalir di negara-negara maju. Pertama, alasan ekonomis dan kedua alasan politik.

Alasan ekonomis bisanya tenaga ahli itu ingin mencari pendapatan yang lebih baik, meningkatkan quality of life,  mencari kepuasan kerja dan berkarier di tingkat dunia.

Alasan politik biasanya dilakukan oleh orang-orang yang merasa tidak aman tinggal dinegaranya baik itu karena tekanan rezim yang berkuasa atau juga karena adanya perang yang berkelanjutan di negara asal.

Lalu, siapa semestinya yang harus bertanggungjawab atas meningkatnya jumlah tenaga ahli yang hijrah ke luar negara?

Tentunya selain individu dan masyarakat, negara atau pemerintah perlu mencarikan solusi atas permasalahan ini.

Mereka para tenaga ahli yang hijrah itu tidak bisa dipersalahkan begitu sahaja. Mereka tidak bisa disebut sebagai warga negara yang kurang rasa nasionalisme dan tidak cinta tanah air.

Meskipun mereka tentunya dituntut untuk mengabdikan ilmu dan membangun tanah air, adalah wajar kalau secara pribadi para tenaga ahli itu ingin memberikan yang terbaik secara ekonomis bagi diri dan keluarganya. Keuntungan ekonomis dan fasilitas yang baik yang bisa dicapai ketika bekerja di luar negara adalah alasan yang bisa diterima.

Jika masalah utamanya adalah ekonomis dan kenyamanan bekerja, adalah sudah saatnya bagi pemerintah Indonesia untuk memberikan penghargaan yang lebih layak dan meningkatkan salary juga fasilitas penelitian dan tempat kerja bagi para tenaga ahli yang berbakat itu.

Saya yakin, jika penghargaan dan kehidupan yang layak bisa mereka raih di Indonesia, para tenaga ahli itu akan memilih berkarir dan kembali ke Indonesia. Bukankah ada peribahasa, daripada hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Tentunya bagi para tenaga ahli, mereka ingin juga mengubah pribahasa itu menjadi ‘hujan emas di negeri sendiri’.

Perlu juga dicatat bahwa secara naluriah, para tenaga ahli itu tentunya ingin mempunyai kontribusi bagi pembangunan  tanah airnya meskipun secara fisik tidak berada di Indonesia.

Jika pemerintah belum mampu memberikan penghargaan yang layak dan belum siap menyediakan sarana riset dan pendidikan yang memadai di tanah air, alangkah baiknya bagi para peneliti dan tenaga ahli yang sekarang ada di luar negara itu untuk bisa mengubah ‘Brain Drain’ menjadi “Brain Investment’ dan ‘Brain Network’.

Artinya, alangkah eloknya jika para tenaga ahli di luar negara itu menjadikan pengalaman bekerja di luar negara sebagai sarana untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan dikemudian hari diterapkan di Indonesia.

Begitu juga, selama berada di luar negara, adalah kesempatan bagi tenaga-tenaga Indonesia untuk membangun jaringan (network) dengan tenga-tenaga ahli yang berasal dari negara-negara asing lainnya untuk kemudian nanti dijadikan modal untuk membangun Indonesia.

Akhirnya kebimbangan saya membalas e-mail dari dua teman yang bekerja di luar negara itu terjawab sudah. Saya lebih memilih untuk tidak mengikuti jejak mereka dan hanya bisa berpesan kepada dua teman itu, meskipun mereka bekerja di luar negara bukan berarti mereka tidak bisa berjuang untuk Indonesia. Jadikanlah kesempatan bekerja di luar negara itu untuk membangun ‘brain investment’ dan ‘brain network’.

Tunjukanlah prestasi sebaik-baiknya meskipun tidak bekerja di tanah air, bukankah para tenaga ahli Indonesia itu adalah delegasi bangsa yang bisa berperan untuk mempromosikan Indonesia. Jika mereka bekerja dengan baik secara tidak langsung mereka telah mempromosikan martabat Indonesia di mata dunia.

One Response to Tengkarah ‘Brain Drain’ di Indonesia

  1. […] Wikipedia alinur.wordpress.com […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: