Mencermati Motif Calon Presiden Indonesia

BH, 15/04/09

Rakyat Indonesia baru saja melaksanakan pilihan raya untuk memilih anggota parlemen minggu lepas.

Berdasarkan hasil quick count, semua lembaga survey di Indonesia menyebutkan bahwa Partai Demokrat adalah pemenang pilihan raya kali ini.

Partai yang didirikan oleh Presiden Yudhoyono ini mampu meraih suara diatas 20 peratus, mengalahkan partai besar lainnya seperti Partai Gokar yang menang pada pilihan tahun 2004, juga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pimpinan Megawati Soekarno Putri.

Berdasarkan perolehan suara itu, kemungkinan besar maksimal hanya tiga pasangan calon presiden yang akan maju ke pilihan presiden pada 8 July nanti. Yudhoyono sudah pasti akan bisa mencalonkan lagi menjadi presiden, sementara dua calon kuat lainnya yaitu Megawati dan Jusuf Kalla harus berkoalisi dengan partai-partai lainnya jika ingin maju menjadi calon presiden karena perolehan suaranya tidak sampai 20 peratus.

Jika Jusuf Kalla dari Golkar pada akhirnya batal maju menjadi calon presiden dan kembali bergandingan dengan Yudhoyono menjadi calon naibnya, maka persaingan ketat akan terjadi antara Yudhoyono dengan Megawati.

Calon-calon lainnya yang sudah berikrar maju seperti Prabowo Subianto, Wiranto dan Sri Sulthan, kemungkinan besar hanya bisa mencalonkan menjadi naib presiden.

Siapapun nama calon-calon yang nantinya akan maju menjadi presiden pada pilihan bulan July, adalah waktunya bagi rakyat Indonesia untuk lebih serius lagi memperhatikan track records masing-masing kandidat.

Tentunya sebelum hari pemilihan, para calon presiden tersebut akan diberikan kesempatan untuk berkampen kepada masyarakat. Dan masyarakat diberikan kebebasan yang sebesar-besarnya untuk menilai sebelum menentukan pilihan.

Dalam negara yang demokratis, adalah hak setiap calon presiden untuk berkampen dan menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling berkualitas, paling baik, paling mampu dan paling cocok untuk menjadi presiden Indonesia.

Tetapinya, karena jabatan presiden adalah jabatan publik, maka seluruh rakyat Indonesia selain berhak menilai program yang ditawarkan, masyarakat juga perlu dan penting untuk mengetahui motif yang mendorong sang calon untuk maju menjadi presiden.

Kurt Lewin (1951) dalam bukunya Field Theory in Social Science mendefinisikan motif sebagai kekuatan yang menggerakan seseorang untuk mencapai tujuan karena adanya kesempatan atau bahkan ancaman.

Karena tujuan seseorang itu sangat berbeda-beda dan subjektif, maka motif setiap individu pun tentunya sangat bervariasi tergantung kepada setting sosial masyarakat yang mengitarinya dan kepentingan individu itu sendiri.

Karena masing-masing calon presiden di Indonesia mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, baik itu akademik, politik, dan kondisi sosial budayanya, maka masyarakat harus jeli melihat motif masing-masing dari calon presiden tersebut dengan melihat visi, misi dan program yang ditawarkannya.

Batson (2002) membedakan motif seseorang melakukan sesuatu, terutama dalam aktivitasnya berpartisipasi dalam urusan publik, kepada empat  macam yaitu egoism, altruism, collectivism, dan principlism. Pembedaan tersebut didasarkan pada perbedaan tujuan utama (ultimate goals) setiap individu dalam beraktivitas.

Motif pertama disebut egoism yaitu motif seseorang ikut berpartisifasi dalam kepentingan publik hanya untuk keuntungan pribadi, baik itu keuntungan materi atau status sosial.

Jika seorang calon presiden hanya berkeinginan untuk mengejar keuntungan pribadi termasuk memperkaya dan ingin mengejar popularitas, maka calon pemimpin itu bisa kita cap sebagai calon pemimpin yang egois.

Kedua motif altruisme, yaitu motif seseorang berpartisifasi dalam urusan publik dengan tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan seseorang selain dirinya sendiri karena simpati.

Jika seorang calon pemimpin hanya ingin mensejahterakan seseorang selain dirinya karena merasa belas kasihan, maka calon presiden itu masuk kategori ini.

Motif ketiga dikenal dengan motif collectivism yaitu motif seseorang terlibat dalam urusan publik karena terdorong oleh keinginan untk meningkatkan kesejahteraan group atau kelompoknya.

Jika calon presiden hanya ingin mensejahterakan keluarga, partai atau kelompok pendukung tertentu, maka dia termasuk calon presiden dengan motif collectivism. Mensejahterakan kelompoknya tanpa menghiraukan penderitaan kelompok yang lain sangat berbahaya bagi keadilan di masyarakat.

Keempat adalah motif principlism yaitu motif seseorang terlibat dalam urusan publik karena didorong oleh tujuan utama untuk menegakkan prinsif-prinsif moral universal seperti keadilan.

Dari keempat motif tersebut, nampaknya motif terakhirlah  yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan keinginan dari seorang calon pemimpin untuk memperjuangkan prinsip-prinsip keadilan, persamaan hak, kesejahteraan bersama dan nilai-nilai moral universal lainnya, diharapkan pemimpin tersebut mampu mensejahterakan seluruh lapisan masyarakat yang dipimpinnya.

Karenanya, dalam masa kampen nanti, masyarakat Indonesia harus tegas menolak jika ada calon yang terindikasi maju karena hanya bermotif egoisme dan altruisme sahaja.

Calon dengan motif kolektifism juga harus di tolak karena terbatas atau terikat oleh kepentingan kelompok. Jika dalam kampen, seorang calon presiden terlihat hanya mementingkan partai politiknya sahaja, maka masyarakat harus tegas untuk tidak memilihnya.

Tetapi, jika ada calon presiden yang nampak teguh memegang motif principilism yaitu siap memajukan kesejahteraan untuk semua kalangan tanpa memandang suku, agama, kelompok partai pendukung dan kelompok simpatisan lainnya maka calon seperti inilah yang harus dipilih.

Rakyat Indonesia perlu dengan hati-hati memilih presiden yang toleran terhadap semua golongan agama karena Indonesia adalah negara dengan multi agama. Presiden seperti ini akan bisa membawa Indonesia stabil secara politik dan tidak dilanda konflik agama.

Rakyat juga harus pandai memilih presiden yang mengutamakan kepentingan semua kelompok masyarakat tanpa melihat partai politik dan asal kedaerahan. Darimanapun asal partai politiknya, setelah dia menjadi presiden maka kepentingan seluruh rakyat Indonesia harus diutamakan.

Jika calon pemimpin yang terpilih nanti lebih mengutamakan kepentingan pribadi (egoism), kepentingan simpati sesaat (altruism) dan kelompoknya (collectivism), maka jangan diharap visi, missi dan program yang nampak manis, yang digembor-gemborkan selama berkampanye, akan menjadi kenyataan.

Karenanya, rakyat Indonesia jangan sampai salah menentukan pilihan. Kesalahan menentukan pilihan akan membawa akibat yang berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan dalam lima tahun mendatang. Kemakmuran dan keadilan secara ekonomi tidak akan dirasakan oleh seluruh rakyat jika presiden yang dipilihnya tidak memegang motif principilisme diatas.

Semuanya tentu akan berpulang kepada individu masing-masing calon pemimpin tersebut, tapi bukan berarti rakyat sebagai masyarakat kebanyakan tidak bisa memberikan sumbangsih pemikiran atau menjadi kelompok penekan bagi sang calon presiden tersebut.

Mudah-mudahan presiden yang mencalonkan diri dan terpilih nantinya semuanya bermotif principilisme yaitu semangat untuk memajukan negara Indonesia dengan prinsip keadilan dan kemajuan untuk semua golongan masyarakat.

One Response to Mencermati Motif Calon Presiden Indonesia

  1. agus says:

    siapapun presidennya harus pro rakyat kecil dan harus bisa mengentaskan kemiskinan. caranya memberi BLT ke seluruh WNI minimal RP 1,5 juta per bulan, tidak akan DEVISIT bila GAJI pegawai pemerintah maksimal RP 10 juta per bulan. bagaimana tidak berebut jadi wakil rakyat kalo gajinya lebih besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: