Bilik Khusus Buat Caleg Stress

BH, 08/04/09

Pesta demokrasi pilihan raya mempunyai banyak sisi positifnya. Selain untuk menguatkan proses konsolidasi demokrasi, proses ini juga memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih ataupun dipilih.

Rakyat berhak memberikan pilihannya secara bebas untuk menentukan anggota parlemen atau kepala negara (presiden) sesuai dengan hati nuraninya. Rakyat juga berhak mencalonkan diri untuk dipilih menjadi anggota parlemen atau presiden asalkan memenuhi persyaratan sesuai undang-undang (perlembagaan negara).

Itulah yang akan terjadi besok tanggal 9 April di Indonesia. Penduduk dengan mayoritas Muslim dan negara demokratis terbesar ketiga di dunia ini akan menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan-nya.

Kira-kira 150 juta rakyat mempunyai hak untuk memilih dan lebih satu juta orang telah mendaftarkan diri untuk bertanding menjadi anggota parlemen baik itu di tingkat daerah maupun tingkat pusat.

Para kontestan yang mendaftar untuk dipilih menjadi anggota parlemen ini disebut dengan Caleg (Calon Anggota Legislatif). Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah Caleg untuk memperebutkan 560 kursi anggota parlemen tingkat nasional (DPR) ada 11.215 orang. 112 ribu Caleg bersaing untuk memperebutkan 1.998 kursi parlemen tingkat provinsi (DPRD I) dan sekitar satu setengah juta Caleg bertanding untuk memperebutkan 15.750 kursi parlemen tingkat kabupaten dan kotamadya (DPRD II) seluruh Indonesia.

Ini artinya begitu besar jumlah Caleg yang bersaing agar terpilih menjadi anggota parlemen untuk periode 2009-2014. Banyaknya anggota Caleg ini sangat elok bagi demokrasi yaitu banyaknya pilihan bagi rakyat untuk mendapatkan Caleg yang berkualitas. Tetapi ada juga sisi negatifnya iaitu besarnya kemungkinan terjadi keributan atau konflik antara Caleg setelah pemilihan raya selesai.

Jika pilihan raya usai, bagi yang terpilih menjadi anggota parlemen, tentunya tidak menjadi masalah. Mereka akan senang mendapatkan kehormatan dan bermacam fasilitas dari negara sebagai wakil rakyat di parlemen. Mereka akan mulai bekerja untuk merealisasikan program-program yang dijanjikannya kepada rakyat selama masa kampen.

Permasalahan yang harus diantisipasi dan dicarikan jalan keluarnya adalah Caleg yang kalah bersaing yang jumlahnya lebih banyak daripada yang terpilih.

Salah satu masalah krusial pasca pilihan raya yang menjadi kekhawatiran banyak kalangan adalah kemungkinan adanya Caleg yang depressi atau stress karena kalah dan tidak terpilih untuk duduk di kursi terhormat sebagai wakil rakyat di gedung dewan.

Kekhawatiran banyaknya Caleg gagal yang akan mengalami gangguan jiwa cukup masuk akal dan bisa dimengerti. Dalam pilihan raya Indonesia dengan sistem yang baru ini memangnya Caleg harus mengeluarkan banyak uang untuk berkampen agar bisa dikenal dan dipilih oleh rakyat.

Banyak Caleg yang terpaksa menjual rumah dan mobil (kereta) untuk membiayai kampen. Menjadi Caleg dalam pilihan raya nampaknya seperti bermain judi (gambling). Semakin banyak uang yang dikeluarkan oleh seorang Caleg untuk mempromosikan dirinya baik melalui iklan di televisi, radio, dan memasang spanduk dimana-mana agar dikenal, maka akan semakin besar kemungkinan bagi mereka untuk dipilih. Itupun belum tentu secara otomatis terpilih. Apalagi bagi Caleg yang tidak banyak berkampen, kemungkinan itu semakin kecil.

Tentunya, akan merasa stress dan mengakibatkan gangguan jiwa jika seorang Caleg sudah habis-habisan keluar banyak uang ternyata tidak terpilih. Rumah, mobil dan uang habis, sementara impian menjadi anggota dewan yang cukup dihormati di masyarakat tidak tercapai.

Kekhawatiran banyaknya Caleg yang sakit jiwa paska pilihan raya merupakan fenomena yang cukup serius. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya rumah sakit di Indonesia yang mempersiapkan bilik khusus bagi Caleg stress paska pemilihan umum.

Beberapa rumah sakit jiwa di Jakarta, Surakarta dan Surabaya telah menyiapkan bilik khusus untuk Caleg ini. Bahkan beberapa rumah sakit menyediakan bilik dengan fasilitas eksekutif untuk kelas VVIP (Very Very Important Person).

Disatu sisi penyedian bilik khusus ini seolah-olah menyindir para Caleg yang dianggap tidak siap mental jika kalah. Tetapi disisi lain ini juga berarti pandainya pengelola rumah sakit melihat pilihan raya sebagai lahan bisnis kesehatan.

Para pengelola rumah sakit paham bahwa banyak para Caleg yang banyak uang dan siap dikirim ke rumah sakit oleh keluarganya jika situasi terburuk mengalami gangguan jiwa benar-benar menimpa seorang Caleg yang kalah.

Penyedian bilik khusus bagi Caleg ini nampaknya bukanlah sindiran tetapi berdasarkan fakta dan pengalaman pemilu tahun 2004 dan Pilihan Kepala Daerah (pilkada) yang banyak menyebabkan stress bagi calon yang kalah. Bahkan salah seorang calon bupati di Ponorogo-Jawa Timur ada yang sampai gila disebabkan kalah pada Pilkada.

Direktur Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya dr Hendro Riyanto Sp KJ MM mengatakan bahwa ”potensi gangguan kejiwaan para caleg pada pilihan raya tahun ini lebih besar sebab persaingannya lebih komplek.”

Banyaknya Caleg berusia muda dan baru pertama kali ikut bersaing dalam pemilu menjadi salah satu faktor kemungkinan meningkatnya Caleg stress paska pilihan raya. Caleg tua berpengalaman yang sudah mapan secara ekonomi dan stabil secara emosi memang tidak terlalu dikhawatirkan.

Gencarnya pemberitaan di media tentang banyaknya rumah sakit yang menyediakan bilik khusus ini perlu disikapi dengan bijaksana oleh para caleg yang akan berkompetisi besok hari.

Mereka tidak perlu merasa tersinggung oleh rumah sakit penyedia bilik khusus itu karena saya yakin lebih banyak Caleg yang siap mental dan siap kalah dan menang dalam pesta demokrasi ini.

Akan lebih baik kalau para Caleg itu justru mengambil pelajaran dan berterima kasih kepada media atas peringatan ini. Caleg tentunya harus siap membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang bermental baja yang siap kalah dan menang sehingg layak untuk dipilih dan jadi pemimpin masyarakat.

Saya yakin bahwa Caleg yang berkualitas, bermoral tinggi, jujur dan siap berjuang untuk rakyat dan tidak menjadikan jabatan memperkaya diri, jauh lebih banyak jumlahnya.

Bagi Caleg berkualitas ini, bersaing memperebutkan posisi anggota parlemen hanyalah salah satu usaha mereka untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Jika kalah pun mereka siap mengabdi di tempat lain, bukan hanya di gedung parlemen.

Kita lihat sahaja paska pilihan raya fakta sebenarnya. Mudah-mudahan tidak banyak Caleg yang harus dikirim ke bilik khusus yang disediakan rumah sakit-rumah sakit. Meskipun nantinya banyak rumah sakit yang rugi karena tidak adanya Caleg yang di rawat, tetapi itu merupakan fenomena yang elok dan menunjukkan bahwa para Caleg itu memang layak untuk jadi teladan masyarakat dan hanya karena persaingannya yang ketat sahaja yang membuat mereka kalah. Bukan karena kurang kualitas.

Mari kita tunggu bersama-sama. Akankah kekhawatiran para direktur rumah sakit yang menyediakan bilik khusus untuk Caleg stress itu menjadi kenyataan? Semoga tidak terbukti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: