Sepatu Cibaduyut dan Kampanye JK

BH, 18/03/09

Long-weekend minggu lepas yang bertepatan dengan hari libur perayaan Maulid Rasul di Indonesia, saya kedatangan sahabat dekat dari Jakarta.

Memangnya setelah dibukanya jalan tol (expressway) Jakarta-Cikampek-Padalarang (Bandung), perjalanan Jakarta-Bandung dengan mobil pribadi hanya memakan waktu 2,5 jam sahaja. Tak heran, setiap akhir pekan banyak sekali warga Jakarta yang menghabiskan liburan di Bandung, baik itu untuk berbelanja membeli belah atau wisata kuliner seperti sahabat saya sekeluarga tadi.

Ada satu hal yang special dalam acara liburan sahabat saya kali ini. Dia mengajak saya agar menemaninya membeli beberapa pasang sepatu (kasut) di Cibaduyut Bandung. Memangnya daerah Cibaduyut, sejak dahulu kala dikenal sebagai pusat pembuatan dan penjualan sepatu di Bandung.

Identiknya Cibaduyut dengan sepatu bisa dilihat dari banyaknya wisatawan baik itu domestik maupun mancanegara yang tidak akan melupakan daerah ini ketika pergi ke Bandung. Terpasangnya patung sepatu ukuran besar di perempatan jalan Cibaduyut-Soekarno Hatta, seolah menyapa pengunjungnya dengan ucapan “Selamat Datang di Pusat Beli Sepatu Cibaduyut”.

Saya bertanya-tanya, mengapa sahabat saya begitu bersemangat untuk mengajak saya ke pusat sepatu di Cibaduyut? Bukankah di Jakarta banyak sekali toko-toko yang menjual sepatu bahkan dengan merk-merk terkenal buatan luar negara?

Menurut sahabat saya, atasannya di kantor tempat dia bekerja telah menginstruksikan seluruh karyawan (pegawainya) untuk memakai sepatu buatan dalam negeri (produksi Indonesia). Karenanya dia sengaja mengunjungi saya di Bandung untuk mendapatkan sepatu asli buatan Indonesia dengan kualitas yang baik.

Rupanya atasan sahabat saya itu mengikuti intruksi Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pak JK, begitu beliau biasa dipanggil, akhir-akhir ini sedang sibuk berkampen agar rakyat Indonesia termasuk para pejabat seperti Menteri untuk memakai kasut buatan dalam negeri.

”Jangan datang ke kantor Wakil Presiden bila anda memakai sepatu merek luar negeri” demikian kata Pak JK.

Tiga menteri di kabinet seperti Anton Apriyantono (Menteri Pertanian), Maria Elka (Menteri Perdagangan), dan Fahmi Idris (Menteri perindustrian) adalah diantara anggota kabinet yang pernah di razia (diperiksa) merk sepatunya oleh Pak JK ketika berkunjung ke kantor wakil presiden di Jakarta.

Untungnya ketiga menteri itu semuanya memakai kasut produksi Indonesia. Akan malu tentunya para menteri itu jika memakai produk kasut impor. Bukankah menteri-menteri itu sering berkampen kepada bawahannya untuk mendahulukan produk domestik dibanding produk luar negara?

Pemeriksaan sepatu oleh Pak JK ini mengingatkan orang kepada peristiwa pelemparan sepatu oleh Muntazer Al-Zaidi ketika mantan Presiden Amerika George W. Bush berkunjung ke Irak.

Kalau di Irak sejak peristiwa itu kasut dijadikan simbol nasionalisme, maka bagi Pak JK, selain sebagai simbol nasionalisme, sepatu bisa dijadikan kekuatan untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis.

Pak JK nampaknya benar bahwa pemakaian sepatu produksi dalam negeri bisa dijadikan simbol semangat nasionalisme terutama menghargai dan bangga akan karya anak bangsa sendiri.

Pemakaian produk dalam negeri secara tidak langsung membantu pengrajin sepatu di Indonesia untuk memasarkan produknya. Bukankah penduduk Indonesia lebih dari 220 juta dan ini merupakan pasar domestik yang sangat besar? Tanpa mengekspor barang-barang keluar negara pun, Indonesia sebenarnya mempunyai pasar domestik sendiri yang cukup.

Kempen untuk menggunakan produksi dalam negara memangnya sedang ramai disosialisasikan. Pemerintah Indonesia mengeluarkan Intruksi Presiden nomor 2 tahun 2009 tentang Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN).

Sejak pemerintah berkampen penggunaan produk dalam negeri, menuruk Pak JK, permintaan barang-barang dalam negeri seperti kasut dan pakaian batik meningkat dua puluh peratus.

Kepedulian pemerintah untuk berkampen agar masyarakat Indonesia menggunakan produk buatan sendiri terutama produksi kasut cukup beralasan. Menurut Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), saat ini produksi kasut yang beredar di Indonesia 60 peratus adalah buatan luar negara. Padahal omzet sepatu ini cukup besar mencapai 25 triliun rupiah pertahunnya.

Apalagi di tengah krisis global seperti sekarang ini, masing-masing negara terus berkampen agar rakyatnya menggunakan produksi dalam negeri untuk membantu ekonomi negara itu.

Kempen pemakaian kasut produksi dalam negeri seperti disebutkan Pak JK nampaknya cukup serius dan bukan main-main. Ini dibuktikan dengan kunjungan Pak JK ke Cibaduyut Bandung dua minggu lepas. Pak JK juga berkunjung ke pabrik kasut Fortuna Shoes di Jalan Soekarno Hatta Bandung.

Kunjungan Pak JK ke pusat pembuatan sepatu itu disambut hangat oleh para pengrajin sepatu di Bandung. Kunjungan orang nomor dua di Indonesia itu diharapkan oleh para pengrajin akan mempopulerkan kembali sepatu made in Cibaduyut itu.

Menurut para pengrajin, di era pasar global ini produksi sepatu Cibaduyut kalah bersaing dengan produk-produk kasut impor dari luar negara. Bukan karena kualitasnya jelek tetapi karena mental orang Indonesia yang merasa imperior kalau memakai produk lokal.

Memangnya, banyak pejabat dan orang kaya di Indonesia merasa kurang bergengsi kalau memakai sepatu buatan dalam negeri. Karenanya kempen Pak JK sangat membantu para pengrajin produk dalam negeri agar dicintai rakyatnya sendiri.

Kampen pemakaian sepatu produk dalam negeri ini perlu diapresiasi oleh semua kalangan. Pak JK telah memberikan contoh dan teladan yang baik dan bukan hanya sekedar himbauan kata-kata.

Contoh dan keteladanan nyata memang perlu dimulai dari pejabat atau pemimpin. Jika pemimpin sudah memulainya, biasanya akan mudah dicontoh oleh rakyatnya. Selain itu, dengan dipakainya sebuah produk oleh pimpinan negara, akan mendorong para pengrajin membuat produknya berkualitas agar terpilih. Karena dengan dipakai oleh pimpinan, secara tidak langsung produk itu telah dipromosikan dengan gratis.

Pemakaian produksi dalam negeri juga tentunya akan meningkatkan rasa cinta dan bangga masyarakat akan produksi lokal. Secara tidak langsung hal ini akan membangkitkan rasa percaya diri dan nasionalisme sebuah bangsa.

Mudah-mudahan kampen pemakaian kasut buatan Cibaduyut oleh Pak JK ini terus disosialisasikan, juga pada produk-produk lainnya. Semoga kampen ini bukan hanya disebabkan karena Pak JK siap maju menjadi calon presiden pada pilihan raya tahun ini dan hanya untuk menarik simpati masyarakat.

Akhirnya, ajakan sahabat saya ke Cibaduyut untuk membeli kasut itu mudah-mudahan bukan karena paksaan atasannya yang mewajibkan dia memakai produk dalam negeri tapi lebih karena kesadaran sendiri untuk memakai produk dalam negeri.

Dengan menggunakan produk dalam negeri sedikit banyak masyarakat Indonesia telah membantu sesama saudaranya untuk bertahan dari krisis. Bukankah kalau produknya tidak laku dipasaran akan menyebabkan pabrik sebuah produk akan berhenti beroperasi dan akhirnya banyak pengrajin yang harus dipecat dari pekerjaan.

Cinta dan bangga atas produk buatan negeri sendiri memang perlu terus ditanamkan kepada masyarakat. Tidak hanya bagi rakyat rendahan tapi juga untuk para pemimpin dan pejabat negara seperti dicontohkan Pak JK.

3 Responses to Sepatu Cibaduyut dan Kampanye JK

  1. Salam…kang tulisannya ku abdi diposting di web sunangunungdjati…

  2. alinur says:

    Henteu sawios mangga. Saha ieu teh, Buledz sanes?

  3. Kebijakan yg harus dipertahankan, apalagi kalau nanti sudah jadi Presiden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: