Pohon Berbuah Caleg

BH, 11/03/09

Jika ingin mengetahui bagaimana meriahnya pesta demokrasi pilihan raya di Indonesia, inilah saat yang tepat berkunjung ke Jakarta atau kota lainnya di negeri khatulistiwa itu.

Salah satu hal yang menonjol akhir-akhir ini adalah ramainya masing-masing Calon Anggota Legislatif (caleg) yang ingin terpilih menjadi anggota parlemen baik untuk parlemen pusat maupun daerah, berkampen dengan memasang photo diri secara besar-besaran di pinggir jalan.

Teman saya yang sudah berkeliling pulau Jawa mengatakan bahwa sekarang disepanjang jalan mulai dari Bandung di Jawa Barat sampai Surabaya di Jawa Timur, photo caleg mudah ditemui baik itu di pasang di baliho ataupun pohon. Begitu juga di daerah lainnya di luar Jawa seperti di Medan, Makasar, Lampung, Banjarmasin, Aceh, Menado, dan Papua. Memangnya, pilihan anggota parlemen tahun ini yang tinggal sebulan lagi, mempunyai aturan yang berbeda dengan pilihan raya sebelumnya.

Kalau pilihan raya sebelumnya, masing-masing caleg mempunyai nomor urut yang ditentukan oleh partai politik dan terpilih tidaknya seorang calon ditentukan oleh nomor urut, sekarang tidak lagi.

Aturan sekarang, calon dengan suara terbanyaklah yang akan menjadi anggota parlemen meskipun ada diurutan nomor lima misalkan. Artinya meskipun caleg partai politik ada diurutan pertama tetapi jumlah pemilihnya sedikit, maka yang akan lolos menjadi anggota parlemen adalah calon dengan suara lebih banyak berapapun nomor urutnya.

Sisi positif aturan ini adalah bahwa suara rakyat betul-betul menentukan lolos tidaknya seorang caleg menjadi anggota parlemen. Ini berarti aturan demokrasi betul-betul diterapkan.

Partai politik tidak bisa lagi berintervensi dengan cara menempatkan kader yang banyak memberi ‘uang’ kepada partai untuk ditempatkan di nomor urut pertama atau terkenal dengan nomor urut jadi seperti pada pilihan raya sebelumnya.

Sekarang, caleg lah yang harus berusaha sendiri menarik sebanyak-banyak dukungan dari rakyat. Aturan inilah yang membuat para caleg berlomba-lomba mengiklankan dirinya agar dikenal oleh konstituen pemilihnya. Tentunya, para caleg berkantong tebal (banyak uang) selain beriklan di televisi, akan memasang photo yang besar dan menarik perhatian di perempatan-perempatan jalan dengan baliho besar yang ditopang oleh besi (bukan ditempel di pohon).

Yang menjadi masalah adalah kebanyakan caleg yang kurang mempunyai uang untuk berkampen lewat televisi atau koran lebih mengandalkan memasang photo diri di pohon-pohon di pinggir jalan. Terutama para caleg di daerah untuk anggota parlemen di tingkat kabupaten.

Pemasangan photo diri di pohon-pohon memang dianggap kampen yang paling efektif dan murah oleh para caleg. Tetapinya, hal itu sangat mengganggu pemandangan dan merusak lingkungan.

Dalam komentarnya, Ketua Umum Nahdhatul Ulama (NU), KH. Hasyim Muzadi menyindir photo para caleg ini dengan mengatakan “Saat ini di mana-mana, apapun pohonnya, buahnya pasti gambar caleg.”

Pak Hasyim benar, keindahan pohon rindang sebagai ’paru-paru’ kota yang seharusnya bertambah elok jika berbuah, dikotori dengan banyaknya paku yang menancapkan photo para caleg.

Seorang teman berkelakar mengomentari photo di pohon ini, sayang phon tidak bisa bicara katanya. Kalau pohon bisa ngomong pasti dia akan meminta para caleg untuk memberinya uang sebagai imbalan atas ditempelnya photo. Atau, kalau pohon bisa ngomong, pasti dia minta gambar caleg yang ganteng dan cantik dan menolak photo caleg yang biasa-biasa saja.

Gunawan Muhammad, penulis terkenal di Indonesia mengatakan, meskipun pemasangan photo adalah hak setiap caleg untuk berkampen, mudah-mudahan para pemilih di Indonesia tidak keliru dalam memilih.

Gunawan menulis: “Saya ingin berdoa: semoga mata orang Indonesia tak akan membuat Indonesia tersesat. Demokrasi perlu dirindukan lagi sebagai tempat suara berseru dengan gema yang kuat, dengan keberanian berbeda—bukan konformisme yang menyerahkan apa yang berharga dalam pribadi ke dalam sebuah pasfoto”.

Betul apa kata Gunawan, mudah-mudahan rakyat Indonesia tidak hanya memilih karena melihat ganteng atau cantiknya photo caleg yang ditempel di pohon.

Rakyat diharapkan justru melihat program dan visi seorang caleg. Sungguh patut disayangkan mengapa para caleg itu tidak berpikir lebih cerdas dan mempunyai terobosan dalam berkampen, bukan sekedar memasang photo atau potret diri.

Mengapa para caleg itu tidak memiliki inisiatif yang lebih kreatif dalam berkempen, bukan hanya saling meniru memasang photo diri besar-besar yang melambangkan sisi narsisme sang caleg.

Akan lebih baik kalau para caleg itu merumuskan program, visi dan missinya menjadi caleg kemudian mengadakan kampen dialogis dengan masyarakat konstituennya. Atau, tuliskan tawaran program tersebut dalam bentuk brosur dan biarkan masyarakat membaca atau memasang brosur-brosur tersebut di rumah masing-masing.

Fenomena pemasangan photo di pohon-pohon ini banyak dikritik oleh masyarakat. Masyarakat bukannya simpati dengan para caleg tapi justru antipati dan kurang senang.

Ungkapan sinis dari masyarakat itu antara lain dengan mengatakan: ”Belum terpilih menjadi anggota parlemen sahaja sudah merusak lingkungan, bagaimana nanti kalau sudah terpilih”.

Para pemerhati lingkungan hidup lebih keras lagi dalam menentang pemasangan photo di pohon-pohon. Mereka beramai-ramai memprotes dan melaporkan hal ini kepada Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) terutama yang ada di daerah-daerah.

Di Cirebon misalkan, YBLH (Yayasan Buruh dan Lingkungan Hidup), NGO pemerhati lingkungan, mengajukan protes ke pengawas pilihan raya daerah dan juga partai politik asal caleg yang memasang photo di pohon-pohon.

Dalam pengamatan YBLH, 80 peratus pohon di pinggir jalan sampai ke desa-desa di wilayah Cirebon dipasangi poster gambar caleg. Apalagi pemasangannya menggunakan paku yang bisa membuat pohon mati. Saya kira fenomena ini tidak hanya berlaku di Cirebon tapi juga di daerah lainnya.

Protes serupa juga muncul di kota Bandar Lampung. Masyarakat di kota itu bahkan berikrar untuk tidak memilih caleg yang mengotori lingkungan. Seorang warga Lampung mengatakan bahwa mereka sepakat, jika ada caleg yang menempelkan photo di pohon atau di dinding rumah warga langsung akan dicopot dan diinformasikan kepada masyarakat untuk tidak dipilih.

Nampaknya, protes yang dilakukan oleh masyarakat Cirebon dan Lampung itu perlu diikuti oleh masyarakat di daerah lainnya di Indonesia. Masyarakat perlu terus disadarkan dan diberitahu agar tidak memilih caleg yang telah merusak lingkungan. Melihat waktu pencoblosan yang tinggal tiga puluh hari lagi, alangkah baiknya kalau masyarakat beramai-ramai memberikan hukuman moral bagi para caleg yang memasang photo di pohon tersebut dengan tidak memilihnya.

Silahkan diingat photo-photo caleg yang ditempel di pohon tersebut ketika masuk ke bilik pemungutan suara. Bukan untuk di pilih tentunya, tapi untuk ditinggalkan dan diberi sanksi moral dengan tidak mencoblosnya.

Dengan sangsi moral tersebut diharapkan, tidak ada lagi penempelan photo di pohon-pohon pada pilihan raya lima tahun hadapan. Caleg akan merasa jera dan tidak mengulanginya lagi dan akan terdorong untuk mencari pilihan kampen yang lebih cerdas dan kreatif. Selamat Jalan dan Selamat Tidak Terpilih para perusak lingkungan, demikian ungkapan sang pohon pada para caleg tersebut, jika pohon bisa ngomomg tentunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: