Kembali Menengok Sektor Pertanian

BH, 04/03/09

Banyak yang mengklaim keberhasilan swasembada pangan. Tapi mereka tidak tahu siapa otak di balik itu semua,”

(Iklan Politik PKS)

Itulah kata-kata iklan politik terbaru dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tayang setiap hari di televisi Indonesia.

Kata-kata itu disambung dengan munculnya gambar Anton Apriyantono, berjejer dengan logo PKS lengkap dengan nomor urut partai dalam pilihan raya bulan depan yaitu no. 8.

Pesan dari iklan tersebut sangat jelas yaitu ingin menunjukkan bahwa kader PKS, Encik Anton Apriyantono, yang sekarang menjabat Menteri Pertanian, berhasil membawa Indonesia kembali menjadi negara swasembada beras. Keberhasil Encik Anton diharapkan menarik rakyat untuk memilih PKS dalam pilihan raya bulan depan.

PKS betul bahwa sejak awal tahun 1990-an, baru tahun 2008 lepas, Indonesia kembali menjadi negara berswasembada pangan setelah sebelumnya selalu mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand.

Keberhasilan ini juga diakui oleh negara-negara didunia terutama para Menteri Pertanian ketika mereka berkumpul dalam acara International Confrence of Agriculture Minister di Berlin, Januari 2009.

Memangnya, mantan presiden Allahyarham Soeharto pernah mendapatkan penghargaan dari badan dunia Food and Agriculture Organization (FAO) atas kesuksesan beliau menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada pangan tahun 1984.

Sayang kebijakan pembangunan Soeharto lewat strategi industrialisasi dangkal (footloose) di awal tahun 1990 membuat Indonesia kurang memperhatikan sektor pertanian dan harus mengimpor beras sampai tahun 2006.

Karenanya, tak heran kalau PKS begitu bangga dan menjadikan prestasi Anton, sebagai jualan politik untuk menarik massa. Iklan PKS ini banyak dikritik karena sang menteri sebenarnya hanya perpanjangan tangan dari kebijakan pemimpinnya presiden Yudhoyono. Jadi prestasi swasembada pangan bukan khusus milik PKS, tetapi lebih luas lagi prestasi presiden yang berasal dari Partai Demokrat.

Terlepas dari siapa sebenarnya yang harus diberi penghargaan atas keberhasilan Indonesia menjadi negara swasembada pangan, iklan PKS itu mengingatkan pemerintah dan masyarakat Indonesia akan pentingnya memperhatikan sektor pertanian.

Sudah mafhum adanya bahwa globalisasi dan industrialisasi banyak mempengaruhi negara-negara di dunia termasuk Indonesia melupakan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan.

Tengoklah ke Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia, lahan pertanian semakin sempit karena lebih banyak dijadikan bangunan perumahan, pabrik-pabrik, mall shoping centre dan bangunan lainnya sebagai simbol modernisasi.

Padahal, negara-negara dikawasan Asia Tenggara dengan iklim tropis dan kebanyakan rakyatnya menjadikan nasi sebagai makanan pokok tidak akan bisa lepas dari hasil pertanian terutama beras.

Bahkan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya nasi harus ada setiap hari. Bagi rakyat di kampung-kampung, belum bisa dikatakan ’sudah makan’ kalau belum memakan nasi. Meskipun sudah makan roti dan burger beberapa potong, tetapi belum makan nasi maka perut orang Indonesia belum merasa kenyang.

Sebagai negara agraris tentunya Indonesia perlu mempertahankan prestasi swasembada beras ini, bahkan perlu meningkatkan swasembada pangan lainnya seperti kedelai, jagung, singkong dan kelapa sawit.

Untuk mempertahankan prestasi ini, pemerintah Indonesia harus terus mengkaji orientasi pembangunan yang memberikan perhatian besar pada sektor pertanian. Beberapa langkah perlu diambil oleh pemerintah diantaranya:

Pertama, petani sebagai ujung tombak penyedia bahan pangan terutama beras perlu diperhatikan. Jangan sampai profesi petani menjadi tidak menarik karena dianggap kurang menguntungkan. Biasanya petani selalu dalam posisi rugi karena biaya produksi tidak seimbang dengan harga jual yang rendah.

Ketika musim panen dan hasil pertanian melimpah, harga hasil pertanian biasanya jatuh sekali sehingga petani merasa rugi. Tak heran kalau banyak orang yang beranggapan bahwa menjadi petani identik dengan menjadi orang miskin.

Kedua, perlu merangsang generasi muda agar mau menekuni profesi pertanian. Image menjadi petani berarti tidak bisa menjadi orang kaya perlu dihilangkan. Janganlah para pemuda lebih memilih menjadi dokter, pebisnis, pengacara, atau profesi lainnya dan tidak ada yang berminat terjun di sektor pertanian karena menganggap profesi petani kurang bergengsi dan bermartabat rendah.

Ketiga, pemerintah terutama departemen pertanian perlu berusaha bagaimana caranya menjadikan sektor pertanian sebagai idola dalam berbisnis. Pemerintah Indonesia harus bisa meyakinkan investor dari luar negara untuk menanamkan modalnya dalam sektor pertanian.

Dalam berinteraksi dengan petani, ada baiknya pemerintahan Yudhoyono belajar dari pengalaman Soeharto yang sukses mendekati petani dengan programnya ”Dari Desa ke Desa” yaitu temu muka antara presiden dengan petani di desa-desa seluruh Indonesia secara langsung dan rutin.

Ada juga siaran Kelompok Pendengar Pembaca dan Pirsawan atau (Kelompencapir) yaitu siaran yang melibatkan kelompok tani di desa-desa yang berhubungan dengan petani dan sektor pertanian di televisi. Dalam acara ini para petani mendapatkan informasi yang berkaitan dengan kemajuan teknologi pertanian juga harga komoditas pertanian di pasaran lokal dan nasional.

Meskipun acara ini dianggap sebagai pertemuan politik antara Pak Harto dengan petani agar mereka mau memilih Pak Harto dalam pilihan raya, tetapi manfaatnya bagi petani banyak sekali. Petani merasa diperhatikan oleh pimpinan negara dan mereka bisa langsung mengadu kepada presiden tentang masalah yang mereka hadapi.

Keempat, rintisan swasembada pangan oleh menteri dari PKS harus dipertahankan dan dilanjutkan oleh menteri pertanian yang akan datang jika Encik Anton tidak lagi ditunjuk menjadi menteri setelah pemilihan presiden tahun ini.

Encik Anton pernah menjelaskan bahwa keberhasilan Indonesia dalam sektor pertanian ini ditempuh melalui program Penguatan Teknologi, Penguatan Manajemen serta Pemberdayaan Petani.

Ini artinya, Indonesia perlu terus mengikuti perkembangan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan hasil produksi pangan terutama beras.

Pembukaan lahan pertanian di luar pulau Jawa untuk menanam padi perlu diintensifkan. Dengan berkurangnya lahan pertanian di pulau Jawa karena banyak dijadikan gedung dan bangunan, maka lahan pertanian di pulau lain seperti Kalimantan dan Sulawesi perlu dijadikan alternatif.

Di zaman Soeharto, pernah ada program pembukaan ’Sawah Sejuta Hektar” di Kalimantan Tengah. Meskipun program itu gagal, nampaknya ide Allahyarham Soeharto untuk membuka lahan sawah yang luas di luar pulau Jawa perlu dipertimbangkan oleh pemerintah Yudhoyono.

Akhirnya, siapapun yang nanti terpilih menjadi presiden Indonesia dan dari partai politik manapun menteri pertaniannya, sudah saatnya Indonesia kembali menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu program utama pembanguan. Jika bidang pertanian ini digarap secara serius dan professional, nampaknya mempertahankan swasembada pangan seperti yang dibanggakan PKS dalam iklannya tidaklah sulit untuk dicapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: