Mencermati Langkah Politik Raja Jawa

BH, 25/02/09

Pilihan raya di Indonesia tinggal menghitung hari. Kurang dari enam puluh hari lagi pesta demokrasi ini akan digelar.

Beberapa tokoh politik sudah berkampanye agar mendapat dukungan dari rakyat untuk dipilih menjadi RI-1.

Salah satu diantaranya adalah Raja Jawa Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sultan telah mendeklarasikan maju menjadi calon presiden pada tanggal 28 Oktober 2008. Dipilihnya tanggal itu tentunya bukan tanpa alasan. 28 Oktober adalah simbol perjuangan semangat bersatunya bangsa Indonesia terutama kalangan pemuda sehingga dikenal sebagai hari Sumpah Pemuda.

Artinya, Sultan berharap deklarasinya bisa melanjutkan perjuangan pemuda yang penuh semangat dalam mempersatukan bermacam-macam etnik, suku bangsa, agama dan adat istiadat di nusantara menjadi satu Indonesia. Sultan ingin mencitrakan dirinya bukan hanya milik orang Jawa, tapi juga milik seluruh etnik suku yang ada di Indonesia. Dukungan seluruh etnik di seluruh nusantara merupakan modal utama untuk menjadi presiden Indonesia.

Dalam deklarasi itu Sultan mengatakan: ”Dengan mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dengan niat yang tulus memenuhi panggilan kepada Ibu Pertiwi, dengan ini saya menyatakan siap maju menjadi Presiden 2009.”

Sultan seolah ingin menegaskan bahwa deklarasinya menuju tangga presiden bukan main-main. Ungkapan memohon petunjuk Tuhan merupakan simbol rendah hati Sultan meskipun posisinya sebagai raja. Dia juga mengungkapkan bahwa pencalonannya bukan untuk meraih ambisi pribadi tetapi lebih karena panggilan jiwa mengabdi kepada negara.

Sebagai raja yang masih dihormati oleh rakyatnya, terutama masyarakat Yogyakarta, tentunya deklarasi itu adalah hal yang serius. Masyarakat Yogya yakin bahwa sebagai raja, Sultan telah memperhitungkannya secara matang, bahkan bisa jadi telah melakukan perenungan spiritual layaknya raja-raja Jawa lainnya.

Menurut Tuti Artha dalam bukunya Laku Spiritual Sultan: Langkah Raja Jawa Menuju Istana, pernyataan seorang raja selalu dianggap sebagai sabda pendita ratu, yang tidak bisa dibantah dan harus dilaksanakan secara konsisten.

Pertanyaannya, sejauhmana peluang Sultan memenangi pertarungan politik menuju singgasana presiden?

Dengan melihat kekuatan para calon lainnya terutama sang incumbent Dr. Yudhoyono dan mantan presiden Megawati Soekarno Putri, perjalanan raja Jawa itu masih panjang dan cukup terjal. Tetapi bukan berarti bahwa peluang Sultan sudah tertutup.

Beberapa kelebihan dan kekurangan Sultan menuju kursi presiden bisa dijadikan landasan untuk melihat sejauh mana Raja Jawa ini berpeluang menjadi raja nusantara.

Pertama, Sultan diuntungkan dengan popularitasnya sebagai Raja Jawa yang tentunya sudah dikenal oleh penduduk Pulau Jawa yang berjumlah 50 peratus penduduk Indonesia. Sultan tinggal berusaha meningkatkan sisi popularitasnya di luar Jawa. Popularitas di pulau Jawa merupakan modal utama bagi siapapun yang mau mencalonkan diri menjadi presiden Indonesia.

Kedua, Sultan dikenal sebagai pemimpin lokal (Yogyakarta) yang arief bijaksana dan dikagumi rakyatnya. Karenanya Sultan diharapkan bisa berkiprah ditingkat yang lebih tinggi untuk membawa kemakmuran rakyat di tingkat nasional (Indonesia). Tampilnya pemimpin baru yang sering dianggap oleh masyarakat sebagai munculnya harapan baru menguntungkan Sultan dibanding Yudhoyono dan Megawati yang pernah menduduki jabatan presiden.

Ketiga, diantara tokoh reformasi yang pernah tergabung dalam Deklarator Ciganjur setelah Soeharto turun, tinggal Sultan yang belum pernah menjabat ditingkat nasional. Tokoh-tokoh Ciganjur lainnya seperti Amien Rais (mantan Ketua MPR), Gus Dur (mantan Presiden) dan Megawati (mantan Presiden) pernah menduduki jabatan tinggi negara. Karenanya, Sultan dipandang sebagai tokoh yang masih mengusung semangat reformasi di Indonesia.

Keempat, Sultan sering dianggap sebagai tokoh pemersatu, toleran dan menghargai nilai-nilai pluralitas yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Dimata masyarakat, Sultan dianggap tokoh yang tidak diskriminatif dan merupakan simbol budayawan yang menghargai nilai perbedaan dan mengayomi semua budaya Indonesia yang beragam.

Hanya saja upaya Sultan menduduki presiden Indonesia bukan tanpa rintangan. Beberapa kekurangan Sultan dianggap sebagai hal yang perlu segera dicarikan solusinya jika sang raja Jawa itu ingin menjadi presiden.

Pertama, meskipun masyarakat pulau Jawa adalah mayoritas penduduk Indonesia, popularitas Sultan di luar pulau Jawa dianggap masih terlalu rendah. Tim kampanye Sultan harus bekerja keras meyakinkan pemilih di luar pulau Jawa jika ingin memenangkan pilihan presiden tahun ini.

Kedua, keberhasilan atau prestasi Sultan sebagai gubernur Yogyakarta yang kurang terlihat oleh masyarakat luar Yogya menjadi titik lemah Sultan. Sultan perlu terus mensosialisasikan keberhasilan dia memimpin Yogya jika ingin dipandang mampu membawa perubahan bagi masyarakat Indonesia yang lebih kuas dan besar jumlahnya.

Ketiga, kedudukannya sebagai raja juga memberi kesan negatif dan kekhawatiran masyarakat Indonesia akan dipertahankannya sistem kekuasaan yang feodal jika Sultan menjadi presiden. Feodalism dianggap sebagai sistem kekuasaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi modern.

Keempat belum adanya partai besar yang mencalonkan Sultan merupakan kekurangan yang paling mendasar. Undang-undang pilihan presiden Indonesia mewajibkan calon presiden dicalonkan oleh partai politik dan harus didukung oleh minimal 20 peratus perolehan suara partai.

Melihat kelebihan dan kekurangan diatas nampaknya Sultan cukup mempunyai peluang untuk menjadi presiden Indonesia. Hanya saja, Sultan harus lebih agresif mendekati partai politik agar bisa dicalonkan dan bisa mendapat dukungan minimal 20 peratus suara dalam pilihan raya sebagai syarat utama maju menjadi calon presiden.

Sultan memang masih merupakan tokoh Partai Golkar. Hanya saja nampaknya Golkar akan mencalonkan Ketua Umum-nya Jusuf Kalla sebagai calon presiden. Ungkapan Jusuf Kalla bahwa Golkar siap mengusung calon dari partai sendiri merupakan sinyal bahwa Kalla tidak akan akan lagi menjadi calon wakil presiden mendampingi Yudhoyono dan siap maju menjadi calon presiden.

Jika Sultan tidak mendapat dukungan dari partai politik untuk mencalonkan diri menjadi presiden, mungkinkah Sultan akan menurunkan targetnya hanya menjadi calon wakil presiden?

Jika Sultan mau menjadi calon wakil presiden nampaknya peluang raja Jawa ini sangat besar. Partainya Megawati (PDIP) sudah berkali-kali mendekati sang Raja Jawa ini untuk mau mendampinginya menuju istana. Begitu juga, dikalangan internal Golkar sendiri, ada upaya untuk menggandengkan Jusuf Kalla-Sultan sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

Pasangan Kalla-Sultan nampaknya cukup ideal yang representasi pasangan Jawa-Luar Jawa. Permasalahannya, cukup dilematis bagi Sultan untuk menurunkan targetnya hanya menjadi wakil presiden. Jika dia hanya mau menjadi calon wakil presiden berarti Sultan sudah mengkhianati sabdanya sendiri pada waktu deklarasi pencalonan dirinya. Tetapi jika dia memaksakan diri menjadi calon presiden, dikhawatirkan tidak ada partai politik yang mendukungnya.

Semua keputusan ada di tangan Sultan, akankah raja Jawa ini terus maju menjadi calon presiden dan mundur dengan sendirinya jika tidak ada partai politik yang mendukungnya, ataukah dia akan mengingkari sabdanya sendiri dan mau menjadi calon wakil presiden?

Semuanya akan jelas setelah pemilihan anggota legislatif 9 April 2009. Bukankah dalam politik semuanya bisa saja terjadi. Bahkan ada ungkapan tidak ada teman dan musuh abadi dalam berpolitik, yang ada adalah kepentingan abadi.

Jika ternyata Sultan nantinya dicalonkan oleh salah satu partai politik, bagaimanakah cara menuliskan nama lengkap Sultan yang cukup panjang di kartu suara. Bukankah nama lengkapnya adalah Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah?

Kita lihat saja bagaimana perkembangan politik Indonesia dua bulan ke depan yang semakin menarik untuk dicermati. Siapa sajakah yang nantinya betul-betul bertarung sebagai calon presiden selain dua kandidat utama yang sudah didukung oleh partai yaitu Yudhoyono (Partai Demokrat) dan Megawati (PDIP). Mungkinkah Sultan atau Jusuf Kalla secara resmi didukung oleh partai politik sebagai calon alternatif untuk menyaingi Yudhoyono dan Megawati?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: