Fenomena Dukun Cilik Ponari

BH, 18/02/09

Sekali lagi Jombang, kota kecil di provinsi Jawa Timur dibikin heboh. Kalau tahun lalu kota ini dicoreng oleh kasus kriminal Ryan si pembunuh berantai, kali ini diramaikan dengan munculnya Ponari,dukun cilik ‘sang penolong’.

Intensivenya pemberitaan di koran dan televisi bahwa Ponari mempunyai ’batu ajaib’ yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit membuat puluhan ribu orang rela antri di depan rumah Ponari.

Meskipun pengobatan itu sudah ditutup sejak 10 Februari lalu, sampai sekarang masih banyak orang yang menunggu di sekitar rumah Ponari dengan harapan pengobatan alternatif itu dibuka lagi.

Sejak anak kelas 3 Sekolah Dasar (SD) itu menemukan batu ajaib yang jatuh ketika petir hampir menyambarnya, dia membuka praktek pengobatan yang unik. Hanya dengan mencelupkan batu itu dalam segelas air putih, banyak orang percaya bahwa penyakit yang dideritanya langsung sembuh.

Penyakit seperti stroke, lumpuh, demam panas dan penyakit berat lainnya diakui oleh pengunjung bisa disembuhkan dengan hanya meminum segelas air pemberian Ponari. Nampaknya perlu penelitian lanjutan tentang apa yang terkandung dalam batu itu sehingga bisa begitu ampuh menyembuhkan berbagai penyakit. Mungkihkah itu sugesti dari orang yang meminumnya sahaja sehingga seolah-olah penyakitnya sembuh?

Panjangnya antrian pasien sudah banyak memakan korban jiwa. Sejak mulai praktek tanggal 17 Januari lalu, tercatat ada empat orang meninggal. Selain karena penyakit yang diderita, tentunya berdesak-desakan dan kecapaian mengantri punya andil dalam kematian tersebut.

Beberapa pertanyaan muncul dibenak saya membaca berita hebohnya ribuan orang mengantri bahkan rela berhari-hari menunggu antrian hanya untuk mendapatkan segelas air ’mujarab’ dari Ponari.

Mengapa orang rela antri berhari-hari untuk mendapatkan pengobatan yang kurang masuk akal itu? Pelajaran apa yang bisa diambil dari fenomena pengobatan alternatif ala Ponari? Dan bagaimana caranya agar fenomena seperti ini tidak lagi muncul dikemudian hari?

Fenomena menarik seperti itu bisa dijelaskan dari berbagai aspek. Baik itu dari sisi psikologis masyarakat yang masih percaya akan hal-hal mistis, sampai kekecewaan masyarakat atas pelayanan dan program kesehatan yang disediakan oleh pemerintah seperti Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dan Program Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat).

Pertama, dari sisi psikologi masyarakat, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat terutama orang Jawa tempat Ponari tinggal, masih percaya akan konsep kesaktian yang bisa muncul kapan saja, bisa terjadi pada siapa saja dan bisa datang darimana saja.

Meskipun Ponari hanya anak kecil berusia 9 tahun, tapi mereka percaya bahwa sang bocah telah menerima titisan kesaktian. Dalam cerita kuno Jawa, hal ini mengingatkan orang akan kesaktian Ki Ageng Sela yang bisa menangkap petir. Ini cocok dengan cerita Ponari yang mengatakan bahwa ’batu ajaib’ miliknya jatuh ketika petir hampir menyambarnya.

Kepercayaan mitos kesaktian ini telah menggiring orang untuk percaya dan kehilangan akal sehat juga berfikir tidak rasional. Adalah sangat tidak masuk akal meskipun pengobatan itu sudah ditutup, masih banyak orang yang mengambil air dari bekas mandi Ponari bahkan mencungkil tanah dihalaman rumah Ponari untuk dijadikan obat.

Dari sisi agama, tentunya fenomena ini sangat berbahaya dan bisa mengundang praktik kemusyrikan. Karenanya dua organisasi Islam Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah berkali-kali mengingatkan masyarakat untuk tidak percaya begitu saja akan kesaktian Ponari karena bisa menjerumuskan orang kepada kemusyrikan yang dilarang agama.

Kedua, fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat kurang percaya kepada tenaga medis formal yang ada seperti para dokter, perawat bahkan para dokter spesialis. Ketidakpercayaan ini bisa jadi bukan karena ketidakmampuan dokter semata tetapi juga karena pelayanan dokter yang dipandang masyarakat kurang maksimal.

Hal ini diperburuk dengan sikap masyarakat yang sudah teracuni oleh budaya instant dan praktek jalan pintas. Masyarakat modern cenderung menginginkan segala hal diselesaikan dengan instant (serba cepat), dan kurang mempedulikan proses. Pengobatan alternatif seperti ini bisa diibaratkan seperti ’mie instant’ yang murah, cepat saji, dan prosesnya tidak berbelit-belit.

Ketiga, selain kurang percaya terhadap tenaga medis, tidak maunya masyarakat berobat ke dokter bisa jadi karena mahalnya biaya yang dipungut oleh praktisi kesehatan baik itu dokter maupun lembaganya seperti Puskesmas dan rumah sakit.

Rata-rata pasien yang berobat ke tempat Ponari cukup memasukkan uang 2000 atau 5000 rupiah sekali berobat ke tabung amal yang disedikan panitia. Bandingkan dengan biaya berobat ke dokter spesialis yang bisa menghabiskan 100 ribu rupiah sekali datang. Tak heran kalau lebih dari seratus ribu pasien telah berobat kepada Ponari sejak mulai dibuka satu bulan lepas.

Dari fenomena ini banyak pelajaran yang bisa diambil untuk diperhatikan oleh berbagai pihak mulai dari kalangan agamawan hingga aparat pemerintah.

Tokoh agama dituntut untuk berperan aktif dalam menyadarkan masyarakat untuk berpikir kritis dan rasional. Praktek percaya kepada hal-hal berbau mistis perlu sebisa mungkin dihindari agar tidak membuat masyarakat terjerumus ke jurang ’kemusyrikan’ yang dilarang dengan keras oleh ajaran agama.

Bagi pemerintah, hal ini bisa dijadikan introspeksi tentang keberhasilannya dalam menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat. Program pelayanan kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit perlu terus ditingkatkan dengan menghadirkan dokter yang lebih professional.

Praktisi kesehatan yang professional dan kredible akan membuat masyarakat merasa yakin untuk pergi ke dokter. Pelayanan dokter yang kurang bersahabat, merasa superior dan tidak merakyat bahkan terkesan sombong menjadi salah satu sebab masyarakat enggan pergi ke rumah sakit. Dokter perlu belajar dari bagaimana proses pengobatan Ponari yang merakyat, seolah tanpa sekat pembatas status sosial antara dokter dan pasien.

Management di Puskesmas dan rumah sakit juga perlu terus diperbaiki agar rakyat merasa senang berobat ke tempat ini. Biaya berobat yang semakin mahal perlu menjadi perhatian pemerintah.

Efektifitas program Jamkesmas pemerintahan Yudhoyono yang menjamin masyarakat miskin untuk berobat secara gratis di Puskesmas perlu ditingkatkan. Prosedur mendapatkan kartu Jamkesmas yang berbelit-belit membuat masyarakat malas untuk mendapatkannya. Kemudahan mengurus kartu berobat gratis bagi rakyat miskin perlu terus diupayakan oleh pemerintah.

Disamping perlunya menyadarkan masyarakat dan peningkatan pelayanan kesehatan dari pemerintah agar masyarakat lebih percaya kepada dokter dan institusi layanan kesehatan, penutupan praktek pengobatan ala Ponari yang disepakati keluarga, kepolisian dan pemerintah setempat adalah sangat tepat.

Selain berbahaya bagi keselamatan orang, terbukti sudah empat orang yang meninggal karena mengantri, kondisi masyarakat yang tambah tidak rasional dengan mengambil segala hal yang berbau Ponari, termasuk tanah dan air mandinya untuk pengobatan, bisa dijadikan alasan penutupan tersebut.

Memang ada beberapa kalangan yang menganggap penutupan itu sebagai tidak bijak. Tetapi masyarakat juga perlu memikirkan kondisi psikologis Ponari sang bocah ajaib itu. Sejak pengobatan itu, Ponari seolah kehilangan haknya sebagai anak kecil untuk bersekolah dan juga bermain.

Akhirnya, jika daya kritis dan sikap rasionalitas masyarakat meningkat ditambah dengan pelayanan kesehatan yang professional, murah dan terjangkau, saya yakin fenomena pengobatan alternatif ala Ponari tidak akan menghebohkan seperti sekarang. Bahkan bisa jadi, fenomena ’dukun sakti’ seperti ini meskipun suatu saat bisa muncul lagi tidak akan terlalu ditanggapi oleh masyarakat.

One Response to Fenomena Dukun Cilik Ponari

  1. echa says:

    kepercayaan masyarakat..
    tuh kayaknya lebih sisi spiritualnya deh
    tapi gag tau lagi ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: