Iklan Politik BBM dan Senyum Petugas Bensin

BH, 11/02/09

Televisi Indonesia sekarang sedang ramai menayangkan iklan politik dari Partai Demokrat, partainya Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Iklan itu menyebutkan bahwa ”Pertama Kali Dalam Sejarah Indonesia; Harga BBM (Bahan Bakar Minyak) Diturunkan Hingga Tiga Kali”.

Iklan politik ini tentunya bertujuan untuk menarik rakyat agar memilih kembali Dr. Yudhoyono menjadi presiden. Alasannya karena Yudhoyono berhasil menurunkan harga BBM yang memang baru terjadi dalam sejarah Indonesia.

Tentu saja, sepintas klaim kesuksesan Presiden SBY menurunkan harga minyak seperti benar adanya. Padahal sebagaimana kritik dari pengamat bahwa turunnya BBM bukan karena suksesnya pemerintahan Yudhoyono memperbaiki ekonomi. Tetapinya disebabkan karena harga minyak dunia memang turun dari 145 dolar per barel awal tahun 2008 dan hanya 40 dolar sahaja saat ini.

Iklan politik Partai Demokrat ini banyak dikritik oleh partai-partai lainnya seperti oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sementara Partai Golkar menyebutkan bahwa penurunan harga BBM bukan hanya keberhasilan Yudhoyono semata, tetapi juga keberhasilan Golkar yang direpresentasikan oleh wakil presiden Jusuf Kalla.

Itulah gambaran prilaku politisi yang hanya melihat segala sesuatu dari kepentingan politik untuk menarik simpati rakyat. Bukan dari kacamata kepentingan rakyat itu sendiri terutama barisan akar umbi.

Politisi malah lupa mendiskusikan sejauhmana signifikansi penurunan harga BBM bagi kemakmuran rakyat. Apakah betul keuntungan penurunan BBM secara otomatis dirasakan oleh rakyat kelas bawah?

Kalau melihat realitas dilapangan, rakyat yang merasakan itu majoritasnya kalangan ekonomi menengah keatas yang memang mempunyai kendaraan seperti mobil dan sepeda motor. Sementara rakyat bawah tidak merasakan pengaruhnya secara signifikan. Ini terlihat dari tidak otomatisnya turunnya ongkos bis dan angkutan kota yang banyak digunakan oleh masyarakat bawah ketika bepergian.

Begitu juga harga makanan dan sembilan bahan pokok yang terlanjur naik seiring dengan naiknya harga BBM, tidak turun otomatis bersamaan dengan turunnya harga minyak.

Pemerintah dan politisi yang memperdebatkan iklan turunnya harga BBM juga kurang peduli dengan realitas dilapangan ketika pasokan bensin berkurang dan hilang dipasaran sehari setelah penurunan harga. Adalah hal yang aneh melihat antrian panjang kendaraan bermotor di pom bensin-pom bensin karena banyak yang tutup dengan alasan kehabisan stok bensin.

Mungkin pemandangan yang biasa melihat mobil dan sepeda motor antri sampai malam hari untuk mendapatkan harga murah sebelum harga bensin dinaikkan yang biasanya bertepatan pukul 12 malam. Tetapi adalah aneh ketika harga bensin diturunkan masyarakat masih tetap harus antri panjang karena kehabisan stock. Politisi yang meributkan iklan politik penurunan harga BBM juga lupa mengapa mereka tidak meributkan isu keselamatan tempat penampungan BBM di Jakarta. Kasus kebakaran tempat penyimpanan minyak (depot) Pelumpang pada tanggal 19 Januari perlu dijadikan contoh. Mengapa para politisi kurang sensitif dengan isu terbakarnya depot Pertamina yang merupakan tempat penyimpanan minyak terbesar di Indonesia? Mengapa mereka tidak mempertanyakan sejauh mana pemerintah memperhatikan dan menjaga keselamatan tempat yang sangat penting bagi pasokan ketersediaan minyak di Jakarta dan sekitarnya ini? Apalagi kalau memperhatikan realitas keselamatan dan kesehatan pekerja di pom bensin-pom bensin di seluruh Indonesia. Ada hal yang menjadi keperhatinan saya ketika berada di pom bensin untuk mengisi bahan bakar mobil.

Setiap saya mengunjungi pom bensin, saya sering melihat pelayan di tempat ini tidak memperhatikan kesehatan kerja . Hal ini bisa dilihat dari penampilan mereka yang tidak memakai masker (penutup mulut) ketika mengisikan bensin ke tank mobil atau sepeda motor.

Ketika ditanya apakah mereka tidak pusing mencium bau bensin setiap hari dan kenapa mereka tidak memakai masker penutup hidung agar mengurangi uap bensin yang terhirup? Saya merasa ngeri dan prihatin ketika mereka menjawab bahwa sebenarnya sebagai manusia merasa pusing dan tidak nyaman ketika menghirup bau bensin. Tapi karena sudah terbiasa mereka hanya pasrah dengan kondisi yang ada. Sementara saya sahaja yang singgah sebentar merasa pusing dengan bau bensin, bagaimana dengan mereka yang setiap hari melayani pelanggan tanpa masker pelindung. Bukankah itu sangat berbahaya bagi kesehatan mereka terutama dalam jangka panjang?

Lebih mengejutkan lagi adalah alasan tidak memakai masker pelindung karena terpaksa oleh kebijakan perusahaan yang mewajibkan pelayan selalu tersenyum dan ramah kepada para pelanggan. Jika memakai masker, mereka tidak bisa menunjukkan senyum kepada para pelanggan, dan akan dianggap tidak sopan karena tidak menghargai pembeli bensin.

Jawaban mereka pun semakin diperkuat dengan iklan Pertamina di televisi yang mengutamakan senyum petugasnya ketika melayani pelanggan. Pertanyaan saya, mengapa para politisi yang meramaikan iklan keberhasilan Yudhoyono menurunkan harga BBM tidak peka dengan masalah yang dihadapi rakyat bawah yang bergelut dengan bensin seperti para pelayan di gas station yang sering saya temui itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: