Siaga Bencana Sejak Kecil

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang luas, indah dan subur. Lebih dari 17 ribu pulau terbentang dan 240 gunung api ada di negeri ini.

Karena kesuburan dan keindahannya, grup musik Koes Plus mengibaratkan Indonesia sebagai Tanah Surga. Orang bilang tanah kita tanah surga / Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, demikian sebahagian lyric lagu Koes Plus yang berjudul Kolam Susu.

Hanya sahaja, disamping keindahannya, negeri kepulauan ini sangat rentan terhadap bencana alam. Tanah longsor, banjir dan gempa bumi seakan menjadi rutinitas tahunan di negeri kaya sumber daya alam ini. Bahkan, karena posisinya yang diapit dua benua besar menyebabkan Indonesia sangat riskan terhadap bahaya tsunami seperti yang terjadi di Aceh. Banyaknya bencana mengharuskan setiap warga Indonesia untuk selalu waspada setiap saat dan mewajibkan pemerintah untuk berusaha bagaimana caranya agar tidak banyak jatuh korban seandainya bencana datang.

Selama ini pemerintah lebih memfokuskan penanganan bantuan setelah bencana itu terjadi. Meskipun itu tidak salah, cara berpikir seperti ini perlu segera diubah.

Untuk meminimalisir korban, pencegahan dan persiapan dini menghadapi bencana perlu lebih ditingkatkan selain bantuan pasca bencana. Usaha-usaha mencegah bencana dan paradigma masyarakat awam tentang kejadian suatu bencana perlu diubah.

Pandangan masyarakat bahwa bencana adalah semata-mata karena taqdir dan kehendak Yang Maha Kuasa perlu diluruskan. Meskipun betul bahwa ada taqdir Tuhan dalam setiap bencana, tapi bukan berarti korban bencana tidak bisa dikurangkan jika masyarakat mempunyai kesiapan dalam menghadapinya dan tidak begitu saja menyerah dan menyalahkan taqdir.

Pemerintah perlu memberikan informasi yang akurat dan tepat kepada masyarakat tentang potensi bencana yang mungkin menerjang suatu daerah. Daerah yang curah hujannya tinggi perlu terus diingatkan akan bahaya banjir dan tanah longsor. Sementara daerah yang berada dekat gunung merapi perlu diberitahu akan kemungkinan terjadinya bahaya gempa bumi dan gunung meletus.

Karena korban bencana tidak memandang usia baik itu kanak-kanak, remaja, maupun orang tua, maka sosialisasi atau amaran cara penanganan bencana harus juga melibatkan kanak-kanak. Anak-anak dan remaja sejak usia dini harus diberi pemahaman yang tepat tentang bentuk-bentuk bencana yang mungkin menimpa daerahnya dan cara-cara menghadapi bencana jika hal itu datang secara tiba-tiba.

Usaha-usaha yang bisa dilakukan dalam mensosialisasikan kesigapan masyarakat terutama anak-anak jika musibah datang diantaranya adalah:

Pertama, mengajarkan materi tentang macam-macam bencana yang sering melanda Indonesia dan cara penanggulangannya di sekolah-sekolah mulai dari SD (Sekolah Dasar) sampai SMU (Sekolah Menengah Umum). Pendidikan siaga bencana ini perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah.Dalam hal ini pemerintah dan sekolah bisa bekerjasama dengan organisasi Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) untuk memberi pemahaman soal bencana alam.

Kedua, anak-anak sekolah perlu dirangsang untuk sadar (aware) akan pentingnya pengetahuan tentang bencana dan diajak partisipasi aktif mensosialisasikannya diantara mereka. Lomba penulisan karya ilmiah bagi siswa tentang bagaimana pendapat mereka mengenai bencana dan penanggulangannya bisa dijadikan sarana untuk kempen kesadaran anak-anak terhadap bencana alam.

Ketiga, di sekolah-sekolah perlu diadakan simulasi bagaimana menghadapi bencana, seperti banjir, kebakaran, tanah longsor, tsunami dan bencana lainnya, terutama di sekolah-sekolah yang berada di daerah yang rawan terhadap bencana alam.

Keempat, pihak sekolah dan pemerintah daerah jangan hanya menyerahkan penanggulangan masalah bencana kepada pemerintah pusat di Jakarta. Mereka perlu mengajak Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) didaerah untuk ikut serta memberikan pemahaman tentang bencana kepada anak-anak sekolah dan siap terjun langsung membantu masyarakat di daerahnya jika bencana datang tiba-tiba.

Terlalu bergantung kepada pemerintah pusat menyebabkan kemampuan suatu daerah menanggulangi bencana tidak meningkat. Begitu juga bantuan pusat biasanya terlambat karena luasnya wilayah Indonesia. Jika bencana terjadi di Papua Barat misalkan, tentunya akan lambat penanganannya jika hanya mengandalkan bantuan dari Jakarta.

Dalam hal mensosialisasikan persiapan menghadapi bencana terhadap masyarakat dan anak-anak, Indonesia perlu belajar dari Jepang. Kondisi alam negara Jepun yang hampir sama dengan Indonesia yaitu rawan gempa dan tsunami pantas untuk ditengok.

Di Jepang, sudah sejak lama anak-anak diajarkan pendidikan tsunami. Mereka mengajarkannya dalam bentuk cerita sehingga menarik minat anak-anak untuk menyimaknya. Contohnya cerita tentang dibakarnya padi (inamura no hi) di daerah Nankai tahun 1854 sudah menjadi cerita turun temurun pada masyarakat Jepun. Cerita ini berkisah tentang seorang kakek melihat ombak tinggi (mungkin tsunami dalam istilah sekarang) dan memberitahu masyarakat dengan cara membakar padi. Jerebu dari padi yang dibakar dipahami oleh masyarakat sebagai simbol adanya bahaya, sehingga masyarakat telah siap akan datangnya bencana. Pesan yang bisa disampaikan dalam cerita ini kepada anak sekolah adalah bahwa mereka harus selalu siap setiap saat dan perlunya ikut berpartisipasi dalam memberitahukan adanya musibah kepada orang lain. Anak-anak diajarkan untuk peduli akan nasib orang lain, sehingga bagi sesiapa yang tahu akan ada musibah harus menyampaikannya kepada teman, tetangga dan masyarakat pada umumnya.

Sejak terjadinya badai besar pada tahun 1950-an, pemerintah Jepun sudah mempunyai undang-undang tentang management penanggulangan bencana, bahkan pendidikan bencana sudah dimasukkan pada kurikulum sekolah rendah.

Kalau setiap tanggal 17 Agustus selalu diperingati sebagai hari kemerdekaan Indonesia, maka pemerintah Indonesia perlu menetapkan tanggal 26 Desember sebagai hari bencana tsunami nasional. Tentunya bukan hanya mengingat korban yang meninggal dan menyadarkan masyarakat akan dahsyatnya bahaya tsunami, tetapi juga dalam momentum peringatan ini, masyarakat seluruh Indonesia terutama anak-anak sekolah perlu diingatkan akan pendidikan menghadapi bencana alam (disaster education).

Adalah langkah sosialisasi yang tepat jika dalam momentum tanggal itu, seluruh sekolah di Indonesia diinstruksikan untuk mengadakan latihan tata cara menyelamatkan diri jika bencana datang (drill).

Para siswa dilatih dengan langsung mempraktekkan cara-cara melindungi diri dan menyelamatkan diri jika suatu bencana alam datang dengan tiba-tiba. Peringatan dan praktek menyelamatkan diri dari bencana yang diulang-ulang sejak masa kanak-kanak akan membuat mereka selalu siap dan waspada jika suatu saat bencana benar-benar menimpa mereka dimasa hadapan.

Nampaknya, hal ini perlu segera disosialisasikan di sekolah-sekolah di Indonesia. Janganlah peringatan seperti ini hanya dilakukan oleh sekolah dan pemerintah kalau musibah atau bencana baru saja terjadi. Demi menyelamatkan dan mengurangi jumlah korban terutama kanak-kanak, masalah penanggulangan dan kesiapan menghadapi bencana alam harus terus disosialisasikan secara terus menerus. Janganlah menunggu korban lebih banyak lagi, mari segera bertindak demi menghadapi kemungkinan bencana yang selalu mengintai setiap saat. Bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan, demikian kata pepatah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: