Kampanye Anti Korupsi Lewat Pendidikan

BH, 07/01/09

Praktek rasuah yang sudah sangat mengkhawatirkan di Indonesia menjadi keperihatinan semua rakyat Indonesia.

Setiap orang baik itu pendidik, tokoh masyarakat, pegawai pemerintah maupun kalangan awam terus mencari solusi bagaimana memberantas praktek ini sampai ke akar-akarnya.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga utama yang ditugasi memberantas praktek rasuah terus mencari terobosan bagaimana agar rasuah bisa dihilangkan.

Selain terus aktif menangkap pihak-pihak yang dicurigai berbuat rasuah disemua lembaga pemerintahan termasuk lembaga keuangan Bank Indonesia (BI) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), KPK juga mencari jalan lain.

Salah satunya adalah berusaha memberantas rasuah melalui jalur institusi pendidikan seperti kampus-kampus.

KPK mengajak para rektor universiti di Indonesia untuk mengajarkan mata kuliah anti rasuah kepada para mahasiswa.

Harapannnya, mahasiswa sebagai generasi muda yang akan menjadi penerus pemerintahan di masa depan akan sadar dan tidak melakukan rasuah jika nanti mereka menjadi pejabat negara.

Ajakan ini disambut hangat oleh universitas-universitas di Jakarta. Salah satunya adalah Universiti Paramadina yang sudah memasukkan mata kuliah anti rasuah sebagai mata kuliah wajib bagi mahasiswanya.

Dr. Anies Baswedan, rektor Universiti Paramadina yang masuk daftar 100 tokoh intelektual di dunia versi Jurnal Foreign Policy Amerika edisi Mei 2008, sangat mendukung kampen anti rasuah lewat jalur pendidikan.

Dr. Anies bahkan mengajak universiti-universiti lain di Indonesia untuk serius memasukkan mata kuliah anti rasuah ini di kampus-kampus. Universiti-nya bahkan siap membantu dan sharing pengalaman isi silabus mata kuliah anti rasuah dengan universiti mana sahaja di Indonesia yang siap mengajarkannya.

“Kalau separuh sahaja dari 4,1 juta mahasiswa di Indonesia belajar anti-rasuah, saya yakin gerakan memberantas rasuah akan meningkat secara signifikan” demikian ujar Anies.

Sejalan dengan program membudayakan anti rasuah lewat jalur pendidikan, Kejaksaan Agung Indonesia juga tidak ketinggalan.

Lembaga ini mempunyai program bernama Gerakan Aksi Langsung Antikorupsi Sejak Dini (Galaksi). Program ini ditujukan untuk mengenalkan budaya anti rasuah sejak dini kepada siswa-siswa sekolah SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMU (Sekolah Menengah Umum).

Salah satu program yang dikembangkan adalah mempromosikan pembuatan Kantin Kejujuran di sekolah-sekolah.

Sampai peringatan Hari Antikorupsi Sedunia pada tanggal 9 Desember lepas, sudah ada sekitar 3000 kantin kejujuran di Indonesia, terutama di sekolah-sekolah menengah.

Di kantin kejujuran, siswa melayani dirinya sendiri (self service). Barang jualan disimpan begitu sahaja dengan memberi label harga dan disediakan kotak untuk membayar, dan kotak uang receh untuk mengambil uang kembalian.

Pembeli dituntut kesadaran sendiri untuk berlaku jujur membayar uang sesuai dengan harga yang tercantum dalam barang tanpa diawasi siapapun.

Pembeli mempunyai dua pilihan iatu mengambil barang dan membayar tidak sesuai harga dan itu berarti melakukan rasuah atau membayar dengan jujur sesuai harga yang tercantum di label.

Tujuan utama kantin kejujuran ini adalah untuk membiasakan anak sekolah berbuat jujur sejak dini. Kantin Kejujuran ini bisa dijadikan media yang effektif untuk menanamkan nilai-nilai moral pada anak didik sejak usia muda.

Bukankah para ahli psikologi sepakat bahwa kebiasaan yang baik ataupun yang jelek sejak usia dini akan melekat pada diri anak sampai ia dewasa? Karena masa kanak-kanak merupakan masa yang paling berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang.

Artinya, sejak usia anak-anak, mereka harus dikenalkan sebanyak mungkin dengan nilai-nilai kebaikan seperti anti terhadap rasuah dan selaku berbuat jujur dalam segala hal.

Menurut Jaksa Agung Hendarman Supandji, ”Kantin seperti ini bisa menjadi alat pembelajaran bagi anak untuk menghindari perilaku rasuah ketika mereka terjun di masyarakat atau menjadi pejabat pemerintah”.

Rupanya contoh kantin kejujuran ini direspon secara positif oleh masyarakat secara luas tidak hanya oleh pihak sekolah.

Banyak pejabat di tingkat daerah seperti wali kota dan bupati menyambut ide ini dan berusaha mengembangkannya di kantin masing-masing kantor pemerintahan daerah. Sebut misalkan di Mataram, Medan, Bandung dan daerah-daerah lainnya.

Yang menjadi tantangan ke depan adalah bagaimana promosi pembentukan Kantin Kejujuran ini bisa berhasil dan menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia?

Juga bagaimana agar kantin Kejujuran ini tidak bangkrut atau gulung tikar karena merugi?

Karena masih merupakan ide baru, maka di sekolah-sekolah yang mempunyai kantin kejujuran perlu adanya kerjasama semua unsur dalam pengelolaannya.

Kepala sekolah, guru, karyawan dan terutama siswa harus saling membantu dan mengawasi keberlangsungan kantin ini. Diperlukan managemen yang bagus dan professional bagi kelangsungan program ini.

Jangan sampai, ide yang cukup cerdas untuk menanamkan kejujuran pada siswa ini tidak berhasil karena kurangnya dukungan dari semua pihak.

Bagi guru, mereka harus memberikan contoh bagaimana belanja di Kantin Kejujuran agar dikuti oleh para siswa. Mereka juga harus terus mendorong dan menjelaskan kepada para siswa tentang pentingnya melatih bersikap jujur.

Meskipun program ini bisa dianggap cukup berhasil, kasus bangkrutnya sebuah Kantin Kejujuran di sebuah SMA di Tulung Agung seperti diberitakan koran-koran di Jawa Timur perlu mendapat perhatian.

Berita yang mengatakan bahwa Kantin Kejujuran sebuah SMA yang baru berlangsung sebulan tetapi modalnya berkurang dari 1,5 juta rupiah menjadi tinggal 90 ribu rupiah sahaja, membuat kita prihatin dan mengurut dada.

Hal ini mengindikasikan bahwa proyek percontohan menanamkan nilai anti rasuah sejak dini adalah pekerjaan yang berat.

Meskipun demikian, bukan berarti masyarakat Indonesia harus pesimis dengan upaya memberantas rasuah disemua lapisan.

Sekarang, tinggal semua pihak terutama para pemimpin terus memberi contoh kepada bawahan dan rakyatnya bagaimana berlaku jujur dan tidak berbuat rasuah.

Dalam kasus Kantin Kejujuran, kepala sekolah dan guru harus menjadi contoh dan panutan para muridnya dalam menyukseskan program ini demi membangun Indonesia yang lebih bersih dari Korupsi, Kolusi dan nepotisme (KKN).

Memangnya kampen anti rasuah lewat jalur pendidikan ini baik melalui mata kuliah anti rasuah di universiti-universiti maupun pembentukan Kantin Kejujuran adalah upaya memberantas rasuah dalam jangka panjang.

Artinya, masih perlu proses dan waktu yang panjang untuk melihat sejauhmana efektifitas program ini. Tetapi, dengan azam yang kuat dari sekarang, mudah-mudahan rasuah di Indonesia akan bisa dihilangkan dimasa hadapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: