Tayangan Televisi dan Kekerasan

Saya memutilasi Pak Hendra karena meniru Ryan, terutama dari tayangan televisi selain dari koran yang saya beli di angkutan kota”. (Sri Rumiyati, 48 tahun)

Itulah kata-kata yang diucapkan Sri ketika diintrogasi oleh polisi berkenaan dengan kasus pembunuhan suaminya Hendra dengan cara dipotong-potong tubuhnya (mutilasi).

Pelaku tanpa ragu menyebutkan bahwa perbuatannya mencontah kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Ryan sang algojo dari Jombang yang ditayangkan televisi.

Pengakuan Sri diatas seolah memperingatkan masyarakat tentang adanya hubungan antara tayangan kekerasan di televisi dengan prilaku kekerasan di masyarakat.

Akhir-akhir ini kasus pembunuhan dengan cara di mutilasi di Indonesia seolah terus meningkat. Bagian penelitian dan pengembangan (Litbang) koran Kompas mencatat bahwa sejak Januari hingga November 2008 ada 13 peristiwa pembunuhan dengan mutilasi di Indonesia.

Selain karena perbuatan sadis supaya korbannya merasa sakit, bentuk pembunuhan mutilasi ini juga dimaksudkan untuk menghilangkan jejak agar tidak diketahui oleh polisi.

Perbuatan kekerasan yang terinspirasi oleh tayangan televisi dibenarkan baik oleh polisi maupun dokter yang memeriksa tersangka.

Komisaris Jarius Saragih, dari kepolisian Jakarta, misalkan mengakui bahwa selama memeriksa pelaku mutilasi mereka mengaku terinspirasi dan mencontoh tayangan televisi.

Dokter ahli forensik Mun’im Idris juga sepakat bahwa kasus mutilasi sudah ada sejak tahun 1970-an, namun tahun ini meningkat tajam karena seringnya peristiwa ini ditayangkan televisi.

Masalah ini tentunya harus menjadi perhatian serius semua pihak. Baik itu pemerintah, pemilik stasion televisi dan masyarakat pada umumnya.

Pemerintah lewat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) harus terus memonitor, menegur bahkan memberikan sangsi yang tegas bagi tayangan televisi yang melanggar peraturan.

KPI perlu terus memonitor apakah tayangan-tayangan kekerasan di televisi baik itu yang berupa berita ataupun film layak untuk dipertahankan.

Tayangan acara berita kriminal seperti Sergap (RCTI), Patroli (Indosiar), Buser (SCTV), dan Kriminal (Trans TV) perlu terus dievaluasi oleh pemerintah.

Pemilik media televisi juga harus memperhatikan masalah ini. Pemilik stasiun TV harus mengevaluasi kembali sejauhmana perlunya menayangkan atau tidak menayangkan secara detail bagaimana prilaku kriminal melakukan aksinya.

Pemilik stasiun televisi harus peduli dengan bertambahnya kekerasan di masyarakat yang dipengaruhi oleh tayangannya.

Mereka harus menjadi pemilik televisi yang bertanggung jawab dan peduli terhadap prilaku masyarakat.

Pemilik televisi tidak boleh hanya beralasan bahwa penayangan tersebut adalah demi kebebasan pers. Pemilik televisi harus terus diingatkan tentang bolehnya mengekspresikan kebebasan tapi yang bertanggungjawab.

Memang kebebasan berpendapat dan euporia demokratisasi di Indonesia telah membawa sisi positif dan negatif bagi kebebasan pers.

Di satu sisi media dengan mudah bisa mendapatkan hak menerbitkan koran dan membuat siaran televisi.

Tentu saja sisi positifnya adalah dengan banyaknya media massa, segala kebijakan pemerintah bisa terus di kontrol dan diinformasikan kepada masyarakat.

Adalah hal yang biasa kalau sekarang banyak media dengan bebas mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat kecil.

Tetapi sisi negatifnya adalah banyak sekali tayangan-tayangan televisi yang kurang mendidik yang dengan bebas dipertontonkan ke publik..

Pemberitaan tentang pelaku kriminalitas termasuk cara-cara seseorang berbuat jahat dan melakukan pembunuhan misalkan dengan jelas dipertontonkan oleh televisi.

Hal ini bisa berakibat buruk, tidak hanya bagi anak-anak yang bebas menonton bentuk siaran kekerasan di televisi, tetapi juga bagi orang dewasa yang mempunyai niat berbuat kejahatan.

Media televisi sebagai media video-audio visual memang memiliki pengaruh yang signifikan bagi para penontonnya.

Karena itu sebaiknya stasion televisi tidak hanya mengeksploitasi tayangan kriminal dan kekerasan hanya demi meningkatkan rating penonton.

Sebagai contoh, ketika akan dilangsungkannya eksekusi mati trio bomb Bali Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra, hampir semua stasiun televisi di Indonesia mengulasnya bahkan menyediakan acara laporan khusus eksekusi bomb Bali.

Hal ini tentunya baik bagi masyarakat bahwa setiap peristiwa dan berita di tanah air bisa dengan mudah disaksikan pada waktu itu juga.

Tetapi pengaruh negatifnya sangat besar. Ketika sebagaian masyarakat terutama masyarakat tempat Amrozi dan Mukhlas menyambut kedatangan mayat sang pengebom ini bagaikan menyambut pahlawan, maka hal ini bisa berakibat buruk bagi kelompok-kelompok lain yang ingin menirunya.

Selain fungsi kontrol dari pemerintah dan rasa tanggung jawab dari pemilik stasion televisi, masyarakat juga perlu ikut berpartisipasi.

Masyarakat perlu kritis untuk menonton atau tidak menonton acara yang kurang memiliki nilai pendidikan.

Orang tua perlu memberikan pengajaran kepada anak-anak tentang acara televisi yang mana yang layak atau tidak layak untuk ditonton.

Jika masyarakat juga tidak tertarik dengan tayangan kekerasan di televisi, secara tidak langsung rating acara tersebut akan jatuh dan akhirnya ditutup.

Hal ini perlu disadari oleh masyarakat agar bisa berperan dalam mengurangi tingkat kekerasan yang disebabkan oleh tayangan televisi.

Seorang pensyarah tentang Media Massa dan Kekerasan dari Universitas Indonesia , Ade Erlangga Masdiana pernah memperingatkan masyarakat bahwa ” media menjadi alat pembelajaran bagi pelaku dalam mengemas perbuatan kriminal, bisa langsung ataupun tidak”.

Pada anak-anak, siaran televisi bisa memberikan dampak langsung, seperti kasus tayangan smackdown; sementara bagi orang dewasa bisa melakukan hal yang sama seperti di televisi ketika ia berada pada kondisi yang serupa seperti peristiwa di televisi itu,” ujar Ade.

Peringatan dari Ade Erlangga ini perlu diperhatikan oleh semua pihak yaitu pemerintah, pemilik stasiun televisi dan masyarakat. Jika tayangan kekerasan di televisi dibiarkan terus menerus tanpa kontrol, maka jangan heran kalau tingkat kriminalitas masyarakat akan terus meningkat.

Sebagai media yang effektif mempengaruhi penontonnya, pengaruh tayangan kekerasan di televisi perlu mendapat perhatian. Tentunya tidak hanya penonton televisi di Indonesia tetapi juga ditempat lainnya sepanjang televisi itu menyiarkan acara yang kurang mendidik bagi penontonnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: