Aceh: Empat Tahun Setelah Tsunami

BH, 10/12/08

Mendengar kata Aceh, mengingatkan orang pada julukan dan kejadian yang beragam. Mulai dari julukan sebagai kota ‘Serambi Mekkah’ sampai pada terkenalnya istilah ‘tsunami’. Tidak hanya bagi masyarakat Indonesia tetapi juga warga dunia.

Dalam sejarah Indonesia, Aceh dikenal sebagai kota Serambi Mekkah. Selain karena budaya masyarakatnya yang memegang teguh nilai-nilai Islam, kota ini juga pernah dijadikan pusat ‘pendidikan’ para jamaah haji Indonesia yang mau berangkat ke Mekkah pada zaman dahulu..

Setelah diterpa banjir besar yang menghancurkan kota ini, Aceh juga identik dengan ‘musibah tsunami’.

Setiap mendengar kata tsunami, maka pikiran orang akan tertuju kepada kota Banda Aceh dan Meulaboh yang merupakan kawasan terparah yang terkena musibah tersebut.

Meskipun musibah ini telah menelan 126 ribu korban jiwa dan rusaknya rumah dan bangunan-bangunan lainnya, ternyata ada hikmah di sebalik bencana tersebut.

Tepatnya, satu tahun setelah pristiwa tsunami 26 Desember 2004, Aceh mencatat sejarah dengan ditandatanganinya kesepahaman antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk menghentikan peperangan.

Kesepahaman yang dikenal dengan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki ini ditandatangani pada 15 Agustus 2005.

Kesefahaman ini secara resmi mengakhiri konflik bersenjata antara GAM dengan pemerintah Indonesia yang sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun.

Setelah berakhirnya konflik, rakyat Aceh mulai bangkit dari trauma peperangan dan trauma tsunami yang pada bulan ini akan menginjak empat tahun.

Pasca MoU Helsinki, banyak perkembangan yang telah dirasakan oleh masyarakat Aceh, baik dari sisi keamanan, politik, maupun ekonomi.

Dari sisi keamanan, mereka tidak lagi dihantui rasa takut oleh konflik bersenjata antara tentara Indonesia dan anggota GAM.

Biasanya mereka akan khawatir keluar rumah karena sering terjadinya kontak senjata diantara dua-dua hala, terutama di malam hari.

Secara politik, rakyat Aceh tidak lagi menuntut untuk merdeka dan memisahkan diri dari negara kesatuan Republik Indonesia.

Aceh diberi keistimewaan untuk mempunyai partai politik lokal dan juga diberi kebebasan untuk menentukan pemerintahan lewat pemilihan gubernur langsung yang diselenggarakan pada 11 Desember 2006.

Lewat pesta demokrasi lokal ini, Irwandi Yusuf (mantan petinggi GAM) dan Muhammad Nazar (mantan Ketua Dewan Presidium Sentral Informasi Referendum Aceh) terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur periode 2007-2012.

Dibawah kepemimpinan gubernur baru Irwandi Yusuf dan wakilnya Muhammad Nazar yang terpilih pada pilihan daerah tersebut, rakyat Aceh berharap bahwa pembangunan di daerahnya semakin meningkat paska tsunami.

Sekarang, dua tahun setelah Irwandi Yusuf menjadi gubernur, banyak kemajuan yang dirasakan rakyat Aceh meskipun tentunya belum sempurna.

Irwandi paling tidak bisa mempertahankan kondusifnya situasi keamanan di Aceh pasca penandatanganan MoU tersebut.

Dia juga dipandang berhasil mengadakan konsolidasi politik sesama rakyat Aceh, terutama dengan kelompok-kelompok yang masih kurang setuju dengan perjanjian Helsinki.

Bahkan pada 11 Oktober 2008, Irwandi berhasil mengajak Hasan Tiro untuk berkunjung ke Aceh.

Kunjungan Hasan Tiro, tokoh penting masyarakat Aceh di luar negara, diharapkan mampu memperkuat keberlangsungan perdamaian di Aceh karena harus disadari bahwa masih ada beberapa masalah yang bisa merusak perdamaian di Aceh.

Gubernur Irwandi nampaknya juga sedikit-demi sedikit bisa mengembalikan kepercayaan rakyat Aceh terhadap pemerintah terutama dalam mengurangi kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin.

Perlu diperhatikan bahwa kesenjangan ekonomi di masyarakat bisa merusak perdamaian yang sedang berlangsung. Ketidakadilan secara ekonomis amat berbahaya bagi perdamaian yang sedang dibangun.

Kelangsungan rehabilitasi infrastruktur di Aceh yang merupakan tantangan terberat bagi gubernur Irwandi nampaknya juga mulai teratasi.

Bahkan pembangunan sarana fisik di Aceh sekarang kelihatan berimbas juga bagi perbaikan sarana pendidikan agama Islam.

Sarana pendidikan non-formal yang di Jawa dikenal dengan sebutan pesantren dan disebut Dayah pada masyarakat Aceh, pasca tsunami lebih diperhatikan oleh pemerintah.

Hasan Basri M. Nur, seorang pensyarah di IAIN Ar-Raniry Aceh, mengatakan kalau dahulu Dayah diperlakukan sebagai lembaga pendidikan kelas dua, sekarang Dayah memiliki gedung megah bertingkat, bahkan laboratorium komputer dan bahasa.

Keberhasilan pembangunan Aceh empat tahun pasca tsunami ini tentunya bukan tanpa rintangan dan tantangan.

Gubernur Irwandi dan masyarakat Aceh harus terus berusaha mempertahankan kesefahaman perdamaian ini.

Jangan sampai gejolak konflik, peperangan dan permusuhan yang merugikan masyarakat Aceh ini muncul kembali karena ketidakpuasan sebagaian masyarakat Aceh.

Gubernur Irwandi perlu terus berkonsolidasi dengan masyarakat Aceh dari berbagai kelompok dan golongan untuk terus membangun Aceh ke arah yang lebih baik.

Pemerintah lokal Aceh juga harus terus berkordinasi dengan pemerintah pusat di Jakarta untuk mempertahankan dan meningkatkan kemakmuran rakyat Aceh.

Rakyat Aceh perlu juga berterima kasih kepada kepemimpinan Yudhoyono-Kalla yang memprakarsai perdamaian lewat kesefahaman Helsinki ini.

Kalau dulu di zaman Soeharto pemerintah Jakarta melakukan pendekatan represif untuk menumpas GAM, dan ternyata tidak berhasil, maka pendekatan dialog yang dilakukan oleh pemerintahan Yudhoyono-JK perlu diapresiasi.

Kesefahaman ini harus betul-betul dipertahankan dan diimplementasikan oleh rakyat Aceh secara benar dan konsekuen, bukan perdamaian yang semu.

Jika rakyat Aceh masih menuntut referendum atau ingin memisahkan diri dari negara Indonesia setelah pilihan raya 2009 lewat partai politik lokal, maka hal ini akan membuat pemerintah pusat di Jakarta menganggap perdamain itu hanyalah pura-pura.

Semoga hal ini tidak terjadi, karena kalau perdamaian ini dinodai, maka masyarakat Aceh sendiri juga yang akan rugi. Bukan elit politik partai yang akan susah, tetapi masyarakat akar umbi kebanyakan yang akan menjadi korban. Damailah selalu bumi’ Serambi Mekkah”!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: