Renovasi Gedung DPR dan Bedah Rumah

BH, 03/12/08

Mungkin pembaca bertanya-tanya apa hubungannya antara ’Renovasi Gedung Parlemen’ dan Bedah Rumah yang jadi judul artikel diatas.

Sekilas nampaknya tidak ada hubungan antara dua kata-kata di atas. Karena yang satu berkaitan dengan perbaikan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta sementara yang satunya lagi adalah sebuah nama acara di televisi Indonesia.

Ditengah krisis ekonomi global dan tentunya berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia, ada kabar memprihatinkan dari gedung parlemen Jakarta.

Dalam situasi jatuhnya nilai mata uang rupiah dan banyaknya pengangguran serta sulitnya ekonomi masyarakat bawah, justru Sekretariat DPR melalui Badan Urusan Rumah Tangga DPR sedang mempunyai proyek merenovasi gedung DPR.

Sejumlah 546 ruangan gedung parlemen di Jakarta sedang di renovasi dan bisa menghabiskan kira-kira Rp33,4 miliar atau lebih dari budget keuangan negara.

Tentu saja program perbaikan gedung parlemen tersebut mengundang tengkarah. Tidak hanya pada masyarakat bawah tetapi juga para anggota parlemen sendiri.

Ada yang pro dan ada yang kontra terhadap renovasi gedung anggota DPR tersebut.

Bagi yang setuju, renovasi tersebut adalah hal yang wajar untuk perawatan gedung DPR dan meningkatkan kinerja anggotanya.

“Renovasi dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja anggota, karena anggota parlemen saat ini telah memiliki tenaga ahli. Dan renovasi bertujuan untuk menambahkan ruangan bagi tenaga ahli”, demikian ujar sekretaris jenderal DPR Nining Indra Shaleh.

Bagi yang kontra, program renovasi ini dipandang sebagai penghamburan uang rakyat ditengah krisis yang melanda bangsa Indonesia.

Aria Bima, anggota parlemen dari PDI Perjuangan mengatakan bahwa renovasi gedung parlemen dengan biaya puluhan miliar itu melecehkan penderitaan dan kemiskinan rakyat.

“Sekarang rakyat kebanyakan semakin sulit mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, lalu muncul proyek gagah-gagahan ini,” ujar Aria mengkritik.

Begitu juga Alvin Lie dari Partai Amanat Nasional (PAN), meminta agar renovasi gedung DPR yang sudah berjalan sejak pertengahn bulan Nopember ini dibatalkan, karena tidak mendesak dan bukan prioritas.

Apa yang dikatakan dua anggota DPR diatas nampaknya masuk akal dan perlu didukung oleh anggota parlemen lainnya.

Bayangkan, ditengah kesulitan ekonomi yang melanda rakyat akar umbi, seolah para anggota parlemen itu tidak punya rasa simpati kepada penderitaan masyarakat.

Jangankan mau dipotong gajinya seperti para pegawai kanan di Singapore, untuk bersimpati kepada rakyat kecil sahaja nampaknya enggan.

Anggota DPR perlu melihat kenyataan bahwa masih banyak warga masyarakat bawah yang kesusahan secara ekonomi sehingga tidak mempunyai rumah yang layak, apalagi rumah mewah seperti gedung DPR.

Bisa dibayangkan kalau dana miliaran rupiah untuk renovasi gedung DPR itu dipakai untuk membuat rumah sederhana bagi masyarakat miskin, berapa banyak jumlah rumah sederhana bisa dibangun.

Anggota parlemen perlu banyak belajar dari penderitaan rakyat yang menginginkan rumah yang layak untuk dihuni.

Mungkin anggota parlemen perlu sering menonton dan mengambil ikhtibar dari acara Bedah Rumah yang biasa disiarkan sebuah stasiun televisi Indonesia, RCTI.

Acara yang nampaknya terinspirasi oleh acara serupa di televisi Amerika ini digagas oleh Helmi Yahya lewat perusahaannya PT. Triwarsana.

Acara Bedah Rumah ini sangat unik karena disana dipertontonkan bagaimana kru (crew) acara Bedah Rumah merenovasi sebuah rumah milik orang miskin dalam waktu 12 jam.

Jika di televisi Amerika, acara ini memakan waktu tujuh hari untuk merenovasi sebuah rumah dan bukan dari kalangan ekonomi sulit, di RCTI waktu membedah rumah disingkat menjadi 12 jam dan rumah yang terpilih untuk di bedah adalah milik rakyat miskin.

Selama menanti rumahnya diperbaiki, pemilik diajak meninggalkan rumah untuk berpesiar dengan mobil mewah, makan di restoran, dan tinggal di hotel.

Setelah rumah beres di renovasi, pemilik diantarkan kembali ke rumah semula yang tentunya sudah sangat elok karena direnovasi oleh tim Bedah Rumah.

Luapan emosi pemilik rumah saat melihat rumahnya telah cantik berikut perabotannya inilah yang jadi andalan tayangan “Bedah Rumah”.

Meskipun acara ini ada yang mengkritik karena seolah mengeksplotasi orang miskin untuk bahan tayangan televisi, tapi dari sisi positifnya acara ini bisa membantu memperbaiki rumah yang tidak layak dihuni.

Acara ini tentunya bisa memberi inspirasi orang kaya yang mempunyai harta berkecukupan atau lebih untuk melihat realita bagaimana masyarakat bawah terutama di kampung-kampung membutuhkan pertolongan.

Acara ini juga menunjukkan bahwa potret kemiskinan terutama masyarakat yang belum punya rumah yang layak huni masih banyak di Indonesia.

Jika anggota DPR yang hidup mewah berkecukupan bisa mengambil pelajaran dari acara seperti ini, barangkali mereka akan menolak rencana renovasi gedung parlemen tersebut.

Kalau sekali acara bedah rumah menghabiskan antara 20-25 juta rupiah, maka bisa dihitung berapa rumah yang bisa dibangun dengan dana 33-40 miliar yang dipakai merenovasi gedung parlemen itu.

Apalagi kalau uang itu dipakai untuk membangun rumah-rumah sederhana yang diperuntukan buat anak-anak jalanan dan keluarga tidak mampu yang terpaksa membikin rumah kumuh dipinggir-pinggir kali di Jakarta.

Mudah-mudahan semakin banyak anggota DPR yang kritis dan peduli terhadap penderitaan rakyat miskin.

Diharapkan anggota DPR berani untuk menghentikan setiap proyek yang tidak memihak rakyat kecil.

Kalau dahulu anggota DPR dikritik karena mengadakan proyek pembagian laptop bagi anggotanya dan akhirnya dibatalkan, mudah-mudahan proyek renovasi yang tidak mendesak ini juga bisa ditinjau ulang.

Yang penting, anggota DPR jangan sampai hanya mencari muka dihadapan rakyat seolah-olah mereka memihak rakyat kecil karena menjelang pilihan raya.

Mereka harus faham bahwa duduk di gedung parlemen itu mempunya tanggung jawab moral yang berat, tidak hanya pada rakyat tetapi juga pada Tuhan.

One Response to Renovasi Gedung DPR dan Bedah Rumah

  1. abualitya says:

    Leres pisan Kang Ali…
    Tapi bapa abdi oge kaleresan Anggota Dewan. Untungna sanes Dewan Perwakilan Rakyat, tapi Dewan Kesejahteraan Masjid alias Takmir, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: