Ada Apa Dengan Iklan Politik PKS?

BH, 19/11/08

“Terima kasih guru bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS”.

Itulah kata-kata yang muncul dalam iklan politik terbaru Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di televisi Indonesia menyambut peringatan Hari Pahlawan 10 November 2008.

Kata-kata itu muncul mengiringi penayangan photo 8 tokoh nasional Indonesia yaitu Soekarno, Soeharto, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, M Natsir, Muhammad Hatta, Sudirman, dan Bung Tomo dalam iklan di televisi.

Tentu saja iklan politik yang dibuat partai politik Islam ini langsung mengundang kontroversi di masyarakat.

Tiga tokoh yang dimunculkan PKS dalam iklan tersebut yaitu KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan dan Soeharto mengundang kritik dari berbagai kalangan.

Penayangan tokoh KH. Hasyim Asyari yang pendiri organisasi Nahdhatul Ulama (NU) di protes oleh kalangan NU terutama kalangan mudanya.

Generasi muda NU seperti organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Fatayat NU, dan Gerakan Pemuda Ansor menolak hal tersebut dan meminta PKS untuk tidak memanfaatkan nama pahlawan nasional untuk bahan kampanye.

Begitu juga pemunculan tokoh KH. Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan Muhammadiyah mengundang kritik dari pengikut Muhammadiyah.

Bahkan Prof. Din Syamsuddin, ketua umum Muhammadiyah, turun tangan memprotes pemakaian nama Ahmad Dahlan dalam iklan PKS.

Menurut Prof Din, banyak kalangan Muhammadiyah di seluruh Indonesia kecewa dengan pemunculan nama pendiri Muhammadiyah itu dalam iklan PKS.

Muhammadiyah kecewa karena tokoh utama pendiri organisasi itu dikait-kaitkan dengan politik dan untuk kepentingan sesaat, apalagi tidak ada permohonan ijin dan pemberitahuan resmi kepada Muhammadiyah.

Iklan tersebut berarti melecehkan Muhammadiyah, demikian ujar Din. Meskipun tokoh Muhammadiyah bukan hanya milik Muhammadiyah, tapi PKS bisa dianggap telah melanggar etika kesantunan politik.

Penayangan dua tokoh organisasi Islam terbesar di Indonesia itu dalam iklan PKS tentunya bukan tanpa tujuan politik.

Iklan PKS dengan menampilkan Hasyim Asyari dan Ahmad Dahlan dicurigai bertujuan untuk merebut massa NU dan Muhammadiyah pada Pilihan Raya 2009 nanti.

Karena antara PKS, NU dan Muhammadiyah tidak ada akar sejarahnya maka hal ini bisa dianggap sebagai manipulasi untuk meraih simpati warga NU dan Muhammadiyah.

Anehnya PKS menolak anggapan bahwa iklan tersebut bertujuan untuk menarik dukungan warga NU dan Muhammadiyah agar memilih PKS.

Hal ini membuat kritik dari orang NU semakin keras. Solahuddin Wahid, seorang tokoh NU dan juga cucu Hasyim Asyari bahkan mengkritik PKS bahwa partai ini tidak jujur dengan kekurangannya yaitu tidak mempunyai tokoh dan pemimpin yang bisa dijadikan simbol oleh PKS.

Kalau bukan untuk menarik simpati warga NU dan Muhammadiyah, mengapa PKS tidak menggunakan tokoh-tokoh pahlawan nasional lainnya diluar Muhammadiyah dan NU seperti Pangeran Diponogoro, Teuku Umar dan yang lainnya.

Kritik yang paling tajam adalah ketika PKS mencantumkan nama Soeharto dalam iklan politiknya.

Soeharto dalam iklan tersebut disejajarkan dengan para pahlawan lainnya seperti Bung Tomo, Muhammad Natsir dan Jendral Soedirman.

Orang ramai mempertanyakan, mengapa PKS menyamakan Soeharto dengan tokoh-tokoh lainnya yang sudah diberi gelar pahlawan oleh negara, sementara Soeharto belum.

Tentunya pencantuman Soeharto dalam iklan tersebut bertujuan untuk menarik simpati pemilih orang-orang yang masih loyal dan mengagumi Soeharto.

Padahal keberadaan Soeharto masih kontroversial. Meskipun orang ramai setuju bahwa Soeharto mempunyai banyak jasa terhadap Indonesia, tapi keterpurukan Indonesia baik secara ekonomi maupun politik salah satunya karena perbuatan Soeharto dan pendukung-pendukungnya selama Orde Baru.

Iklan PKS mencantumkan Soeharto sebagai pahlawan menunjukkan bahwa partai ini tidak konsisten. Bukankah banyak tokoh PKS yang mantan aktivis mahasiswa tahun 1998 dulu menentang dan meminta Soeharto turun dari jabatannya.

Tokoh-tokoh PKS seperti Fahri Hamzah dan Rama Pratama yang sekarang menjadi anggota Dewan perwakilan Rakyat (DPR), dulu adalah aktivis mahasiswa yang rajin menyerukan Soeharto untuk turun dari jabatannya. Mengapa sekarang justru mau menjadikan Soeharto sebagai pahlawan?

Iklan politik PKS yang bertujuan menarik simpati massa pemilih pada pilihan Raya 2009 ini nampaknya bisa menjadi kebalikannya dan bisa menjadi bumerang bagi PKS.

Jangan sampai, PKS, partai Islam yang sedang naik daun dan solid justru akan jatuh karena iklan politik yang kurang berhati-hati ini.

Respons negatif terhadap iklan politik ini juga datang dari para aktivis gerakan reformasi 1998.

Contohnya, mantan aktivis Forum Kota (Forkot) Mixil Mina Munir menyebutkan bahwa ia akan menggalang kekuatan dengan aktivis 1998 lainnya untuk berkampanye tidak memilih PKS dalam Pemilu 2009.

“PKS oportunis dan ini membahayakan jika memimpin negeri ini,” demikian ujar Mina Munir.

Janganlah tokoh-tokoh elit PKS menghalalkan segala cara untuk mencapai target mendapatkan suara 20 peratus dalam pilihan raya 2009 termasuk menjadikan Soeharto sebagai pahlawan demi meraih suara pendukung partai Golongan Karya (Golkar).

Menurut ahli sejarah Dr. Asvi Warman Adam, Soeharto bukanlah seorang wira karena untuk mendapat gelar wira, seseorang harus memenuhi 2 kriteria iaitu harus memiliki jasa-jasa yang besar dan dia tidak memiliki cacat.

Ray Rangkuti, Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia, menyebutkan bahwa tak ada alasan untuk menyebut Soeharto sebagai wira dan guru bangsa karena 32 tahun kekuasan Soeharto penuh darah, Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) juga moral yang busuk.

Janganlah karena ingin mencapai target tersebut PKS mencederai slogan-nya sendiri yaitu partai yang bersih peduli dan professional.

Nampaknya slogan tersebut harus ditambahkan dengan kata ’konsisten’. Artinya, kalau dulu tokoh-tokoh PKS menghujat dan meminta Soeharto turun dari jabatannya, berarti PKS harus konsisten tidak menyebutnya sebagai pahlawan.

Akhirnya, massa pemilihlah yang akan menilainya, apakah iklan politik PKS itu akan meningkatkan suara PKS pada pilihan raya 2009 atau sebaliknya?

Hanya waktu yang bisa menjawabnya, berhasil atau gagalkah komunikasi politik PKS yang identik dengan partai bersih dan anti KKN ini?

Atau jangan-jangan PKS sudah berubah haluan, berpikir pragmatis dan sama saja dengan partai politik lainnya yaitu berbuat korupsi ketika sudah berkuasa. Mudah-mudahan tidak.

3 Responses to Ada Apa Dengan Iklan Politik PKS?

  1. Uni says:

    Hmm, yang pasti PKS yang saya kenal tidak begitu. PKS tetep menjadi partai yang bersih, dan bebas KKN. ditengah2 dari keberagaman partai yang ada di Indonesia, saya belum melihat, partai yang se Peduli PKS. Ayolah, sampai kapan lagi kita bertahan di tengah2 negeri yang serba maksiat ini. sekaranglah saatnya, untuk kita memperbaiki bangsa ini, lewat kita memperbaiki diri sendiri, tidak hanya kelincahan berbicara, tetapi juga kelincahan kita dalam menaangani masalah2 yang ada. Ayo saudaraku, kita pasti bisa merubah indonesia ini, yakinlah.. pasti bisa!!

  2. smoga tidak menimbulkan dampak negatif

  3. ahli_sufiharaki says:

    pks tetap yang terbaik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: