Melestarikan Seni Wayang Golek

BH, 01/10/08

Mendengar kata wayang golek mengingatkan saya akan masa kecil tahun 80-an ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Ayah yang memang menyukai pertunjukkan wayang selalu mengajak saya menonton pertunjukkan ini.

Seni tradisional khas masyarakat Sunda ini bukan ditonton di gedung mewah dengan fasilitas modern seperti di Esplanade (Singapore) atau Opera House (Sydney).

Kami biasa menontonnya di ruang terbuka didekat rumah sebuah keluarga yang mempunyai hajat pesta pernikahan atau khitanan.

Adalah menjadi tradisi dan kebanggan bagi sebuah keluarga kaya kalau pada acara pernikahan atau khitanan anaknya mampu mengundang sebuah group wayang golek.

Hanya orang-orang kaya saja di kampung kami yang bisa mendatangkan group wayang karena memang mahal ongkos sewanya.

Disitulah kami orang-orang kampung bisa menikmati hiburan kesenian Sunda secara bersama-sama berdesak-desakan tua, muda dan anak-anak.

Kami senang karena bisa bertemu langsung dengan dalang dan pesinden (penyanyi) terkenal yang biasanya hanya bisa didengar suaranya lewat acara wayang golek di radio atau ditonton di televisi daerah.

Tak heran kalau sejak kecil saya cukup familiar dengan beberapa dalang terkenal dari Jawa Barat seperti Abah Sunarya, Cecep Supriadi dan juga Asep Sunandar Sunarya. Begitu juga dengan tokoh-tokoh wayangnya seperti Gatotkaca, Arjuna, Astrajingga (Cepot) dan Dewala.

Rupanya selain untuk hiburan dan mengambil pelajaran dari cerita wayang yang isinya menceritakan tokoh baik selalu menang melawan tokoh jahat, orang tua secara tidak langsung ingin mengajarkan anaknya tentang bahasa, budaya dan seni tradisional Sunda.

Sekarang, kalau kita tanya anak-anak Sekolah Dasar di Bandung khususnya dan Jawa Barat pada umumnya, mereka akan lebih kenal dengan tokoh seperti Superman, Batman, Satria Baja Hitam dan tokoh-tokoh kartun lainnya daripada tokoh-tokoh wayang seperti Gatotkaca dan Arjuna.

Anak-anak sekarang lebih senang menonton film kartun yang heroik produksi Jepang, Amerika dan negara lainnya dibanding dengan mengenal budaya dan seni tradisional daerah seperti wayang golek. Karenanya, tokoh-tokoh dalam film itulah yang lebih mereka kenal dan mereka jadikan idola.

Pertanyaannya, mengapa anak-anak merasa asing dan tidak tertarik dengan tradisi seni budaya lokal? Apakah karena memang seni itu tidak menarik ataukah karena kurangnya perhatian orang tua atau juga pemerintah dalam mengenalkan seni itu pada anak-anak khususnya pelajar?

Nampaknya kombinasi alasan antara tidak menarik dan kurangnya promosi dari orang tua, juga pemerintah menjadi sebab anak-anak sekarang di daerah Pasundan kurang mengenal dan tidak bisa menikmati seni tradisional seperti wayang.

Padahal, seni wayang bukan hanya bisa dijadikan hiburan, tapi juga bisa dijadikan sarana untuk mengenalkan kepada anak tentang budaya dan bahasa daerah Sunda.

Bahasa Sunda bisa terus dilestarikan lewat cerita dan pertunjukan wayang golek yang memang disampaikan dalam bahasa daerah.

Bahkan pelajaran moral dan penanaman nilai-nilai kebaikan agama juga bisa disebarkan lewat pertunjukkan wayang.

Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa juga menggunakan pertunjukan wayang sebagai alat berkomunikasi dengan masyarakat ketika itu.

Dengan derasnya serbuan sarana hiburan alternatif seperti film heroik superman, batman dan satria baja hitam, maupun film kartun lainnya seperti doraemon, sincan di televisi dan dalam bentuk DVD, harus menjadi bahan pemikiran bagi para tokoh budaya Sunda agar seni tradisional daerah tidak hilang ditelan zaman.

Karenannya perlu diapresiasi apa yang sedang di programkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bandung yaitu mengajak siswa Sekolah Dasar untuk menonton wayang bersama-sama.

Sebagai contoh, pada tanggal 26 Agustus 2008, ratusan siswa SD di Bandung didampingi guru-gurunya menyaksikan pertunjukkan wayang golek di Padepokan Seni di Kota Bandung.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Bandung, Drs. M. Askary W. Seperti dikutip koran Pikiran Rakyat (27/8) menyebutkan bahwa program ini akan terus dilaksanakan diseluruh sekolah di kota Bandung. Minimal tiga bulan sekali, mereka akan mengajak siswa-siswa SD menyaksikan pertunjukkan wayang.

Ide program ini disambut dengan hangat oleh para praktisi wayang seperti dalang Asep Dede Amung bersama group seni yang dipimpinnya Pusaka Munggul Pawenang.

Nampaknya program ini juga perlu dicontoh oleh dinas Kebudayaan dan Pariwisata di daerah-daerah lainnya di Jawa Barat seperti Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Kuningan.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tingkat provinsi Jawa Barat tidak hanya perlu mensosialisasikan tetapi juga perlu memberikan perhatian khusus dari segi pendanaan akan program ini.

Pihak berwenang juga perlu terus memperhatikan bagaimana caranya seni tradisional ini tetap hidup dan bertahan dari serbuan seni budaya mancanegara.

Jika seni budaya ini kurang diperhatikan dan kurang diminati oleh masyarakat dan generasi muda khususnya, bisa jadi seniman yang terlibat dalam pertunjukkan wayang akan meninggalkan profesi ini.

Kalau para seniman ini tidak bisa mengandalkan mencari uang lewat seni tradisonal wayang, maka dengan sendirinya mereka akan mencari sumber mata pencaharian yang lain.

Lebih jauh lagi, transfer ilmu menjadi dalang dan memainkan wayang akan berhenti karena tidak ada anak muda yang mau belajar untuk menjadi dalang atau pesinden, jika profesi ini tidak memberikan nilai ekonomis.

Nampaknya, usaha yang dilakukan oleh dinas kebudayaan dan Pariwisata kota Bandung ini perlu terus didukung oleh semua pihak. Tidak hanya oleh seniman daerah tapi juga oleh masyarakat secara umum.

Jika program ini tidak ditindaklanjuti, jangan salahkan anak-anak kalau mereka kurang mengenal tokoh pewayangan dan budaya daerahnya sendiri.

Mudah-mudahan generasi yang akan datang masih akan mengenal siapa itu Astrajingga atau Gatotkaca, tokoh pewayangan yang bisa dijadikan tokoh idola. Bukan hanya mengenal tokoh-tokoh fiktif lainnya yang dikenal lewat film-film kartun di televisi.

One Response to Melestarikan Seni Wayang Golek

  1. Sukron Abdilah says:

    Seandainya Batman dan Superman menari jaipong, saya rasa anak-anak akan lebih mengakrabi kebudayaannya. Ah, itu hanya angan-angan. Sebab, kebanyakan kita hanya menghadapkan lokalitas dengan globalitas secara “hitam putih”. Akhirnya tidak akan pernah menemukan kesatuan misi. Seandainya, Superman, tokoh hero anak-anak di Amerika dalam satu adegannya menari jaipong atau menyanyikan “Bunga Seroja”-nya si Mahar, saya kira anak-anak akan mulai menyukai seni dan budayanya. Hebat, kang, kalau Film seperti Superman bisa dibumikan dalam tataran masyarakat Sunda dengan adegan-adegan yang mengangkat cita rasa lokal. Seperti Pizza yang menggunakan bahan makanan lokal. Salam Kenal ti Rai kelas (Bentar), kalau betul kang Ali alumni Bentar. Moga tidak salah!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: