Akankah Rokok di Fatwa Haram?

BH, 10/09/08

Kata rokok mengingatkan saya pada kebiasaan seorang bapak-bapak, tetangga di kampung, yang tidak bisa lepas dari kecanduannya menghisap rokok.

Gara-gara rokok ini tidak jarang saya mendengar tetangga tersebut bertengkar dengan isterinya.

Dengan penghasilan yang pas-pasan dari untung jualan di kedai kecil di rumahnya, isteri seorang tetangga tersebut protes kepada suaminya untuk berhenti merokok.

Si isteri protes karena laba dari satu bungkus rokok yang dia jual di kedainya hanya sama dengan harga satu batang rokok, sementara suaminya menghabiskan dua sampai tiga bungkus rokok sehari.

Nampaknya peristiwa bertengkar kecil-kecilan seperti suami-isteri tetangga saya itu banyak juga terjadi pada keluarga lain yang suaminya perokok berat.

Sudah bukan rahasia bahwa banyak juga perokok di Indonesia berasal dari kalangan ekonomi lemah seperti penarik becak atau tukang ojeg.

Mereka biasanya merokok sambil menunggu penumpang. Padahal penghasilan dari menarik becak atau ojeg perhari mungkin rata-rata hanya cukup untuk membeli dua atau bungkus rokok sahaja.

Kalau diminta untuk membiayai sekolah anak, para penarik becak itu beralasan tidak punya uang tapi kalau untuk membeli rokok ada.

Padahal jika uang untuk membeli tiga bungkus rokok perhari itu ditabung, maka uang itu lebih dari cukup untuk membiayai sekolah anaknya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Makanya adalah perlu dicontoh bahwa ada sebuah sekolah di Bandung yang biasa memberikan beasiswa kepada anak-anak tidak mampu dengan syarat bapaknya tidak suka merokok.

Meskipun si anak itu dari keluarga miskin, tetapi bapaknya merokok, maka si anak tidak akan mendapatkan beasiswa.

Sekarang, ada kabar bahwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) sedang mendiskusikan kemungkinan mengeluarkan fatwa haram bagi rokok.

Saya tidak membahas perdebatan bagaimana Islam berbicara tentang hukum merokok: haram, makruh atau boleh? Saya lebih tertarik mendiskusikan kelebihan dan kekurangan jika rokok diharamkan di Indonesia lewat fatwa MUI.

Belum juga fatwa haram itu keluar dari lembaga agama paling otoritatif di Indonesia, sudah timbul pro dan kontra bila MUI jadi mengharamkan rokok.

Bagi kalangan yang setuju, mereka mendukung MUI untuk segera mengeluarkan fatwa haram rokok.

Banyak alasan yang dikemukakan oleh pendukung pengharaman rokok ini, mulai dari alasan pemborosan, kesehatan dan pengaruh negatif lainnya bagi anak-anak.

Merokok memang bisa dikategorikan sebagai perbuatan menghambur-hamburkan uang dan pemborosan yang dilarang oleh ajaran Islam. Berapa banyak uang perbulan yang ’dibakar’ dengan sia-sia oleh perokok. Bukankah pemborosan dan menyia-nyiakan harta untuk hal yang tidak perlu merupakan perbuatan syaitan yang dibenci agama.

Merokok juga merupakan kegiatan melukai diri sendiri dan menimbulkan penyakit yang serius bagi pelakunya dan akhirnya bisa menyebabkan kematian.

Bukankah Islam dengan tegas melarang umatnya untuk membinasakan dan merusak diri sendiri sebagaimana disebutkan Al-Quran. “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195).

Bahkan World Health Organization (WHO) mencatat sekitar 346 ribu orang Amerika meninggal setiap tahun karena merokok. Dan sekitar 90% dari 660 orang penderita kanker di sebuah hospital di Cina disebabkan rokok. Bisa dibayangkan berapa kira-kira jumlah kematian dan penderita kanker di seluruh dunia yang disebabkan rokok?

Merokok juga sangat berbahaya bagi anak-anak terutama remaja. Tidak hanya berbahaya bagi bayi yang ada dalam kandungan, tetapi juga merokok merupakan langkah awal seorang remaja mengisap narkotik dan obat-obat terlarang lainnya.

Penghisap ganja atau jenis narkotik lainnya dikalangan remaja di Indonesia biasanya dimulai dari coba-coba menghisap rokok. Mungkin juga hal ini terjadi di negara-negara lainnya.

Karenanya banyak yang setuju terutama orang tua di Indonesia yang khawatir dengan masa depan anak-anaknya agar fatwa haram merokok dari MUI segera dikeluarkan.

Permasalahannya, jika MUI jadi mengeluarkan fatwa haram merokok di Indonesia, banyak hal yang perlu dipertimbangkan masak-masak oleh lembaga ini.

Banyak sekali pihak yang terlibat secara ekonomis dalam usaha rokok, mulai dari tenaga kerja di pabrik rokok, pedagang rokok asongan, petani tembakau dan pajak yang masuk ke negara.

Ratusan ribu bahkan jutaan pegawai yang bekerja di pabrik rokok di seluruh Indonesia bisa kehilangan pekerjaannya jika rokok diharamkan.

HM. As’ad, Ketua Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman mencatat bahwa di Kudus sahaja ada tujuh juta orang yang terlibat dalam bisnis rokok.

Begitu juga para petani cengkih dan tembakau akan terkena pengaruhnya karena susah menjual hasilnya yang merupakan bahan utama pembuatan rokok.

Jika pabrik rokok berhenti berproduksi, pemerintah Indonesia juga akan kehilangan devisa dari pajak rokok yang diperkirakan sebesar 50 triliun rupiah lebih per tahun.

Selain alasan-alasan ekonomis diatas, fatwa pengharaman rokok oleh MUI juga bisa menimbulkan masalah sosial di masyarakat.

Bukan mustahil bahwa kelompok Islam ’garis keras’ yang rajin mengadakan sweeping toko-toko penjual minuman keras, juga akan melakukan hal serupa terhadap para penjual rokok dengan alasan fatwa haram dari MUI.

Memang sangat dilematis kelihatannya jika fatwa haram rokok jadi dikeluarkan. Tidak hanya bagi MUI tetapi juga bagi pemerintah Indonesia.

Saya setuju bahwa merokok banyak kejelekannya terutama bagi kesehatan. Apalagi merokok yang dilakukan oleh kalangan ekonomi lemah yang berarti menghamburkan dan pemborosan uang seperti para tukang becak, tukang ojeg dan jiran saya seperti disebutkan di atas.

Tetapi mencegah merokok dengan fatwa haram melalui lembaga agama seperti MUI juga nampaknya kurang bijaksana. Kalau toh banyak madharatnya, akan lebih baik kalau kampanye bahaya merokok terus didengungkan oleh pemerintah terutama lembaga-lembaga kesehatan.

Kesadaran pribadi berhenti merokok karena tahu bahayanya bagi kesehatan nampaknya akan lebih effektif dibanding dengan hanya sekedar pelarangan lewat fatwa dari MUI. Disini MUI perlu belajar kepada negara lain yang pernah memfatwa haram rokok, sejauhmana efektifitasnya dalam mengurangi jumlah perokok.

Kita tunggu, apakah MUI akan berani mengeluarkan fatwa haram itu? Jika dengan pertimbangan matang dan pertimbangan lebih banyak manfaatnya bagi kemaslahatan masyarakat luas, nampaknya turunnya fatwa haram itu perlu ditunggu.


2 Responses to Akankah Rokok di Fatwa Haram?

  1. harry says:

    saya sangat tidak setuju kalau fatwa rokok haram jadi disahkan.tp sangat setuju kalo cukup dilakukan dg himbauan tentang bahaya merokok.masalahnya sisi positif dan negatifnya tidak berimbang.efeknya akan sangat luas.terima kasih!

  2. snhadi says:

    Hidup MUI yang sudah berani memfatwakan rokok haram jika dilakukan di tempat umum, dilakukan oleh anak-anak dan wanita hamil!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: