Menanti Tokoh Muda Menjadi Presiden

BH, 03/09/08

“Berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncang dunia” (Soekarno).

Itulah kata-kata presiden Indonesia pertama Soekarno mengomentari semangat juang yang ada pada pemuda. Bagi Soekarno sepuluh orang pemuda yang penuh semangat dan dedikasi yang tinggi bisa membuat sebuah bangsa merdeka dari penjajahan bahkan bisa mengguncang dunia.

Tentunya pemuda dalam terminologi usia saja tidak cukup. Soekarno punya kriteria dan syarat-syarat yang lain. Mereka haruslah orang yang bersemangat, punya jiwa nasionalisme yang tinggi, dan yang lebih penting kata Soekarno “yang hatinya terus berkobar.”

Kata-kata Soekarno tersebut seolah masih sangat signifikan jika melihat perjalanan bangsa Indonesia yang sampai sekarang masih belum mampu menjadi bangsa yang disegani di dunia baik dari segi ekonomi maupun politik.

Apalagi menjelang pemilihan presiden tahun depan, kata-kata Soekarno tersebut seolah menantang para pemuda untuk tampil maju ’menggoncang’ jagat politik Indonesia.

Bukan rahasia lagi bahwa menjelang pemilihan presiden, tokoh-tokoh politik yang tampil masih dihegemoni oleh para politisi tua. Sebut saja tokoh-tokoh lama yang kemungkinan tampil kembali mencalonkan diri sebagai presiden seperti Megawati (61), Yudhoyono (60), Sutiyoso (64), Wiranto (61) dan Jusuf Kalla (66). Semuanya berusia di atas 60 tahun.

Nampaknya hegemoni para politisi tua tersebut mulai disadari oleh para tokoh pemuda di Indonesia.

Hal ini didukung dengan munculnya tokoh muda bernama Obama dalam perpolitikan Amerika yang baru berusia 47 tahun dan menjadi calon presiden dari Partai Demokrat.

Di era globalisasi dengan kehebatan teknologi informasi, majunya tokoh Obama meskipun nun jauh di Amerika dengan mudah dan cepat bisa mempengaruhi situasi politik dimana-mana termasuk di Indonesia.

Pidato Obama yang menggugah dan inspiratif (yang bisa disaksikan di youtube) dengan mudah bisa menginspirasi tokoh-tokoh muda di Indonesia untuk mencontoh tampil ke publik mencalonkan diri merebut kursi presiden.

Tak heran kalau pada peringatan sumpah pemuda pada 28 Oktober tahun lalu, lebih dari 600 orang tokoh muda di Indonesia mendeklarasikan apa yang disebut dengan ”Saatnya Kaum Muda Memimpin”.

Dalam deklarasi ini para pemuda dan tokoh pemuda berikrar bangkit membangun Indonesia yang sejahtera sebagaimana diserukan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Deklarasi itu sekarang sudah semakin menjalar ke ranah politik. Tak heran kalau partai-partai politik peserta pemilu 2009 sudah mulai memasukan banyak calon dari kalangan pemuda dalam daftar calon anggota parlemen untuk menarik simpati rakyat.

Bahkan PKS, salah satu partai Islam yang cukup menjanjikan sudah mulai berani mendeklarasikan diri bahwa partainya hanya akan mendukung tokoh ”balita” (dibawah lima puluh tahun) sebagai calon presiden Indonesia.

Akhir-akhir ini tidak hanya media, bahkan diskusi dan seminar-seminar di kampus-kampus di Indonesia banyak mengupas bagaimana dan siapa tokoh muda yang bisa dimunculkan menjadi calon presiden Indonesia sebagai calon alternatif.

Siapa kira-kira tokoh muda yang bisa diharapkan tampil menjadi presiden Indonesia menggantikan para politisi tua yang sekarang masih ingin maju mencalonkan diri menjadi presiden?

Sebenarnya banyak sekali tokoh muda dibawah usia 50 tahun yang sudah bergelut di partai politik di Indonesia. Sebut saja Yuddy Chrisnandi, Ferry Mursyidan Baldan dan Priyo Budi Santoso dari Golkar. Untuk PDIP ada Pramono Anung, Arya Bima dan Maruarar Sirait.

Di PKB ada Muhaimin Iskandar, Yenny Wahid dan Lukman Edy. Di PPP ada Lukman Hakim. PAN ada Drajad Wibowo dan Zulkifli Hasan. Juga PKS ada Tifatul Sembiring, Hidayat Nur Wahid dan Anis Mata. Di Partai Demokrat ada Anas Urbaningrum dan Andi Malarangeng.

Anehnya kalau lewat jalur partai politik, ternyata partai-partai tersebut kecuali PKS masih mencalonkan tokoh-tokoh tua untuk calon presidennya.

Dari jalur independen sekarang sudah mulai muncul tokoh-tokoh muda yang berani mengiklankan diri di media untuk maju sebagai calon presiden. Sebut saja Rizal Mallarangeng (Direktur Eksekutif Freedom Institute) dan Fadjroel Rahman (Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan). Permasalahannya, sampai saat ini system pemilihan presiden di Indonesia belum memungkinkan calon independen untuk maju.

Undang-undang politik masih mensyaratkan seorang calon mutlak harus didukung atau dicalonkan oleh partai politik kalau mau maju menjadi calon presiden. Artinya, para calon independen muda itu mau tidak mau harus bisa mendapat dukungan dari partai politik.

Selain harus mendapat dukungan dari partai politik, seorang calon presiden yang berasal dari kaum muda harus mampu menawarkan visi, misi dan program konkret yang lebih berani dan progresif dibanding tokoh-tokoh tua.

Bagi tokoh muda, nampaknya mereka perlu menawarkan gagasan-gagasan yang tegas dan lugas bagi kemajuan Indonesia.

Sebagai contoh, tokoh muda harus berani mau menawarkan pemberantasan korupsi di Indonesia tanpa pandang bulu atau kebijakan zero tolerance to corruption.

Kalau perlu, tokoh muda harus berani mengatakan bahwa jika terpilih menjadi presiden mereka akan berani menggantung para koruptor seperti pemimpin China yang menyediakan ’peti mati’ bagi para penjahat kekayaan negara.

Tokoh muda juga diharapkan berani mengikrarkan diri sebagai tokoh alternatif yang siap menegosiasi ulang perjanjian penggalian bahan tambang dan minyak bumi di Indonesia dengan perusahaan-perusahaan asing. Tokoh muda harus berani seperti Hugo Chavez dari Venezuella yang dielu-elukan oleh rakyatnya karena berani menasionalisasi industri tambang di negaranya. Begitu juga dengan tokoh Eva Morales di Bolivia.

Mereka harus berani mengatakan kepada perusahaan-perusahaan minyak asing seperti Exxon, Caltex dan Schlumberger untuk menegosiasi ulang perjanjian bagi hasil yang menguntungkan bagi negara, dan kalau tidak mau harus angkat kaki dari Indonesia.

Tokoh muda juga harus berani menegosiasi ulang dengan perusahaan pertambangan lainnya seperti Freeport perusahaan penambangan asal Amerika demi pembagian hasil yang menguntungkan untuk pemerintah.

Bahkan jika perlu, tokoh muda harus dengan jantan mengajukan ’pernyataan politik’ di depan publik bahwa dia hanya akan menjabat satu periode saja jika nanti gagal memperbaiki nasib bangsa.

Pertanyaan selanjutnya, akankah para tokoh muda dengan visi, misi dan program yang hebat itu bisa memenangkan persaingan merebut jabatan presiden Indonesia?

Menurut hasil survey lembaga Indo Barometer pada Juni 2008, tampilnya kaum muda itu cukup menjanjikan. Ini terbukti dengan hasil survey yang menyebutkan bahwa mayoritas publik Indonesia (62%) setuju dengan usul agar ada lebih banyak pemimpin masa datang berusia muda. Meski masih ada 22% yang tidak setuju.

Jika usia menjadi faktor penentu (di luar faktor-faktor lainnya) maka publik lebih cenderung memilih calon pemimpin usia muda (45%) ketimbang usia tua (26%).

Dari beberapa alasan memilih usia tua yang paling dominan adalah pengalaman sementara alasan memilih usia muda yang terbesar adalah semangat yang lebih besar.

Kendala terberat bagi kaum muda berdasarkan survey itu adalah tingkat pengenalan publik yang masih terbatas dan kalah dengan tokoh-tokoh senior mereka.

Artinya, para tokoh muda harus terus mengiklankan diri dengan visi dan programnya agar semakin dikenal publik.

Kita tunggu, akankah kita melihat Indonesia pada tahun 2009 dipimpin oleh presiden dari kalangan muda? Nampaknya hal itu bukanlah hal yang mustahil, sebagaimana iklan politik yang sering muncul di televisi Indonesia yang digagas oleh Rizal Mallarangeng yang berminat untuk maju menjadi calon presiden pada pemilu 2009 dengan slogannya: ”If there is a will there is a way”. Semoga.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: