Jombang Ternoda?

BH, 20/08/08

Jombang, sebuah kota kabupaten di Jawa Timur akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia.

Biasanya Jombang diasosiasikan dengan kehebatannya melahirkan tokoh-tokoh nasional, baik itu di bidang politik maupun pemikiran keagamaan.

Sebut saja, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dialah tokoh asal Jombang yang pernah menjadi presiden Indonesia yang sampai sekarang masih diakui ketokohannya. Kakek Gus Dur, K.H. Hasyim As’ari pendiri organisasi Nahdhatul Ulama juga kelahiran Jombang.

Begitu juga almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur), dia tokoh pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia yang sampai sekarang masih melegenda namanya adalah asli Jombang. Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dengan grup gamelan Kyai Kanjeng-nya juga berasal dari Jombang.

Diantara deretan tokoh Jombang yang berjasa pada negara Indonesia, terselip nama yang membuat semua orang terkejut, dialah Very Idam Henyansyah atau Ryan.

Ryan membuat seluruh media massa di Indonesia baik itu televisi maupun koran berlomba-lomba meliputnya. Ini dikarenakan perbuatan sadisnya melakukan pembunuhan berantai. Sudah 11 orang ditemukan polisi sebagai korban pembunuhan sang ’algojo’ dari Jombang ini.

Ryan sangat sadis dalam melakukan pembunuhan. Selain mayat korbannya di kubur di halaman dan depan rumah, korban malah ada yang di mutilasi (dipotong-potong).

Kejadian ini cukup mengejutkan masyarakat Indonesia. Mengapa Ryan yang asli Jombang, dengan pembawaan yang kalem bahkan pernah menjadi ustadz mengajar ngaji anak-anak dilingkungannya begitu sadis dalam membunuh orang?

Prilaku Ryan mengingatkan orang pada John Wayne Gacy, seorang pemain badut dari Chicago Amerika (sehingga dijuluki Clown Killer) yang pernah melakukan pembunuhan berantai sampai memakan korban 33 orang.

Beberapa ahli mulai menganalisa dan menduga-duga apakah Ryan mempunyai penyakit psikopat atau skizofrenia? Atau dia tidak mengidap penyakit apapun alias sehat dan berbuat sadis dengan sadar?

Yang pasti, Ryan mempunyai orientasi sexual suka sesama jenis atau homosexual. Beberapa korbannya bahkan disinyalir sebagai ’teman kencan’ Ryan yang berjenis kelamin laki-laki.

Karena orientasi sexualnya itu, banyak yang memberikan cap negatif bagi kelompok homosexual. Padahal ini hanya kebetulan saja bahwa Ryan, sang pembunuh memang seorang homosexual.

Karenanya kalangan aktivis perempuan di Indonesia mengeluarkan press release yang berisi himbauan kepada media massa agar pemberitaan kasus kriminal Ryan tidak dihubungkan dengan orientasi seksual pelaku yang dapat memberikan stigmatisasi kepada kelompok homoseksual.

Untuk memahami prilaku Ryan, La Kahija seorang pengajar di fakultas psikologi Universitas Diponegoro Semarang, menyarankan untuk tidak hanya melihat sisi pribadi Ryan sebagai penyebabnya.

Memang sangat sulit untuk menentukan penyebabnya. Apakah betul karena alasan pribadi Ryan yang terserang psikopat dengan ciri-ciri tidak ada rasa empati, merasa tidak bersalah, emosi tidak terkontrol dan prilaku yang tidak bertanggungjawab?

Padahal ada juga sisi positif seorang psikopat seperti disebutkan Dr. Harvey Cleckley dalam bukunya “The Mask of Sanity” (1947) yaitu pribadi yang menyenangkan, mempesona, cerdas, impresif, dan sangat percaya diri.

Nampaknya label seorang psikopat pada Ryan belum bisa sepenuhnya memahami alasan mengapa dia membunuh begitu sadis. Buktinya banyak psikopat yang tidak membunuh, begitu juga banyak pembunuh yang bukan psikopat.

Nampaknya perlu pemahaman psikologis dan sosiologis yang komprehensif untuk memahami prilaku menyimpang yang ekstrem pada kepribadian Ryan.

Menurut La Kahija, dalam ilmu jiwa ada istilah yang disebut dengan gestalt yang berarti kesatuan tidak terpisahkan. Maksudnya, membicarakan prilaku Ryan berarti harus juga membicarakan prilaku masyarakat yang berada di sekitar Ryan termasuk perlakuan kelompok masyarakat terhadap Ryan sebagai satu kesatuan.

Kelihatannya apa yang disebutkan La Kahija cukup tepat, kita tidak bisa memvonis kelakuan Ryan hanya menyalahkannya sendiri, apalagi hanya melihat orientasi sexualnya saja. Kita juga harus melihat bagaimana prilaku masyarakat disekitar kita secara keseluruhan.

Mungkinkah prilaku Ryan juga disebabkan karena kurang perhatiannya lingkungan masyarakat termasuk keluarga terhadap Ryan?

Jika melihat data yang disodorkan oleh Kepolisian Indonesia, ada trend peningkatan kriminalitas pembunuhan di Indonesia. Contohnya selama lima bulan pertama di tahun 2008, telah terjadi 559 kasus pembunuhan. Sementara di sepanjang tahun 2007, hanya terjadi 941 kasus. Artinya, jumlah kejadian pembunuhan di tahun ini sudah melampaui 50 persen jumlah di tahun 2007.

Nampaknya dampak budaya konsumerisme (pola hidup yang konsumtif) membuat tingkat kriminalitas di Indonesia semakin meningkat.

Zakarias Poerba, Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) menyebutkan bahwa kejahatan juga dipengaruhi oleh rapuhnya sistem berkelompok, menguatnya individualisme dan materialisme, rapuhnya keluarga, dan minimnya kesempatan berekreasi.

Faktor-faktor di atas bisa menyebabkan meningkatnya ketegangan individu dan mendorong seseorang berbuat kriminal.

Mungkin betul apa yang dikatakan kriminolog dari UI tersebut. Serangan budaya konsumerisme dan semakin rapuhnya fungsi keluarga sebagai tempat yang nyaman untuk berinteraksi sesama anggotanya dan meningkatnya budaya individualistis telah memacu tindakan kriminal seseorang termasuk Ryan.

Karenanya, masyarakat perlu mengambil pelajaran dari kasus Ryan tersebut. Jangan sampai kejadian ini berulang di tempat lain.

Mudah-mudahan ini hanyalah kasus yang tidak bisa digeneralisir. Karena, kalau budaya individualistis dan konsumerisme betul sudah menjadi penyebab utama Ryan melakukan pembunuhan, berarti tatanan kehidupan di kota sekecil Jombang pun sudah terpengaruh, apalagi kota-kota lain di Indonesia yang lebih besar dari Jombang.

Terakhir, masyarakat nampaknya perlu terus meningkatkan kewaspadaan bahwa kriminalitas yang ekstrem tidak hanya bisa terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta tetapi juga bisa terjadi di kota kecil seperti Jombang.


One Response to Jombang Ternoda?

  1. ari says:

    Saya kira Jombang tidak akan ternodai hanya ulah satu atau lebih orang – orang Jombang yang menjagal ada Ryan, ada Sumiarsih yang membunuh Letkol Marinir yang sekarang sudah dihukum mati, dulu era tahun 1960 an ada Husin yang tinggal di Tugu Jombang juga penjagal beberapa orang. Tapi Jombang juga melahirkan orang – orang gedhe semisal Guis Dur, Cak Nur, Cak Nun sang kyai kanjeng, Imam Utomo yang sudah pensiun jadi gubernur, dan tokoh – okoh nasional lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: