ICIS Bersidang Saja Tidak Cukup

BH, 13/08/08

Tanggal 29 Juli-1 Agustus lalu, organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdhatul Ulama (NU) menjadi tuan rumah penyelenggaraan International Confrence of Islamic Scholars (ICIS) yang ketiga di Jakarta.

Pertemuan itu pesertanya sebagian besar berlatarbelakang ulama (Islamic scholars) dari berbagai negara terutama negara-negara Islam di dunia. Tercatat lebih dari 300 peserta dari 66 negara hadir di Jakarta.

Pertemuan ini mengambil thema “Upholding Islam as Rahmatan lil-‘Alamin: Peace Building and Conflict Prevention in the Muslim World”.

Dari thema di atas, nampaknya konfrensi ini mempunyai dua tujuan utama:

Pertama sebagai sarana untuk bertukar pikiran sesama ulama dalam merumuskan konsep dan strategi bagaimana caranya menjadikan Islam sebagai agama yang memberikan rahmat bagi seluruh masyarakat dunia (alam semesta).

Menjadikan Islam sebagai rahmat bagi dunia sangatlah penting terutama di zaman kontemporer sekarang ini ketika umat Islam lebih di image kan sebagai kelompok yang ‘bukan memberikan rahmat’ tetapi sebaliknya seolah-olah umat Islam sebagai penebar kekerasan. Kejadian September 11 di Amerika dan bom bunuh diri di Bali sering dikaitkan dengan prilaku orang Islam.

Kekerasan yang dilakukan oleh sebagaian orang yang mengaku beragama Islam dan mengatasnamakan jihad fisabilillah telah mencoreng nilai-nilai Islam yang berisi rahmat tersebut.

Tujuan diutusnya Rasulullah Muhammad SAW, sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam semesta sebagaimana tercantum dalam Al-Quran“wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin”, seolah dibajak oleh prilaku kekerasan yang dilakukan oleh segelintir orang Islam.

Padahal, rahmat yang merupakan inti diturunkannya agama Islam berkali-kali disebutkan dalam Al-Quran. Begitu juga Islam sebagai agama rahmat telah dipertegas oleh pernyataan Rasulullah sendiri yang mengatakan bahwa tujuan beliau diutus ke dunia ini tiada lain adalah untuk menyempurnakan akhlak (etika) umat manusia agar memiliki akhlak yang mulia.

Akhlak mulia adalah moral dan nilai-nilai kemanusiaan universal yang harus dijunjung tinggi oleh umat manusia. Kejujuran, keadilan, saling menghormati dan menyayangi orang lain adalah inti dari etika yang sangat dijunjung tinggi oleh ajaran Islam. Sementara, kekerasan, kesombongan, dan kezaliman apalagi prilaku terror adalah bagian dari akhlak madzmumah (etika jahat) yang bertentangan dengan ajaran Islam sebagai pemberi rahmat.

Tujuan kedua dari pertemuan ICIS adalah bagaimana ulama-ulama Islam bisa mencegah atau bahkan ikut menyelesaikan konflik yang berbau agama baik itu konflik internal yang melanda umat Islam atau konflik di luar Islam yang mengatasnamakan agama.

Konflik internal umat Islam yang berkepanjangan antara kaum syiah dan sunni di beberapa negara Islam seperti yang terjadi di Iraq perlu terus dicarikan solusinya. Juga konflik berbau agama yang melibatkan umat Islam seperti di Thailand dan Phillipine perlu mendapat perhatian.

Menyelesaikan konflik internal dikalangan umat Islam adalah penting sebelum umat Islam bisa dipercaya oleh masyarakat dunia untuk berpartisipasi dalam menyelesaikan konflik yang lebih luas.

Jika mengatasi konflik internal saja umat Islam belum mampu maka jangan berharap kalau umat Islam ingin dipercaya sebagai umat yang rahmatan lil-’alamin dan bisa membantu menyelesaikan konflik di dunia.

Karenanya, perbincangan tentang Islam rahmatan lil-‘alamin dalam pertemuan ICIS ini adalah penting bukan hanya bagi kepentingan organisasi NU dan muslim Indonesia,tetapi juga bagi dunia Islam pada umumnya.

Bersyukur, pertemuan ICIS ini berhasil melahirkan 13 poin dengan apa yang disebut dengan Jakarta Message (pesan dari Jakarta).

Diantara poin yang cukup penting dari pertemuan itu adalah pembentukan ulama sans frontieres atau ulama lintas batas. Nampaknya pembentukan ’lembaga’ ini sebagai langkah awal dalam upaya kerja sama antara ulama yang tergabung dalam ICIS untuk bersama-sama mencegah konflik di dunia Islam.

Pembentukan lembaga ini sangat penting karena kumpulan ulama lintas batas bisa dijadikan alternatif dalam menyelesaikan konflik baik itu dalam internal umat Islam maupun external.

Biasanya, pendekatan kultural lewat dialog yang dilakukan oleh ulama dalam menyelesaikan konflik bisa dijadikan alternatif dibanding dengan pendekatan politik atau kekuatan militer yang di mobilisasi oleh negara.

Poin penting lain dari Pesan Jakarta adalah semangat ulama yang tergabung dalam ICIS untuk kembali berkomitmen mencegah konflik antar komunitas Islam sendiri. Menjadikan ummah yang rahmatan lil-’alamin memang harus diberi contoh dari kalangan umat Islam itu sendiri.

Dalam pandangan Ketua NU K.H. Hasyim Muzadi, pertemuan ICIS bisa dijadikan sarana untuk memperkuat diplomasi negara-negara Islam di dunia. Muzadi mengatakan: ”Kekuatan diplomasi sebuah negara sangat ditentukan oleh kondisi dalam negeri mereka, baik secara politik, ekonomi, keamanan, maupun kemajuan budaya”.

Artinya jika secara internal diplomasi negara-negara Islam itu lemah, maka mereka tidak akan mempunyai bargaining position yang tinggi dalam diplomasi yang lebih luas (internasional).

Mudah-mudahan pertemuan ICIS dengan Jakarta Message dan terbentuknya lembaga ’ulama lintas batas’, tidak hanya berisi kesepakatan di atas kertas tapi ditindaklanjuti dalam aksi yang real.

Keberadaan ICIS dengan lembaga ’ulama lintas batas’ diharapkan bisa menutupi kelemahan lembaga sebelumnya seperti OKI (Organisasi Konfrensi Islam). Kerjasama diantara dua lembaga ini perlu terus dihidupkan agar saling mengisi dalam memperjuangkan Islam sebagai rahmat bagi semua.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: