Jakarta: Serahkan Kepada Ahlinya?

BH, 06/08/08

Today, high-rises dot the skyline, hundreds of thousands of vehicles belch fumes on congested traffic arteries and super-malls have become the cultural centers of gravity in Jakarta… In between towering super-structures, humble kampongs house the majority of the city dwellers, who often have no access to basic sanitation, running water or waste management (Andre Vltchek)

Itulah kesan seorang jurnalis dan novelis Amerika Andre Vltchek ketika berkunjung ke Jakarta. Bagi Andre, Jakarta jauh dari harapannya sebagai kota Metropolitan yang sering didengung-dengungkan oleh pemerintah Indonesia.

Kemacetan disana sini dan perumahan kumuh warganya begitu tampak ironi terselip diantara bangunan-bangunan bertingkat dan pusat-pusat belanja.

Membaca komentar Andre di atas, sebagai warga Indonesia saya merasa prihatin. Jakarta sebagai ibukota negara dan kota terbesar keempat di dunia harusnya menjadi kota kebanggan warga Indonesia. Nampaknya Jakarta memang perlu segra mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia untuk dibenahi.

Jangan dibandingkan dengan kota-kota maju di Amerika atau belahan Benua Eropa seperti Paris, London atau Madrid, dibandingkan dengan kota-kota besar di Asia Tenggara seperti Singapore, Kuala Lumpur dan Manila saja, Jakarta sudah mulai ketinggalan.

Sebagai ibukota negara, seharusnya Jakarta sudah mulai membenahi diri agar menjadi kota yang nyaman bukan hanya bagi penduduknya tetapi juga bagi para pelancong yang datang ke Indonesia.

Nampaknya Jakarta harus berlari cepat membenahi diri jika tidak ingin menjadi kota yang terasing dari pergaulan internasional.

Jika mencontoh kota terdekatnya di negeri jiran Singapore, nampaknya Jakarta perlu membenahi beberapa hal jika ingin disebut kota yang menjunjung tinggi peradaban.

Pertama, Jakarta perlu memberi ruang bagi para pejalan kaki (pedestrians). Adalah hal yang sangat penting bagi para pengambil kebijakan di Ibukota untuk memperhatikan hal ini. Kenyamanan para pejalan kaki di Orchad Road Singapore perlu dijadikan contoh.

Sangat prihatin memang melihat jalan-jalan utama di Jakarta yang kurang aman bagi para pejalan kaki apalagi bagi para disabled. Kota Jakarta kurang memberikan ruang bagi para penyandang cacat dalam hal akses jalan. Apalagi padatnya para pengendara sepeda motor yang sering mengambil jalan di trotoar sangat membahayakan bagi pejalan kaki.

Pembangunan jalur trotoar yang representatif bagi pejalan kaki juga perlu dilakukan bersamaan dengan pembangunan drainase-drainasi saluran air agar tidak terjadi banjir ketika musim hujan. Adalah sangat memalukan ketika beberapa jadwal penerbangan terpaksa delay dan dibatalkan karena jalan tol menuju Bandara Soekarno Hatta terendam banjir di awal tahun 2008. Banjir tahunan yang selalu melanda Jakarta perlu segera dicarikan solusinya.

Kedua, kenyamanan sebuah kota akan terasa lengkap apabila ada taman terbuka untuk bermain anak-anak dan keluarga. Tengoklah taman-taman bermain di Singapore, tidak hanya tersedia di pusat kota, bahkan diantara pemukiman penduduk (HDB) taman bermain itu disediakan.

Di Jakarta, hanya beberapa buah saja taman terbuka bisa ditemui. Itupun kadang-kadang sudah kurang bisa dinikmati karena kekurangan fasilitas dan kurangnya perawatan. Taman-taman yang rindang yang bisa mengurangi polusi dan enak di pandang mata seolah hilang dari keindahan kota Jakarta.

Kurangnya taman bermain terbuka di Jakarta membuat program bulanan yang disebut dengan Car-Free Day di jalan-jalan utama di Jakarta sejak September 2007 yang pada mulanya ditujukan untuk mengurangi polusi, banyak dijadikan tempat bermain oleh anak-anak dan keluarga. Acara rutin setiap bulan ini juga mengundang kontroversi karena membuat susah bagi orang-orang yang akan melewati jalan yang terkena program ’hari bebas mobil ini’.

Ketiga, untuk mempernyaman penduduk dan pengunjung ke Jakarta, pemerintah perlu memperbanyak perpustakaan-perpustakaan umum di ibukota yang bisa diakses oleh warganya. Lagi-lagi, Jakarta perlu mencontoh Singapore yang menyediakan perpustakaan umum di setiap distrik untuk melayani kehausan warganya membaca.

Jangankan koran gratis yang biasanya dibagikan tiap pagi di Singapore, perpustakaan umum pun kurang memadai tersedia di Jakarta. Padahal sumber informasi seperti perpustakaan dan koran merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah kota modern. Perpustakaan dan sumber informasi lainnya seperti koran bisa dijadikan simbol sejauhmana masyarakat sebuah kota merasa perlu dan menghargai ilmu pengetahuan.

Keempat, sebagai simbol modernism, biasanya sebuah kota mempunyai museum yang cukup representatif. Museum yang lengkap dan terawat rapi tidak hanya bisa dijadikan sebagai sarana warga ibukota mengetahui sejarah kotanya tetapi juga bisa dijadikan tempat wisata murah bagi penduduknya.

Mungkihkah hal-hal seperti itu bisa diwujudkan dan dilaksanakan oleh para pemegang kebijakan di Ibukota? Hal itu terpulang kepada pemerintah dalam hal ini Gubernur DKI Jakarta.Bukankah kampanye pemilihan gubernur terpilih periode 2007-2012 Fauzi Bowo yang dilantik pada tanggal 7 Oktober 2007 mengeluarkan slogan: ”Jakarta: Serahkan Kepada Ahlinya”.

Artinya, sang gubernur dan tim-nya sudah mengklaim diri sebagai pihak yang cukup ahli dan mampu untuk membenahi kesemerawutan Jakarta menuju kota yang aman, damai dan nyaman untuk tempat tinggal dan dikunjungi.

Masih ada waktu bagi Fauzi Bowo untuk terus memperbaiki keadaan Jakarta menjadi kota yang lebih nyaman bukan hanya bagi penduduknya tapi juga bagi para pelancong.

Selain terus berusaha memperbaiki sarana dan prasarana yang ada, mungkin pemerintah pusat di Jakarta perlu juga memikirkan kembali ide untuk memindahkan urusan pemerintahan ke luar Jakarta.

Pembangunan pusat pemerintahan Putra Jaya seperti dilakukan pemerintah Malaysia nampaknya perlu dilihat sebagai alternatif oleh pemerintah Indonesia. Begitu juga pengalaman Australia menjadikan Canberra sebagai pusat pemerintahan dan bukan Sydney yang lebih difokuskan sebagai kota bisnis perlu dicontoh Jakarta.

Memindahkan pusat pemerintahan ke luar Jakarta seperti ke daerah Jonggol, Jawa Barat yang pernah digagas pada masa Soeharto nampaknya perlu didengungkan kembali.

Pemindahan ibukota keluar Jakarta selain berguna untuk mengurangi kemacetan dan kesemerawutan kota Jakarta juga akan bermanfaat secara ekonomis.

Jika Jakarta tidak segera berbenah, jangan salahkan kalau para pelancong dari luar negeri semakin memandang Jakarta dari sisi negatifnya seperti dilukiskan Andre, jurnalis dari Amerika itu. Kesan negatif ini pada akhirnya akan berimplikasi pada semakin menurunnya pelancong datang ke Jakarta dan secara otomatis merugikan Jakarta dari sisi ekonomi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: