Pelajaran dari Amerika Untuk Pemilu Indonesia

BH, 30/07/08

Today, as I suspend my campaign, I congratulate him on the victory he has won and the extraordinary race he has run. I endorse him, and throw my full support behind him. And I ask all of you to join me in working as hard for Barack Obama as you have for me. (Hillary Clinton, 07/06/08).

Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Hillary Clinton ketika menyampaikan pidato resmi kekalahan dirinya oleh Barrack Obama sebagai calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat.

Dengan kekalahan Hillary tersebut, pemilihan presiden Amerika mencatat sejarah baru yaitu untuk pertama kalinya dalam sejarah politik Amerika seorang senator berkulit hitam terpilih menjadi calon presiden.

Meskipun proses pemilihan presiden di Amerika belum selesai, konvensi pemilihan calon presiden ditingkat partai di negeri Paman Sam tersebut layak dijadikan contoh, terutama bagi Indonesia yang tahun depan akan mengadakan pemilihan umum anggota parlemen dan pemilihan langsung presiden.

Memang Indonesia bukan Amerika yang memiliki sejarah demokrasi lebih tua yang dianggap sudah mapan dan memiliki system pemilu yang berbeda. Tetapi paling tidak proses pemilihan pendahuluan di Amerika layak dijadikan contoh oleh Indonesia dalam konteks kedua negara ini merupakan negara dengan penduduk yang besar, multikultural, multi etnik dan multi agama.

Ada beberapa alasan mengapa Indonesia perlu mencontoh dan belajar dari Amerika dalam hal pemilihan presiden terutama dari dua kandidat partai Demokrat Obama dan Hillary.

Pertama, meskipun persaingan sangat ketat dan sengit antara Hillary dan Obama, tetapi ternyata Amerika bisa menyelenggarakannya dengan aman dan damai tanpa kekerasan.

Proses yang damai seperti ini tentunya dikarenakan system dan peraturan penyelenggaraan konvensi partai dan peraturan pemilu yang tegas, tertata dengan baik dan dijalankan dengan konsekuen.

Hal ini perlu ditiru oleh penyelenggara pemilu di Indonesia yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk membuat dan mempersiapkan sebaik mungkin aturan untuk pemilihan umum tahun 2009. Gagal mempersiapkan paket undang-undang dan aturan pemilu yang jelas, tegas dan detail dikhawatirkan bisa merusak kesusksesan pesta demokrasi lima tahun tersebut.

Partai-partai politik di Indonesia juga harus siap menerima dan menjalankan semua peraturan pemilu yang dibuat KPU dengan konsekuen dan sportif.

Kedua, menerima kekalahan seperti yang ditunjukkan oleh Hillary yang memberikan ucapan selamat kepada Obama dan juga mengajak pendukungnya untuk mendukung Obama patut untuk dicontoh.

Dalam pidato resminya seperti dikutip di atas, Hillary tanpa ragu mengajak seluruh pendukungnya untuk mensupport Obama agar berhasil menjadi presiden Amerika.

Meskipun pidato itu dikritik beberapa kalangan sebagai upaya Hillary membujuk Obama agar memilih dirinya sebagai calon Wakil Presiden mendampinginya, pidato Hillary tersebut perlu diberikan acungan jempol.

Sikap negarawan dari seorang politisi seperti Hillary perlu dicontoh oleh para politisi dan juga para pendukung partai politik di Indonesia. Para calon presiden di Indonesia perlu mencontoh bagaimana mempersiapkan diri menerima dengan lapang dada jika kalah dalam pemilu.

Politisi Indonesia baik ditingkat lokal maupun nasional perlu belajar dewasa dalam menyikapi kekalahan dalam pesta demokrasi. Seringnya politisi atau partai politik meminta KPU menghitung ulang kertas suara merupakan salah satu cermin kurang gentlenya para politisi kita menerima kekalahan.

Ketiga, sikap para pendukung Hillary yang menerima kekalahan dan tidak anarkis juga perlu dicontoh.

Siap menerima kekalahan dari seorang pemimpin akan berpengaruh signifikan bagi para pendukungnya. Jika pemimpinnya dengan dewasa menerima kekalahan maka pendukung partai tidak akan berlaku anarkis.

Bagi masyarakat Indonesia, kedewasaan pendukung Hillary juga perlu dijadikan contoh. Rakyat tidak perlu membabi buta mendukung seorang calon dan siap menerima calon pemimpin lain jika memang ada yang lebih baik dan didukung oleh masyarakat yang lebih banyak.

Keempat, kemenangan Obama sebagai calon kulit hitam yang merupakan etnis minoritas juga perlu dicontoh.

Bagi masyarakat Indonesia yang multi etnik, multi ras dan multi agama, perlu mencontoh bagaimana rakyat Amerika mau mendukung seorang calon yang kredible meskipun dari kalangan minoritas.

Artinya, rakyat Indonesia juga bisa mencontoh dengan selalu siap menerima calon kalaupun ternyata calon itu berasal dari kelompok minoritas, baik itu kelompok agama maupun suku minoritas, sejauh calon yang maju menunjukkan kredibilitasnya yang layak untuk dipilih.

Contohnya, rakyat Indonesia harus mampu meninggalkan pandangan bahwa presiden harus berasal dari suku Jawa yang memang mayoritas. Meskipun berasal dari suku lain di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi atau daerah lainnya sepanjang calon itu mempunyai kemampuan untuk menjadi presiden maka perlu didukung.

Karena proses pemilihan presiden di Amerika belum selesai, kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya ketika Obama berhadapan dengan John McCain calon dari Partai Republik.

Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi baik itu kemenangan atau kekalahan Obama ketika nanti berhadapan dengan McCain, keberhasilan Obama jika terpilih menjadi presiden Amerika akan mempunyai pengaruh signifikan bagi image demokrasi Amerika.

Akankah rakyat Amerika memilih Obama sehingga sedikit banyaknya akan memberikan image bahwa mereka telah siap menerima Presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika? Atau justru sebaliknya Obama akan kalah dan memberikan kontribusi terhadap asumsi sinis bahwa Gedung Putih memang hanya untuk orang berkulit putih?

Jika pada saatnya nanti ternyata Obama bisa menjadi presiden Amerika, maka rakyat Amerika perlu bangga sebagai negara yang mengklaim paling demokratis di dunia dan siap menerima pemimpin dari kalangan minoritas sebagai konsekwensi aturan demokrasi.

Jika itu terjadi, adalah sepantasnya bagi negara-negara di dunia terutama negara yang multi etnik dan multi agama seperti Indonesia untuk tidak ragu lagi mencontoh Amerika dalam hal hak asasi manusia dan demokrasi. Kita tunggu hasil akhir dari pesta demokrasi tersebut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: