Peringatan Hari Lahir Pancasila dan Kekerasan Agama

BH, 18/06/08

Pada tanggal 1 Juni 2008, rakyat Indonesia memperingati hari lahir Pancasila yang ke 63.

Pancasila adalah ideologi negara dan merupakan simbol kerukunan dan pemersatu bangsa yang multikultural, multi etnik dan multi agama bernama Indonesia.

Kata Pancasila diambil dari bahasa Sansakerta yang berarti lima dasar. Kelima dasar ideologi negara Indonesia itu adalah: 1) Ketuhanan Yang Maha Esa, 2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, 3) Persatuan Indonesia, 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawatan/Perwakilan dan 5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Seharusnya di hari peringatan Pancasila, rakyat Indonesia merenungkan kembali makna toleransi dan saling menghargai sesama warga negara dibalik lahirnya ideologi Pancasila.

Sayang, tepat pada tanggal1 Juni lalu, terjadi kekerasan yang berbau agama.

Sekelompok orang yang disinyalir berasal dari kelompok Front Pembela Islam (FPI) menyerang dan membubarkan kelompok menamakan diri Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang berencana memperingati hari lahir Pancasila.

Beberapa orang dari kelompok AKKBB mengalami luka dan harus dilarikan ke Rumah sakit. Diantara yang luka adalah Dr. Syafii Anwar dari International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Ahmad Suaedi dari Wahid Institute, M. Guntur Romli dari Jurnal Perempuan dan lain-lain.

AKBB memang beranggotakan organisasi-organisasi yang mendukung pluralisme dan kebebasan beragama di Indonesia seperti International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Indonesian Committee on Religions for Peace (ICRP), Wahid Institute (WI), Jaringan Islam Liberal (JIL) dan lain-lain.

Kelompok AKBB berada di lapangan monas Jakarta untuk memperingati kelahiran Pancasila dan menyuarakan kembali kebebasan beragama di Indonesia sebagai salah satu poin penting Pancasila.

Isu utama yang diangkat oleh AKBB diantaranya adalah mengajak masyarakat untuk menghormati kalangan agama manapun yang berada di Indonesia.

Mereka memandang bahwa, salah satu kelompok agama yang bernama Ahmadiyyah yang dituntut untuk dibubarkan terutama oleh kelompok FPI, harus dilindungi oleh negara.

Bagi AKKBB, Indonesia sebagai negara yang berasaskan Pancasila bukan negara Islam. Dan karenanya, setiap kepercayaan dan keyakinan agama di Indonesia harus dilindungi oleh negara.

Jika melihat sejarah lahirnya Pancasila pada tahun 1945, justru kelahirannya merupakan kompromi antara kelompok nasionalis dan kelompok Islam ketika kelompok Islam ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.

Mengingat Indonesia terdiri dari beberapa suku dan agama, maka tokoh-tokoh founding fathers Indonesia sepakat menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara supaya Indonesia tidak terpecah-pecah. Jika Indonesia berlandaskan Islam, maka masyarakat dari Indonesia bagian Timur yang mayoritas bukan Muslim pada waktu itu akan memisahkan diri dari Indonesia.

Perbedaan pendapat antara kelompok AKBB dan pendukung pluralisme dan kebebasan beragama dan FPI yang menentangnya memang sering terjadi di Indonesia.

Dalam menyikapi aliran-aliran keagamaan seperti Ahmadiyyah, Salamullah (Lia Eden), Al-Qiyaddah Al-Islamiyah dan ide-ide liberalism, secularism dan pluralism, dua kelompok besar ini selalu bertentangan atau terjadi Ghazwatul Fikri (perang pemikiran).

Bagi kalangan FPI dan pendukungnya, Ahmadiyyah, Salamullah, dan kelompok-kelompok Islam yang mendukung liberalism, pluralism dan secularism adalah kelompok yang sesat dan karena itu harus dibubarkan. Mereka memandang bahwa aliran-aliran tersebut telah menodai ajaran Islam.

Sementara bagi kalangan Muslim lainnya seperti Jaringan Islam Liberal dan aliansinya di AKKBB, kelompok-kelompok minoritas keagamaan meskipun dianggap sesat oleh FPI harus dilindungi oleh negara dengan alasan hak asasi manusia dan Indonesia bukan negara Islam.

Perang pemikiran antara dua kelompok besar ini terus terjadi di Indonesia. Dua kelompok besar ini masing-masing mempunyai massa dan medianya sendiri dalam mempopulerkan pandangannya.

Sebenarnya perang pemikiran kedua kelompok ini adalah bagus bagi tumbuhnya kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat dan demokratisasi di Indonesia.

Kedua-duanya berhak mengembangkan ide-idenya di masyarakat dan rakyat Indonesia tinggal memilih mana yang mereka anggap bisa diterima dan sesuai dengan keyakinan mereka.

Sayang, kebebasan berpendapat itu dinodai dengan kekerasan secara pisik seperti yang terjadi dalam kasus penyerangan FPI terhadap AKKBB.

Terlepas dari siapa yang memulai dan memprovokasi kejadian tersebut, kekerasan yang dilakukan FPI yang beratribut dan membawa nama Islam mau tidak mau membuat image Islam menjadi jelek.

Kalau melihat tayangan televisi di Indonesia yang diputar berulang-ulang hampir oleh seluruh stasiun Televisi, sebagai umat Islam kita akan ngeri dan menyesalkan hal itu terjadi.

Kekerasan berlabel agama itu, seolah-olah membenarkan apa yang dituduhkan Geertz Wilders dalam film dokumenternya ”Fitna” bahwa Islam identik dengan kekerasan.

Sikap yang dilakukan Presiden Yudhoyono yang mengecam kekerasan tersebut perlu dihargai. Kecaman Yudhoyono ditindak lanjuti secara baik oleh kepolisian Indonesia dengan menangkap para pelaku kekerasan dalam kerusuhan Monas tersebut.

Tindakan polisi tersebut perlu didukung masyarakat. Karena jika polisi membiarkan kasus kekerasan dan pelakunya tidak ditangkap dan tidak diproses secara hukum akan menodai rasa keadilan dan hilangnya supremasi hukum dimata masyarakat.

Jika supremasi hukum sudah hilang maka kekerasan akan semakin menjadi-jadi dan tidak bisa dikontrol.

Nampaknya, masyarakat Indonesia apapun agamanya harus menjadikan kasus ini menjadi pelajaran bahwa kekerasan apalagi atas nama agama harus dihentikan.

Masyarakat harus diingatkan kembali akan pentingnya rasa toleransi, saling menghormati dan saling menolong sebagaimana tercantum dalam ideologi negara Pancasila.

Jika terjadi perbedaan pendapat dimasyarakat, seperti perbedaan dalam menyikapi keberadaan Ahmadiyyah dan kelompok-kelompok agama minoritas lainnya, sebaiknya dilakukan dengan cara berdialog, bukan dengan kekerasan dan penyerangan.

Kekerasan atas nama agama justru akan menodai ajaran agama itu sendiri dalam hal ini Islam yang justru secara bahasa berarti keselamatan atau kedamaian.


4 Responses to Peringatan Hari Lahir Pancasila dan Kekerasan Agama

  1. JarIK Bdg says:

    Besar harapan kami bila bapak berkenan memberikan izin kepada kami untuk memuat kambali tulisan ini di blog sekaligus media cetak kami [bulletin].

    Makasih

  2. alinur says:

    Silahkan kalau mau dimuat di blog dan buletin anda.

  3. Untuk menyelesaikan kekerasan agama dengan cara membedah kitab-kitab suci agama-agama bacalah melalui Buku Panduan Terhadap Kitab-kitab Suci Agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema
    Penerbit: GOD-A CENTRE
    Berisi XX+527 halaman disertai lampiran 4 gambar skema terpisah berukuran 63×60 cm:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    disambut hangat tertulis oleh:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” SekDitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal ASgama millennium ke-3 masehi.

    Buku tersebut diatas tersedia:
    ditoko buku K A L A M
    Jl. Raya Uatan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Tel. 62-21-8573388

  4. Buku Panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema
    Penerbit GOD-A CENTRE

    I. Telah diserahkan pada hari senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti Musdah Mulia, MA, Islam, Ahli Peneliti Utama (APU) Balitbang Diklat Departeman Agama R.I. untuk diteliti sampai kepada kesimpulan menenrima atau menolak dengan hujjah sebagaimana hujjah yang terdapat didalam buku itu sendiri.

    II. Telah dibedah oleh:

    A. DR. Abdurrahman Wahid (GUSDUR), Islam, Presiden R.I. ke-4 tahun 1999-2001.

    B. Prof DR. Budiya Pradipta, Penghayat Ketuhanan Yang Maha Esa, dosen FIPB Universitas Indonesia.

    C. Prof. DR. Usman Arif, Konghucu, dosen ilmu filsafat Universitas Gajah Mada.

    D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, sebagai moderator, seorang peneliti Al Quran sebagaiamana Soegana Gandakoesoema meneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, setaraf dengan Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun, anak paman Siti Kahdijah 40 tahun, isteri Muhammad saw. 25 tahun, sebelum turun wahyu kepadanya 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun.
    Pertanyaannya yang sulit untuk dijawab akan tetapi sangat logis dan wajar untuk dikemukakan adalah Siti Khadijah dan Muhammad sebelum turun wahyu adalah seorang yang baik, amanah, patonah, sidik amin dll. mereka berdua menikan dengan cara ritual agama apa dan beragama apa?

    E. Disaksikan oleh 500 peserta seminar dan bedah buku yang diakhir oleh sesi dialog tanya-jawab. Apabila waktu tidak dibatasi, maka akan mengulur panjang sekali disebabkan banyaknya gairah pertanyaan yang diajukan oleh para hadirin dari berbagai penganut agama dan kepercayaan keyakinan.

    F. Pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00 – 14.30, diauditorium Perpustakaan Nasional R.I., jl. Salemba Raya 28A, Jakarta 10002, diacara Seminar & Bedah Buku hari/tanggal selasa 27 Mei s/d. Kamis 29 Mei 2008, dalam rangka peringatan satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional “dan kebanghkaitan agama-agama 1301-1401 hijriah, 1901-2001 masehi” dengan tema menurut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri roh Pancasila Indonesia.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: