Akankah Partai Golkar Bertahan Pada Pemilu 2009?

BH, 28/05/08

Partai Golongan Karya (Golkar) adalah salah satu partai politik besar di Indonesia. Bahkan pada masa jayanya di zaman Soeharto, partai ini terus mendapatkan kemenangan setiap pemilihan umum dilaksanakan.

Ketika Soeharto turun dari jabatan presiden karena tuntutan reformasi pada tahun 1998, Golkar mulai merasakan goncangan politik dan dihujat oleh masyarakat Indonesia. Golkar dipandang sebagai partai politik yang menyebabkan terjadinya krisis di Indonesia dan dihujat karena praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Tak heran, kalau pada pemilihan umum 1999, satu tahun setelah Soeharto jatuh, partai ini tidak lagi menjadi pemenang pemilu, Golkar dikalahkan Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) pimpinan Megawati Soekarno Putri.

Meskipun kalah pada pemilu 1999, dengan kepiawaian ketuanya Akbar Tanjung, Golkar mampu cepat berintrospeksi dan berkonsolidasi yang akhirnya memenangkan kembali pemilihan umum 2004. Sayang waktu itu Akbar dikalahkan oleh Wiranto dalam konvensi partai Golkar untuk menjadi calon presiden, dan akhirnya Wiranto pun kalah oleh Yudhoyono dalam pemilihan presiden tahun 2004.

Kekalahan Golkar menjadikan Wiranto sebagai presiden dan kemenangan Jusuf Kalla (kader Golkar) menjadi wakil presiden yang berpasangan dengan Yudhoyono membuat Akbar diganti oleh Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada tahun 2004.

Sekarang, menjelang pemilihan umum 2009 dibawah kepemimpinan Jusuf Kalla yang juga Wakil Presiden Indonesia, muncul pertanyaan, apakah Golkar akan mampu meraih kemenangan pada pemilu 2009?

Pertanyaan ini wajar muncul ditengah dinamika politik Indonesia yang terus memanas menjelang pemilu tahun depan. Apalagi pada pemilihan gubernur di dua propinsi yang merupakan basis pendukung Golkar yaitu di provinsi Jawa Barat dan Sumatera Utara, calon dari Golkar dikalahkan oleh calon-calon dari partai yang lebih kecil seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Kekalahan calon Golkar pada pemilihan gubernur menurut Kastorius Sinaga, pengamat politik dan dosen Universitas Indonesia, paling tidak menunjukkan adanya pesan penting yang perlu dicermati oleh Golkar dan parta politik besar lainnya yaitu mitos selalu berjayanya partai besar sebagai pembawa perubahan, berakhir sudah. Rakyat lebih memilih tokoh muda alternatif untuk memimpin Indonesia meskipun berasal dari partai kecil.

Sementara Alfan Alfian menyebut kekalahan pada pilihan gubernur sebagai ancaman bagi Partai Golkar. Kekalahan banyak calon Golkar memberikan sinyal ‘lampu kuning’ dan ’warning politik’ bagi Golkar tentang nasibnya pada pemilu 2009.

Hal ini harus disikapi serius oleh tokoh-tokoh Golkar dan harus memicu semangat pengurus dan kader partai untuk berkonsolidasi.

Golkar nampaknya perlu terus meningkatkan loyalitas dan militansi kadernya seperti partai-partai lainnya. Nampaknya Golkar perlu belajar dari PKS dalam hal kesolidan dan militansi kadernya.

Golkar juga perlu mempertimbangkan regenerasi kepemimpinan di internal partai. Bukan rahasia lagi bahwa dibandingkan partai-partai yang lebih kecil, Golkar terlalu di dominasi oleh politisi tua. Nampaknya proses regenerasi dan demokrastisasi internal partai perlu terus disosialisasikan.

Bagi Jusuf Kalla, sebagai ketua umum partai, nampaknya perlu meningkatkan dan mengintensifkan komunikasi politik dengan kader, pendukung dan simpatisan Golkar dilapisan bawah. Komunikasi politik dengan ’grassroots people’ perlu terus digalakan oleh sang ketua umum. Loyalitas kader dan simpatisan sebuah partai politik akan banyak bergantung kepada sejauhmana ketua partai mampu berkomunikasi dengan mereka.

Dalam menghadapi pemilu 2009, Golkar juga harus pandai-pandai mengemas isu politik yang akan dijadikan ’jualan’ kampanye partai. Inovasi isu dan tawaran program yang diusung Golkar pada pemilu tahun depan harus benar-benar dikaji oleh partai ini. Golkar harus mampu mengusung program-program unggulan apa saja yang bisa menarik simpati rakyat kebanyakan.

Apalagi jika pemerintah jadi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Golkar mau tidak mau akan terkena imbasnya karena dipandang sebagai partai yang menjalankan pemerintahan dikarenakan posisi Jusuf Kalla sebagai wakil presiden. Kenaikan BBM yang membebani ekonomi rakyat kebanyakan akan dianggap sebagai kegagalan Yudhoyono dan Kalla dalam meningkatkan ekonomi Indonesia.

Padahal, sebelum pemerintah menaikkan BBM pun, image partai Golkar di masyarakat bawah terus menurun. Menurut pengamat politik Yudi Latif, berdasarkan survei lembaga yang dipimpinnya Reform Institute pada bulan Januari-Februari 2008, dukungan masyarakat terhadap partai Golkar terus menurun. Dalam laporan survei itu, Golkar hanya diminati oleh 16,1% pemilih, kalah oleh PDIP yang diminati oleh 19,3% pemilih.

Bahkan pendukung Golkar yang memilih partai ini pada tahun 2004 pun kurang mendukung partai Golkar pada tahun 2009. Rakyat yang memilih Golkar pada Pemilu 2004 dan kemungkinan tetap memilih partai ini pada 2009 tinggal 64%. Kalah dibanding partai lain seperti PDIP 73% dan PKS 71%.

Berdasarkan performence diatas, baik kekalahannya pada beberapa pemilihan gubernur dan juga turunnya popularitas berdasarkan survei Reform Institute, adalah menjadi tantangan besar bagi Golkar terutama ketua umumnya Jusuf Kalla untuk berpikir serius bagaimana meningkatkan kembali popularitas partai ini.

Golkar nampaknya perlu juga mengkaji ulang tentang rangkap jabatan yang biasa dijabat oleh tokoh-tokoh partainya dimasa yang akan datang. Banyak tokoh partai Golkar yang merangkap jabatan sebagai tokoh partai dan juga jabatan eksekutif dipemerintahan. Yang paling kelihatan adalah rangkap jabatan Jusuf Kalla sebagai ketua Umum Golkar dan Wakil Presiden.

Waktu pemilu yang semakin dekat, membuat partai ini harus segera berpacu dengan waktu. Jika gagal meningkatkan konsolidasi, loyalitas kader dan gagal membuat terobosan inovasi program yang akan ditawarkan pada konstituen dalam waktu yang sempit ini, akan membuat partai Golkar ditinggalkan pendukungnya. Kita tunggu inovasi dan usaha apa yang akan dilakukan Golkar untuk mencegah partai ini mengalami ’tsunami politik’?.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: