Fenomena Artis Jadi Politisi

BH, 30/04/08

Tanggal 23 April 2008, masyarakat dan elit politik di Jawa Barat dikagetkan dengan terpilihnya pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf sebagai gubernur dan wakil gubernur. Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) menetapkan bahwa pasangan ini mendapatkan dukungan 42 peratus suara mengungguli dua pasangan lainnya yang masing-masing hanya memperoleh 33 peratus dan 24 peratus suara pemilih.

Pasangan ini mengalahkan dua pasangan lainnya yang lebih diunggulkan sebelumnya untuk menjadi gubernur Jawa Barat yaitu pasangan Danni Setiawan-Iwan Sulanjana dan juga pasangan Agum Gumelar-Nu’man A. Hakim.

Pasangan Danni-Iwan diunggulkan karena Danni adalah gubernur Jawa Barat sekarang (incumbent) berpasangan dengan Iwan yang berlatar belakang militer dan mantan Panglima Kodam Siliwangi Jawa Barat serta didukung oleh partai besar Golongan Karya (Golkar).

Sementara pasangan Agum-Nu’man diunggulkan karena Agum adalah mantan Menteri Perhubungan dan pernah menjadi calon presiden pada pemilihan umum 2004, sementara Nu’man masih menjabat wakil gubernur Jawa Barat ditambah mereka diusung oleh koalisi partai-partai besar termasuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan juga Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Kemenangan pasangan Heryawan-Dede yang diusung oleh koalisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) membuat orang bertanya-tanya, apa kelebihan pasangan ini sehingga bisa menarik warga Jawa Barat untuk memilihnya?

Selain karena faktor bekerjanya mesin partai PKS tempat Heryawan aktif berpolitik, banyak pengamat mengatakan bahwa faktor Dede Yusuf sebagai artis terkenal yang membuat pasangan ini dipilih banyak orang di Jawa Barat.

Yusuf Macan Effendy  atau lebih dikenal dengan nama Dede Yusuf memang adalah salah seorang aktor film terkenal yang mencoba terjun ke politik.

Pada tahun 1980-1990-an, Dede banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia karena banyak tampil di sinetron TV dan juga membintangi film terutama film remaja dan film laga. Tidak hanya para remaja yang mengidolakan acting Dede di layar lebar tetapi juga para ibu rumah tangga yang simpati dengan ketampanan dan kesantunan Dede dalam bermain film. Diantara Film yang dibintanginya adalah Catatan Si Boy (1987), Jendela Rumah Kita (1990) Perwira dan Kesatria (1990) dan Jalan Membara (1994).

Seiring dengan terjadinya gelombang reformasi tahun 1998 di Indonesia, Dede tertarik dengan dunia politik, dan aktif menjadi politisi Partai Amanat Nasional (PAN) yang didirikan oleh Bapak reformasi Amien Rais. Karenanya, pada pemilihan umum tahun 2004, Dede terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk periode 2004-2009.

Untuk lebih meningkatkan perannya di dunia politik, Dede mencoba mendaftar menjadi calon wakil gubernur dari PAN berkoalisi dengan calon dari PKS, dan akhirnya menang dan berhak menjadi wakil guburnur Jawa Barat untuk periode 2008-2013.

Kemenangan Dede sebagai calon yang berprofesi sebagai aktor, semakin memperkuat asumsi bahwa aktor dan artis di Indonesia cukup potensial untuk menarik suara pemilih. Sebelum Dede terpilih, actor terkenal lainnya yaitu Rano Karno yang lebih dikenal dengan sebutan ‘si Doel’ karena bermain dalam sinetron TV yang sangat populer ‘Si Doel Anak Sekolahan’, secara resmi pada 23 Maret 2008 dilantik menjadi Wakil Bupati Tangerang. Rano Karno yang berpasangan dengan Ismet Iskandar didukung oleh lebih dari 56 persen warga Tangerang untuk menjadi wakil bupati dalam pemilihan kepala daerah.

Rano adalah artis serba bisa dan sangat popular sejak dia masih kanak-kanak. Pada usia 9 tahun Rano sudah bermain dalam film Lewat Tengah Malam (1969). Film-film tekenal lainnya yang dibintangi Rano adalah Si Doel Anak Betawi (1972), Rio Anakku (1973), Gita Cinta Dari SMA (1979), Nostalgia di SMA (1980), Ranjau-ranjau Cinta (1985) dan yang paling popular adalah sinetron TV ‘Si Doel Anak Sekolahan’ yang pertama diputar di stasion TV Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) tahun 1996.

Aktor dan artis Indonesia lainnya yang terjun ke politik adalah Adji Massaid, Angelina Sondakh, dan Qomar. Semuanya sekarang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Pengamat Politik Indra J. Piliang dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta memprediksi bahwa pada pemilu 2009, para artis yang potensial akan menjadi rebutan partai-partai politik sebagai ‘vote getter’.

Nampaknya pernyataan Indra ada benarnya karena masyarakat Indonesia selain mengharapkan adanya tokoh-tokoh muda yang siap menjadi pemimpin politik baik itu di tingkat daerah (menjadi bupati atau gubernur) maupun ditingkat nasional (menjadi presiden), masyarakat juga mengharapkan munculnya tokoh-tokoh alternatif yang potensial, bukan hanya tokoh-tokoh lama yang sudah tua dan dianggap tidak membawa perubahan.

Dede yang berusia 41 tahun dan Rano yang berusia 47 tahun dianggap sebagai tokoh politik dari kalangan muda yang siap membawa perubahan. Masyarakat nampaknya sudah bosan dengan wajah-wajah lama yang memonopoli perpolitikan di Indonesia. Mereka mengharapkan wajah-wajah baru untuk menjadi pemimpin politik.

Banyaknya artis yang dipilih oleh masyarakat menjadi pemimpin politik seperti dalam kasus Dede Yusuf dan Rano Karno menunjukkan bahwa para birokrat, mantan militer atau polisi kalah popular dengan artis yang sering muncul di Televisi.

Tentunya bukan berarti bahwa semua artis yang popular di TV bisa dengan mudah menjadi pemimpin politik dan akan didukung oleh masyarakat Indonesia.

Dalam kasus Dede dan Rano, masyarakat melihat mereka selain sebagai artis yang popular dan berkepribadian baik, mereka juga memandang Dede dan Rano sebagai artis muda yang punya kafabilitas untuk menjadi pemimpin dan siap membawa perubahan bagi perbaikan ekonomi dan politik di Indonesia.

Terpilihnya Dede sebagai wakil gubernur dan Rano sebagai wakil bupati juga menunjukan bahwa proses demokratisasi di Indonesia berjalan cukup baik. Artinya, proses recruitment pimpinan politik sekarang terbuka lebar bagi siapapun yang merasa punya kafabilitas termasuk actor dan artis. Ini berbeda dengan zaman Orde Baru ketika pimpinan politik didominasi oleh politisi, birokrat, mantan militer dan mantan polisi.

Terjunnya actor dan artis ke dunia politik memang bukan hanya terjadi di Indonesia bahkan di Amerika Serikat Ronald Reagan pernah menjadi presiden Amerika untuk dua term yaitu dari  tahun 1981-1989. Dan Arnold Schwarzenegger juga masih menjadi gubernur California dari tahun 2003-sekarang. Juga  di Asia Tenggara kita mengenal Joseph Estrada yang pernah menjadi Presiden Philippines dari tahun 1998-2001.

Akhirnya, terjunnya para actor dan artis ke dunia politik adalah hal yang baik bagi tumbuhnya demokrasi di suatu negara termasuk di Indonesia.

Fenomena keberhasilan Dede dan Rano di Indonesia diharapkan bukan hanya berakhir pada terpilihnya mereka menjadi wakil gubernur dan wakil bupati sahaja. Keberhasilan mereka menjadi artis terkenal dan terpilih menjadi pejabat pemerintahan diharapkan juga mampu dibuktikan dengan kerja mereka yang berhasil ketika mereka menjadi birokrat.

Jika Dede bisa berhasil memajukan Jawa Barat menjadi daerah yang maju secara ekonomi, bisa mengurangi pengangguran dan bisa memberantas penyakit korupsi (rusuah) dan begitu juga Rano sebagai wakil bupati Tangerang, bukan tidak mungkin bahwa pada pemilihan umum tahun 2009, akan muncul actor atau pemimpin muda lainnya yang siap menjadi presiden Indonesia. Kalau keduanya berhasil, bukan tidak mungkin, para actor dan artis lainnya akan banyak dilirik masyarakat untuk menjadi pemimpin politik dimasa depan. Semoga!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: