Mencermati Motif Kampanye Para Kandidat

Kampanye tiga pasangan cagub Jabar yaitu Danny-Iwan, Agum-Nu’man dan Haryawan-Dede sudah dimulai secara resmi.

Para calon gubernur sudah mulai bergrilya mencari dukungan dengan mengunjungi daerah-daerah di Jabar sambil membeberkan masing-masing visi, missi dan programnya jika terpilih menjadi gubernur. Bahkan untuk memuluskan jalannya menuju Jabar-1, para calon gubernur tak segan-segan mengadakan ‘silaturahim politik’ kepada para sesepuh Jabar.

Dalam masyarakat yang demokratis, hal tersebut adalah sesuatu yang wajar. Adalah hak setiap calon gubernur untuk berkampanye dan menyatakan dirinya sebagai orang yang paling pas untuk dipilih menjadi gubernur yang akan membawa perubahan dan perbaikan bagi masyarakat Jabar.

Karena jabatan gubernur dan wakil gubernur adalah jabatan publik, maka seluruh masyarakat Jabar berhak mengetahui program, visi dan misi seorang publik figur untuk menjadi gubernur.

 

Salah satu hal penting yang perlu diketahui oleh masyarakat dari publik figur pilihannya adalah motif yang mendorongnya untuk menjadi gubernur. Hal ini bisa dengan jelas dicermati oleh public ketika sang kandidat mengadakan kampanye politik.

 

Kurt Lewin (1951) dalam bukunya Field Theory in Social Science mendefinisikan motif sebagai kekuatan yang menggerakan seseorang untuk mencapai tujuan karena adanya ancaman atau kesempatan yang berhubungan dengan suatu nilai.

 

Karena nilai dan tujuan seseorang sangat bervariatif dan subjektif, maka motif setiap individu pun tentunya sangat bervariasi tergantung kepada setting sosial masyarakat yang mengitarinya dan kepentingan individu itu sendiri.

Karena masing-masing calon gubernur di tatar sunda mempunyai latar belakang yang berbeda-beda baik itu akademik, politik, dan kondisi sosial budaya dimana dia berasal, maka masyarakat harus jeli melihat motif masing-masing dari calon gubernur tersebut dengan melihat visi, misi dan program yang ditawarkannya selama masa kampanye.

 

Batson (2002) membedakan motif seseorang melakukan sesuatu, terutama dalam aktifitasnya berpartisifasi dalam urusan-urusan publik, kepada empat  macam yaitu egoism, altruism, collectivism, dan principlism. Pembedaan tersebut didasarkan pada perbedaan tujuan utama (ultimate goals) setiap individu dalam beraktifitas.

Motif pertama disebut egoism yaitu motif seseorang ikut berpartisifasi dalam kepentingan publik hanya untuk keuntungan pribadi, baik itu keuntungan materi atau status sosial.Jika seorang calon pemimpin hanya berkeinginan untuk mengejar keuntungan pribadi termasuk memperkaya dan ingin mengejar popularitas, maka calon pemimpin itu bisa kita cap sebagai calon pemimpin yang egois.

Pada kampanye pemilihan gubernur, masyarakat harus jeli sejauh mana para kandidat menyampaikan visi dan programnya selama kampanye. Tentunya masing-masing calon akan mengumbar janji-janji program bagi perbaikan Jabar ke depan, karenanya tutur kata, gerak-gerik dan emosi sang kandidat dalam berorasi dan menyampaikan programnya perlu menjadi perhatian publik untuk mengukur sejauh mana sang kandidat mampu lepas atau paling tidak mereduksi sifat-sifat egois yang biasa muncul pada calon pemimpin.

Kedua motif altruisme, yaitu motif seseorang berpartisifasi dalam urusan publik dengan tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan seseorang selain dirinya sendiri karena simpati.

Jika seorang calon pemimpin hanya ingin mensejahterakan seseorang selain dirinya karena merasa belas kasihan, maka calon gubernur itu masuk kategori ini. Publik harus jeli sejauhmana sang kandidat mampu meyakinkan pemilih bahwa dia akan mewakili kepentingan publik dan bukan kepentingan segelintir orang seperti pengusaha dan kroninya. Rasa simpati yang berlebihan dari seorang calon pemimpin terhadap segelintir orang atau kelompok akan berbahaya bagi kemaslahatan publik. Dia tidak akan segan-segan mengorbankan kepentingan publik demi kepentingan segelintir orang.

 Motif ketiga dikenal dengan motif collectivism yaitu motif seseorang terlibat dalam urusan publik karena terdorong oleh keinginan untk meningkatkan kesejahteraan group atau kelompoknya. Jika calon gubernur hanya ingin mensejahterakan keluarga , partai politik pendukung atau kelompok pendukung tertentu, maka dia termasuk calon gubernur dengan motif collectivism. Mensejahterakan kelompoknya tanpa menghiraukan penderitaan kelompok yang lain akan jelas terlihat ketika masa kampanye.

Keempat adalah motif principlism yaitu motif seseorang terlibat dalam urusan publik karena didorong oleh tujuan utama untuk menegakkan prinsif-prinsif moral universal seperti keadilan. Karenanya tak heran kalau para filosof moral menekankan pentingnya motif ini.

Dari keempat motif tersebut, nampaknya motif terakhirlah  yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan keinginan dari seorang calon pemimpin untuk memperjuangkan prinsip-prinsip keadilan, persamaan hak, kesejahteraan bersama dan nilai-nilai moral universal lainnya, diharapkan pemimpin tersebut mampu mensejahterakan seluruh lapisan masyarakat yang dipimpinnya.

Para filosof moral menolak motif altruisme karena motif yang hanya didasari oleh simpati, empati, atau kasihan, hanya bersifat konstan dan mudah berubah. Motif kolektifism juga di tolak karena terbatas atau terikat oleh kepentingan kelompok.

Jika masing-masing calon gubernur konsekuen dan teguh memegang motif principilism, bukan hanya slogan-slogan lip service ketika berkampanye yaitu siap memajukan kesejahteraan untuk semua kalangan tanpa memandang suku agama, kelompok partai pendukung dan kelompok simpatisan lainnya maka kesejahteraan bagi seluruh masyarakat di Jawa Barat ini bisa diharapkan.

Tetapi jika calon-calon pemimpin Jabar ini lebih mengutamakan kepentingan pribadi (egoism), kepentingan simpati sesaat (altruism) dan lebih parah lagi hanya mementingkan kepentingan kelompoknya (collectivism), maka jangan diharap visi, missi dan program yang nampak manis, yang digembor-gemborkan selama berkampanye, akan menjadi kenyataan.

Semuanya tentu akan berpulang kepada individu masing-masing calon gubernur tersebut, tapi bukan berarti kita sebagai masyarakat kebanyakan tidak bisa memberikan sumbangsih pemikiran atau menjadi kelompok penekan bagi sang calon gubernur.

Karenanya sebagai masyarakat yang peduli terhadap kemajuan Jabar, adalah penting bagi kita untuk mencermatu motif jenis apakah yang tersirat ataupun tersurat dalam kampanye politik para kandidat. Tanpa partisipasi masyarakat, jangan harap kita mendapatkan gubernur yang benar-benar bisa berdiri di atas semua golongan dan bekerja untuk kemakmuran bersama. Wallahu a’lam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: