Tiga Pesaing Utama SBY?

BH, 13/03/08

Setelah ramainya pemilihan umum raya Malaysia yang ditandai dengan merosotnya jumlah suara koalisi Barisan Nasional secara drastis, tahun depan perhatian politik akan ditujukan kepada Indonesia.

Menjelang Pilihan Raya 2009, banyak calon presiden Indonesia yang sudah mulai disebut sebut sebagai kandidat yang siap bertarung, baik itu dari kalangan purnawirawan militer maupun sipil.

Dari beberapa nama calon yang beredar dikalangan politisi, ada tiga calon yang nampaknya akan menjadi pesaing terberat Yudhoyono dalam memperebutkan kursi presiden yaitu Megawati Soekarno Putri, Wiranto dan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Berdasarkan survey terakhir yang dilakukan oleh Reform Institute Jakarta (Januari-February 2008) menunjukan bahwa meskipun popularitas Yudhoyono masih diurutan pertama, tiga kandidat di atas akan menjadi pesaing utama sang presiden.

Pertanyaannya mengapa ketiga kandidat itu diprediksi akan menjadi saingan utama Yudhoyono? Apa kira-kira kelebihan dan kelemahan masing-masing kandidat tersebut?

Megawati Soekarno Putri

Megawati sudah resmi dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk menjadi calon presiden menantang Yudhoyono. Diantara kekuatan atau kelebihan Megawati menantang Yudhoyono adalah:

Pertama, PDIP disebut-sebut sebagai partai yang masih cukup solid dan banyak pengikutnya dari kalangan rakyat bawah. Kekecewaan rakyat terhadap Yudhoyono yang kurang membawa perubahan dan perbaikan ekonomi bahkan rakyat kecil merasakan hidup menjadi lebih susah dengan kenaikan berbagai macam harga makanan pokok membuat rakyat kembali berharap kepada PDIP dan Megawati.

Kedua, kesolidan PDIP ditambah dengan usaha PDIP menarik pemilih lebih banyak dari kalangan Muslim. Kalau selama ini PDIP diidentikan dengan partai nasionalis, maka ide PDIP membentuk sayap partai dengan nama Baetul Muslimin diprediksi akan dilirik oleh kalangan Muslim lebih banyak lagi.

Dengan berdirinya sayap Baetul Muslimin, PDIP berusaha menghilangkan cap partainya sebagai partai abangan dalam kategori Geertz.

Dalam orasi politik pembentukan Baetul Muslimin, Megawati mengatakan saat ini pengklasifikasian santri, abangan, dan priyayi tidak relevan lagi di Indonesia.  Apalagi jika dilihat dari sudut pandang kebangsaan. “Tidak ada yang boleh mengklaim seseorang lebih santri daripada orang lain. Atau lebih nasionalis daripada yang lain”.

Karenanya PDIP sudah memeberikan ruang terbuka bagi para aktivis Muslim untuk lebih aktif ikut berjuang dan membangun bangsa lewat PDIP.

Ketiga, Megawati masih sangat identik dengan nama Soekarno. Brand pewaris politik Soekarno sangat melekat pada Megawati, karenanya bagi kalangan pengagum Soekarno, sosok Megawati masih menjadi harapan.

Keempat, sebagai tokoh politik nasional dari kalangan perempuan, Megawati bisa sangat diuntungkan untuk menarik dukungan kaum Hawa di Indonesia. Megawati kemungkinan menjadi satu-satunya calon presiden dari kalangan perempuan di Indonesia.

Selain kelebihan-kelebihan diatas, tentu ada juga kekurangan Megawati yang justru akan dijadikan senjata oleh pesaingnya untuk menjegalnya. Kelemahan yang paling jelas dari Megawati adalah ketika dia menjabat Presiden ternyata juga dipandang oleh banyak kalangan  tidak mampu meningkatkan ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Lapor merah Megawati menjual banyak perusahaan milik Negara (BUMN) kepada perusahaan asing akan menjadi titik lemah untuk diserang lawan politiknya.

Wiranto

Wiranto disebut-sebut sebagai calon dari kalangan purnawirawan yang paling diperhitungkan. Selain kekuatan dana besar yang dimilikinya, dukungan terhadap partai yang didirikannya yaitu Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) cukup banyak di daerah-daerah.

Kelebihan lain dari Wiranto adalah banyak kekuatan di militer (military connection) dan para purnawirawan militer yang masih mendukungnya. Posisinya yang lebih senior dibanding Yudhoyono dalam militer juga sangat menguntungkan Wiranto.

Wiranto juga dikenal sebagai purnawirawan jenderal yang berkarakter tegas dalam mengambil keputusan. Ketegasan inilah yang tidak dimiliki Yudhoyono dalam membuat kebijakan negara.

Wiranto juga banyak memiliki pendukung di partai Golkar karena sebelumnya pernah menjadi keluarga besar Golkar. Banyaknya dukungan orang-orang Golkar kepada Wiranto bisa dilihat ketika pada tahun 2004 Wiranto memenangkan konvensi Partai Golkar dan menjadi calon presiden dari Golkar mengalahkan Ketua Umum Golkar waktu itu Akbar Tanjung.

Selain kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, Wiranto juga tidak terlepas dari kekurangannya. Kelemahannya untuk menjadi Presiden adalah karena Wiranto sering dikait-kaitkan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia  di Timor Timur.

Dituduhnya Wiranto dalam pelanggaran HAM membuat dirinya kurang didukung oleh dunia internasional untuk menduduki jabatan presiden Indonesia.

Sri Sultan Hamengku Buwono X

Kandidat ketiga yang disebut-sebut berpotensi menyaingi Yudhoyono adalah Sultan Yogya yang sekarang masih menjabat Gubernur Yogyakarta.

Sri Sultan dipandang sebagai sosok asli Jawa yang santun, merakyat dan tidak ambisius. Keberhasilannya selama menjadi gubernur Yogya yang dicintai rakyatnya membuat banyak kalangan mengharapkannya menjadi presiden Indonesia untuk mengayomi seluruh rakyat di nusantara tidak hanya di Yogya.

 

Kelebihan lain adalah posisinya sebagai tokoh reformasi yang ikut mendorong terjadinya reformasi di Indonesia tahun 1998 yang dikenal dengan tokoh Deklarator Ciganjur. Diantara empat tokoh Deklarator Ciganjur yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Amien Rais, Megawati dan Sri Sultan, tinggal Sri Sultanlah yang belum pernah menjabat di tingkat nasional. Gus Dur dan Megawati pernah menjadi Presiden dan Amien Rais pernah menjadi Ketua Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Karenanya Sri Sultan dipandang sebagai tokoh baru dipolitik nasional yang bisa menuntaskan agenda reformasi di Indonesia setelah para pendahulunya yang tergabung dalam Deklarator Ciganjur dianggap gagal.

Hanya saja ada kelemahan yang perlu diperbaiki Sri Sultan bila ingin menjabat presiden. Diantaranya ketokohannya baru banyak diakui oleh masyarakat Jawa. Sultan dipandang kurang popular oleh masyarakat di luar Jawa. Adalah pekerjaan rumah bagi Sri Sultan untuk mensosialisasikan ide politiknya di luar Jawa jika ingin terpilih menjadi Presiden.

Kelemahan lainnnya adalah belum ada partai politik yang menjadikannya sebagai calon presiden. Nampaknya Sultan harus segera mencari kendaraan politik yang bisa mencalonkannya menjadi presiden. Meskipun pernah aktif di Partai Golkar, nampaknya partai ini akan mencalonkan Ketua umum-nya Jusuf Kalla sebagai calon presiden.

Waktu yang akan menentukan siapa nantinya yang akan terpilih menjadi presiden Indonesia. Bagi Yudhuyono, para pesaing ini harus betul-betul diperhatikan kelebihan dan kekurangannya jika ingin terpilih untuk kedua kalinya. Sementara bagi Megawati, Wiranto dan Sri Sultan, mereka harus benar-benar memanfaatkan kelebihannya supaya tambah popular untuk menarik simpati rakyat. Mereka juga harus terus memperbaiki kelemahan-kelemahannya jika ingin terpilih.

Dengan sisa waktu yang masih satu tahun, adalah pekerjaan rumah bagi para kandidat presiden termasuk Yudhoyono untuk terus meningkatkan dukungan politiknya baik dari partai maupun rakyat. Kepada siapakah pilihan politik rakyat Indonesia akan dijatuhkan? Akankah Yudhoyono menjadi presiden untuk kedua kalinya? Atau mungkinkah rakyat Indonesia akan memilih diantara tiga kandidat kuat pesaing Yudhoyono? Atau justru kandidat lain lah yang akan muncul menjadi Presiden Indonesia pada tahun 2009? Wallahu A’lam.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: