Mengapa Badawi Mempercepat Pemilu Malaysia?

PR, 20/02/08

ABDULLAH Ahmad Badawi akhirnya secara resmi membubarkan parlemen Malaysia efektif mulai tanggal 13 Februari 2008 untuk membuka jalan dipercepatnya pemilu di Malaysia.

Sama dengan Indonesia, pemilu di Malaysia biasanya dilaksanakan lima tahun sekali. Pemilu terakhir dilaksanakan Malaysia bersamaan dengan pemilu di tanah air yaitu pada tahun 2004. Ini berarti Malaysia seharusnya baru mengadakan pemilihan umum yang keduabelasnya pada tahun 2009.

Hanya, konstitusi Malaysia membolehkan penguasa (dalam hal ini perdana menterinya) untuk memajukan jadwal pemilu. Jika perdana menteri menghendaki, dan sesuai dengan undang-undang, dia berhak meminta Yang Dipertuan Agung atau Raja untuk membubarkan parlemen sebelum masa jabatannya selama lima tahun habis.

Setelah parlemen dibubarkan, pemerintah harus segera melaksanakan pemilihan umum selambat-lambatnya 60 hari sejak parlemen bubar. Keistimewaan yang dimiliki perdana menteri ini disebut-sebut sebagai keuntungan partai penguasa untuk bermanuver tentang kapan waktu yang tepat melaksanakan pemilu.

Pertanyaannya, mengapa Badawi begitu cepat membubarkan parlemen dan siap menyelenggarakan pemilu? Apa kira-kira pertimbangan Pak Lah untuk mempercepat pemilu di Malaysia? Mungkinkah UMNO dengan koalisi Barisan Nasionalnya akan memperoleh kemenangan besar seperti pada pemilu tahun 2004?

Faktor Anwar Ibrahim?

Cukup susah menebak arah politik dan alasan mengapa Badawi ingin mempercepat pemilu. Bukankah kondisi pemerintahan dan partai koalisinya sedang mengalami penurunan pamor setelah diguncang prahara politik mulai dari demo besar-besaran partai oposisi yang dimotori oleh para pekerja keturunan India sampai isu tak sedap pengunduran diri salah seorang menteri seniornya.

Pada awal November 2007, tidak kurang dari sepuluh ribu etnik India yang tergabung dalam Gerakan Aksi Hak Asasi Hindu (Hindraf) memprotes diskriminasi yang diterima mereka oleh pemerintah yang berkuasa. Isu ini telah mencoreng muka pemerintah Badawi yang dianggap rasis oleh kaum minoritas. Hal ini diperburuk dengan penangkapan beberapa aktivis India oleh pemerintah dengan memberlakukan Undang-Undang Khusus Keamanan Negara atau Internal Security Act (ISA). Dengan UU ini, polisi berhak menahan seseorang tanpa surat perintah hingga dua tahun jika seseorang dianggap melanggar keamanan nasional, mengancam sejumlah pelayanan publik dan kehidupan ekonomi.

Kasus terakhir yang mencoreng muka pemerintahannya adalah mundurnya Chua Soi Lek (61) dari kabinet Badawi karena terlibat skandal seks. Chua adalah Wakil Ketua Asosiasi Cina Malaysia yang merupakan salah seorang mitra penting pemerintah koalisi Malaysia.

Jika kondisi pemerintahannya sedang berada dalam pamor yang kurang menguntungkan, tentunya ada alasan khusus yang mendorong Badawi memajukan pemilu.

Banyak yang berspekulasi, faktor come back-nya Anwar Ibrahim ke gelanggang politiklah sebetulnya yang menjadi alasan utama mengapa Badawi ingin mempercepat pemilu. Anwar disebut-sebut sebagai salah seorang kandidat perdana menteri yang bisa menyaingi kepopuleran Badawi. Oleh karena itu, mau tidak mau karier politik Anwar harus dihentikan.

Faktor Anwar sangat signifikan dalam politik Malaysia. Hal ini bisa dilihat ketika Pemilu 1999, partai penguasa UMNO kehilangan banyak kursi di parlemen karena rakyat tidak suka dengan pemerintah yang mengadili Anwar dan bahkan memenjarakannya. Kasus Anwar juga dengan cerdik dimanfaatkan oleh partai oposisi Partai Islam Se-Malaysia (PAS) untuk menarik dukungan rakyat sehingga Pemilu 1999 disebut-sebut sebagai kemenangan terbesar sepanjang sejarah politik Malaysia bagi partai oposisi PAS. Tampaknya Badawi tidak mau kalau hal ini kembali terulang.

Jika pemilu dipercepat pada bulan Maret ini, berarti kesempatan Anwar untuk mencalonkan diri sebagai calon perdana menteri, bahkan sekadar ikut berpartisipasi dalam pemilu, menjadi tertutup karena alasan UU.

Berdasarkan konstitusi Malaysia, seseorang yang pernah dihukum dilarang untuk aktif dalam dunia politik, termasuk berpartisipasi dalam pemilu selama lima tahun. Larangan Anwar kembali berpolitik akan berakhir pada April 2008. Karenanya, untuk menutup karier Anwar, mau tidak mau Badawi harus memajukan jadwal pemilu.

Hal ini juga yang dipandang oleh Anwar sendiri sebagai alasan mengapa pemilu dipercepat. Bagi Anwar, selain faktor dirinya, hal lain yang bisa dilihat adalah bertahannya pemerintah Malaysia untuk tidak menaikkan harga BBM pada tahun lalu sebagai alasan pemilu akan dipercepat. Badawi bertahan untuk tidak menaikkan harga BBM yang bisa menyebabkan protes masyarakat, meskipun harga minyak terus melambung dan membebani APBN Malaysia.

Selain hal di atas, tampaknya Badawi melihat bahwa tren perkembangan ekonomi global juga kurang menguntungkan bagi kelangsungan pemerintahannya. Badawi tidak mau pamor pemerintahannya terus merosot seiring dengan kemerosotan capaian ekonomi pemerintahannya karena pengaruh ekonomi global. Sebelum hal itu terlambat, tampaknya lebih bagus bagi dirinya untuk mempercepat pemilu.

Pertanyaan selanjutnya, akankah Badawi berhasil mempertahankan kekuasaannya? Dengan dipercepatnya pemilu, tentunya Badawi telah menghitung kalkulasi politiknya secara jeli. Tampaknya Badawi akan tetap mampu mempertahankan kekuasaannya, meskipun kemenangannya tidak akan sebesar yang dia peroleh pada tahun 2004.

Pada tahun 2004, masyarakat masih sangat percaya, integritas Pak Lah yang dikenal bersih, santun, dan antikorupsi ini akan mampu membawa Malaysia menjadi lebih baik dibanding dengan Mahathir dari sisi ekonomi dan politik. Ternyata harapan masyarakat itu tidak seperti yang diharapkan. Bahkan pertentangan politik terbuka antara Badawi dan Mahathir yang mengkritik kebijakan-kebijakan ekonomi Badawi telah membuka mata rakyat Malaysia bahwa begitu lemahnya kebijakan ekonomi dan kebijakan luar negeri Badawi, terutama ketika berhadapan dengan negeri pesaing terdekatnya Singapura.

Meskipun tidak sebesar dukungan pada pemilu 2004 yang mampu menguasai 90% kursi di parlemen, tampaknya target mendapatkan dua pertiga dari 222 kursi parlemen bagi partai koalisi UMNO bisa didapat. Badawi dan partai koalisinya dipandang masih terlalu kuat bagi partai-partai oposisi penentangnya termasuk PAS. Jikapun PAS akan naik suaranya, partai Islam ini maksimal hanya akan meraih tambahan dua negara bagian, yaitu Kedah dan Terengganu yang pada 2004 lepas ke tangan UMNO.

Sampai sekarang, PAS hanya populer di Kelantan yang dari tahun 1990 masih di bawah kekuasaannya. Merebut kembali Terengganu dan Kedah yang lepas pada pemilu sebelumnya pun sudah menjadi pekerjaan berat bagi PAS, apalagi harus menang pemilu di tingkat federal yang dikuasai partai koalisi barisan nasional pimpinan UMNO. PAS tampaknya belum bisa menawarkan alternatif perbaikan ekonomi dan politik bagi masyarakat plural Malaysia. Performance-nya di tingkat negara bagian Kelantan pun banyak dipertanyakan orang.

Kini tunggu saja, apakah Badawi mampu mempertahankan kekuasaannya pada pemilu kali ini? Wallahu A`lam bi al-Showab.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: