Jasa Pak Harto Bagi Islam Politik

BH, 06/02/08

‘I want to pay this tribute to him, and I came here. It is sad to see a very old friend, with whom I worked closely over the last 30 years, not really getting the honours that he deserves.’ (Lee Kwan Yew)

Itulah ucapan Minister Mentor Lee Kwan Yew ketika pada tanggal 13 Januari menjenguk sahabatnya almarhum Soeharto di Rumah Sakit Pusat pertamina (RSPP) Jakarta.

MM Lee benar bahwa Pak Harto, meskipun ada kekurangan dalam memimpin Indonesia selama 32 tahun, harus pula dikenang sebagai pemimpin yang banyak berjasa bagi pembangunan di Indonesia. Sebagai sahabat, Lee merasa ikut bersedih dengan kurangnya penghargaan dari rakyat Indonesia terhadap jasa Pak Harto.

Ketika Pak Harto sudah meninggal, kontroversi tentang kelebihan dan kekurangannya terus berlangsung di Indonesia. Sebagai muslim, tentunya kita patut mengenang kebaikan Pak Harto sebagaimana dianjurkan MM Lee. Bukankah ajaran Islam juga menganjurkan untuk mengenang kebaikan seseorang apabila seseorang itu meninggal? Tentang dosa dan kejelekannya, kita serahkan kepada Allah yang Maha Adil untuk menilainya.

Jasanya Bagi Umat Islam

Selain kelemahannya, tentunya Pak Harto mempunyai banyak jasa kepada kaum Muslimin Indonesia. Tak heran kalau pada proses pemakamannya banyak orang Indonesia yang mayoritas Muslim setia mengikuti detik-detik pemakamannya yang diliput oleh semua stasiun TV di Indonesia secara langsung.

Lalu apa jasa-jasa Pak Harto selama memimpin Indonesia bagi umat Islam?

Untuk melihat lebih jelas tentang peran Pak Harto bagi kepentingan umat Islam di Indonesia, saya sepakat dengan pembagian masa kepemimpinan Pak Harto seperti dikemukakan oleh Dr. M Syafi’i Anwar Direktur Eksekutif International Centre for Islam and Pluralism (ICIP), Jakarta.

Syafi’i membagi priode kepemimpinan Pak Harto hubungannya dengan kepentingan politik Islam kepada empat masa yaitu: Periode pertama (1966-1979), Periode kedua (1979-1989), Periode ketiga (1989-1993), dan Periode keempat (1993-1998).

Periode pertama adalah masa Pak Harto yang kurang bersahabat dengan kalangan Muslim. Pada periode ini Pak Harto lebih dekat dengan militer. Hal ini wajar karena itulah masa Pak Harto membutuhkan militer untuk mengkonsolidasikan kekuasaanya dari ancaman komunisme. Sayangnya pak Harto menganggap umat Islam sebagai musuh ideologi kedua setelah komunis.

Masa pertama dilanjutkan dengan periode kedua (1979-1989) dengan semakin dipinggirkannya umat Islam dari politik dengan idenya Pak Harto menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi negara atau lebih dikenal di Indonesia sebagai pemberlakuan ‘asas tunggal’.

Banyak orang Islam berpandangan bahwa hal ini untuk meminggirkan umat Islam dari politik, tetapi sebenarnya perlu dilihat bahwa sebagai Negara yang multikultural dan multi agama, ide Pak Harto ini perlu juga dimaklumi. Konflik ideologi pada masa ini ditandai dengan kekerasan dengan apa yang dikenal peristiwa Tanjung Priok’ pada 12 September 1984 yang mengakibatkan jatuhnya ratusan korban umat Islam.

Periode ketiga (1989-1993) adalah masa hubungan paling harmonis antara Pak Harto dengan umat Islam. Masa ini ditandai dengan naik hajinnya Pak Harto sekeluarga pada tahun 1991. Meskipun sering dianggap sebagai ‘haji politik’ kepergiaannya ke Mekkah dianggap oleh kalangan Muslim sebagai bentuk apresiasi dari seorang Soeharto yang ‘abangan’ menjadi ‘santri’ dalam kategorisasi Clifford Geertz.

Pada masa ini juga Pak Harto dianggap berjasa merestui dilegalisasinya pemakaian jilbab di sekolah-sekolah umum (1991), dilarangnya judi SDSB (1993), dibentuknya untuk pertama kali Bank Muamalah Indonesia (1992), didirikannya lebih dari 900 mesjid di seluruh tanah air lewat Yayasan Amal bakti Muslim Pancasila dan dibentuknya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, ICMI (1990).

 Periode keempat (1993-1998), sering disebut sebagai masa rejim Soeharto mengkooptasi Islam politik untuk kepentingan pribadi Pak Harto. Padahal, pada periode ini Pak Harto memberikan kesempatan yang sangat luas bagi kalangan Muslim untuk masuk birokrasi.

Banyak sekali menteri-menteri di cabinet yang berasal dari anggota ICMI. Masa ini banyak dikenal sebagai masa ‘santrinisasi birokrasi’. Sayang, kedekatan Pak Harto dengan kalangan Islam politik berbarengan dengan kekeliruan Pak Harto yang semakin memberi ruang bagi keluarga dan kroninya untuk juga menjabat pada kabinetnya. Banyak kroni Soeharto yang menjadi menteri pada periode ini seperti putrinya Siti Hardiyanti Rukmana yang ditunjuk menjadi menteri Sosial dan Muhammad (Bob) Hasan sebagai Menteri Industri dan Perdagangan.

Penunjukkan kroninya sebagai menteri dan merajalelanya korupsi membuat demonstrasi besar-besaran terjadi di Indonesia yang dipelopori oleh mahasiswa menuntut reformasi. Pada tahun ini pula kerusuhan dan krisis ekonomi melanda Indonesia yang akhirnya memaksa Pak Harto untuk turun.

Setelah turun, Pak Harto digantikan oleh wakil-nya B.J. Habiebie yang oleh beberapa kalangan dianggap sebagai representasi ‘santri kota’. Habiebie melanjutkan masa kepresidenan Soeharto dan banyak mengangkat kaum cendekiawan Muslim dari ICMI menjadi menteri di cabinet. Sayang Habiebie ditolak pertanggungjawabannya oleh MPR dan akhirnya tidak bisa mencalonkan lagi menjadi presiden pada tahun 1999.

Melihat pasang surut hubungan antara Pak Harto dengan umat Islam, nampaknya adalah tidak berlebihan kalau umat Islam perlu menghormati jasa-jasa beliau. Pak Harto cukup berjasa mengangkat ‘kaum santri’ untuk lebih aktif di dunia politik di Indonesia. Ini bukan berarti bahwa Muslim Indonesia harus sama sekali melupakan kekurangan dan kesalahan Pak Harto. Kekurangan dan kesalahannya biar dijadikan cermin bagi pemimpin Indonesia di masa yang akan datang untuk tidak mengulanginya lagi. Wallahu a’lam bi al-Showab.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: