Ada Apa dengan Harlah NU Ke-82?

BH, 13/02/08

Pada tanggal 31 Januari 2008, Nahdhatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di nusantara merayakan hari lahirnya yang ke-82. Dalam sebuah email yang dikirim ke milis Komunitas Muda Nahdatul Ulama (KMNU), seorang kawan  bertanya, mengapa hari lahir NU yang ke-82 ini dirayakan secara besar-besaran?

Pertanyaan itu muncul karena pada puncak perayaannya tanggal 3 Februari di Gelora Bung Karno, panitia peringatan menargetkan hadirnya 300 ribu warga nahdiyin seperti ramai di gembar-gemborkan media.

Meskipun kelihatannya iseng, pertanyaan cerdas ini cukup menggelitik dan perlu direnungkan. Mengapa angka 82 yang dijadikan momentum peringatan besar-besaran warga NU? Bukankah biasanya perayaan hari ulang tahun baik itu ulang tahun seorang tokoh, ultah perkawinan, ultah organisasi atau ulang tahun suatu negara, angka yang biasa digunakan adalah angka, 50, 70 atau 100?

Angka lima puluh sering digunakan untuk perayaan ulang tahun emas, baik itu perkawinan maupun ulang tahun sebuah negara, dan angka tujuh puluh sering dipakai dalam memperingati usia seorang tokoh berpengaruh yang biasanya diiringi dengan peluncuran buku memoarnya. Dan angka seratus untuk memperingati seabad lahirnya organisasi atau perkumpulan.

Ada beberapa kemungkinan untuk menjawab pertanyaan di atas. Tetapi paling tidak dua fungsi organisasi warga NU bisa diajukan sebagai alternatif jawaban yaitu fungsi dakwah kultural NU dan fungsi partisipasi politik serta ‘nilai’ politik jumlah anggotanya yang cukup besar.

 Fungsi Dakwah Kultural

Semaraknya peringatan harlah di kantong-kantong NU di tanah air dan rencana pengerahan massa besar-besaran pada puncak peringatan tentunya bukan sekedar show of force yang tanpa alasan.

Boleh jadi salah satu tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa NU sebagai organisasi massa yang mengusung dakwah kutural, kooperatif dengan budaya lokal nusantara, moderat dan tidak mengusung ide negara Islam dalam dakwahnya masih mempunyai massa yang besar dan masih menjadi mainstream gerakan Islam di Indonesia.

Pengikut NU masih dominan, setia dan tidak tereduksi dengan munculnya gerakan-gerakan keislaman lain di tanah air. Itulah nampaknya salah satu pesan yang ingin disampaikan.

Bukan rahasia lagi bahwa belakangan ini banyak sekali isu-isu keagamaan dan politik di tanah air yang cukup menghawatirkan para warga nahdiyin.  Diantaranya, diadakannya konfrensi khilafah oleh Hijbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengusung ide kebangkitan Islam dengan khilafah, gencarnya salah satu partai politik Islam yang mendekati warga NU untuk berpindah haluan, radikalisme yang sering dikaitkan dengan umat Islam dan bermunculannya aliran-aliran keagamaan yang dianggap sesat di tanah air. Isu-isu ini tentunya diharapkan bisa direspon oleh NU sebagai representasi mayoritas Muslim Indonesia.

Pada 12 Agustus tahun lalu HTI dengan sukses menghadirkan lebih dari 100 ribu orang anggota dan simpatisannya di Gelora Bung Karno dalam acara Konfrensi Khilafah Internasional (KKI). Hal ini tentu saja sedikit banyak harus menjadi perhatian bagi organisasi-organisasi massa Islam di Indonesia yang menentang ide diwujudkannya khilafah. Ide khilafah ini tidak sejalan dengan dakwah kultural NU yang menghormati keanekaragaman budaya lokal dan menentang diwujudkannya negara Islam di Indonesia.

Meskipun unjuk kekuatan massa NU tidak dikhususkan untuk menandingi HTI, tapi paling tidak publik tahu kalau NU masih eksis.

Jika KKI bertujuan memelopori kebangkitan Islam dengan khilafah, maka NU dengan 300 ribu kehadiran pengikutnya di tempat yang sama, bisa menunjukkan bahwa pendukung kebangkitan Islam lewat dakwah kultural masih lebih besar pengikutnya di Indonesia.

Dalam salah satu intruksinya PBNU, mengajak khususnya PWNU DKI Jakarta dan Jawa Barat untuk mengerahkan massa dan mengikuti istighotsah dan seruan moral untuk bangsa. Ini artinya, NU sejak didirikannya sampai sekarang masih sangat concern terhadap masalah yang dihadapi bangsa ini. Seandainya KKI, munculnya aliran-aliran sesat, dan radikalisme di tanah air dianggap sebagai hal yang bisa menggrogoti keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka seruan PBNU ini sangat signifikan dan tepat adanya. NU bisa dipandang sebagai pelopor penyelamat bangsa dari segala bentuk rongrongan pemecah persatuan bangsa.

Partisipasi Politik Warga NU

Pembacaan kedua, dikerahkannya besar besaran massa NU ke Gelora Bung Karno tentunya tidak bisa dilepaskan dari memanasnya politik di tanah air menjelang pemilu 2009.

Meskipun sejak Muktamar ke-27 di Situbondo tahun 1984, NU diamanahkan untuk kembali ke khittah 1926 dan tidak berpolitik praktis, ternyata godaan politik yang menarik warga nahdiyin terjun di dunia politik praktis, membuat masyarakat bertanya-tanya betulkah NU benar-benar kembali ke khittah 1926?

Meskipun tidak mengatasnamakan NU ketika terjun ke politik, tetap saja para tokoh yang berlatar belakang NU itu tidak bisa dipisahkan dari NU sebagai organisasi. Banyaknya warga NU yang terjun ke politik baik pada level nasional maupun lokal lewat pilkada yang mau tidak mau telah menyeret warga NU ke politik telah menjadi bukti.

Kelahiran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dibidani NU dan pada akhirnya mengantarkan Gus Dur yang mantan ketua umum PBNU ke tampuk presiden RI semakin menguatkan asumsi bahwa NU tidak seratus persen kembali ke khittah. Asumsi ini terus bergulir ketika Hasyim Muzadi yang notabene masih menjabat ketua PBNU menjadi calon wakil presiden pada pemilu 2004.

Pencalonan Hasyim ini disinyalir oleh beberapa kalangan sebagai cikal bakal ketidakakuran Gus Dur-Hasyim atau lebih luasnya ketidakharmonisan NU dengan partai yang dilahirkannya, PKB.

Lalu bagaimana pembacaan politik atas perayaan harlah yang meriah dan akan dikerahkannya secara besar-besaran warga NU ke Gelora Bung Karno ditengah kurang harmonisnya hubungan NU-PKB?

Ada beberapa kemungkinan jawaban yang bisa diajukan. Pertama, berkumpulnya massa NU dalam jumlah yang signifikan akan dijadikan momentum bagi NU untuk menekankan sikap organisasinya untuk tidak mau diseret-seret ke dunia politik praktis menjelang pemilu 2009. Jika ini dilakukan, alangkah strategis bagi warga nahdiyin karena akan membuat warga NU tidak terkotak-kotak dalam dukung mendukung calon pada pemilu 2009.

Kedua, bisa juga pengerahan masa itu dibaca sebagai cara NU untuk menaikan bargain politiknya agar tidak dianggap remeh oleh partai-partai politik yang ingin bertarung pada pemilu tahun depan.

Pertanyaannya, jika untuk kepentingan menaikan bargain politik warga nahdiyin, lalu untuk kepentingan siapa? Apakah untuk kepentingan PKB yang sudah mencalonkan kembali Gus Dur untuk pemilihan presiden 2009? Atau untuk kepentingan para elit di PBNU supaya bargaining position-nya naik untuk dilirik menjadi  calon wapres atau bahkan presiden pada pemilu tahun depan?

Ketiga, dan ini yang kelihatannya banyak diharapkan warga nahdiyin, acara ini akan dijadikan momentum islah politik antara para elit di PBNU dan elit di PKB. Jika islah ini terjadi, unjuk kekuatan massa NU akan sangat menguntungkan partisipasi politik warga NU pada pemilu tahun depan.

Permasalahannya, mungkinkah hal itu terjadi? Karena disatu sisi berarti NU harus keluar dari khittah dan menegaskan sikapnya masuk politik, sementara disisi lain PKB juga harus siap memberikan kompensasi politiknya bagi para elit PBNU. Bukankah di PKB sendiri perpecahan internal belum sepenuhnya terpecahkan?

Akhirnya, apapun yang akan dideklarasikan dalam puncak acara harlah ke-82 itu, mudah-mudahan NU bisa menegaskan kembali orientasi perjuangannya, di politik praktis atau total kembali ke khittah 1926. Bukankah NU merupakan asset bangsa yang sangat berharga dan banyak dihuni tokoh-tokoh yang hebat. Untuk kemajuan NU ke depan tidaklah salah kalau tokoh-tokoh tua di PBNU juga melirik tokoh muda NU yang potensial untuk berkiprah di tanah air. Tokoh muda NU seperti Ulil yang sedang PhD di Harvard, juga Nadirsyah Hosen, tokoh muda NU bergelar dua PhD yang mengajar di Australia dan tokoh-tokoh muda NU lainnya nampaknya perlu dirayu oleh tokoh tua untuk bekerjasama membesarkan NU. Selamat ulang tahun!

 

 




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: