Menghitung Peluang Tiga Kandidat

PR, 25/01/08

Pemilihan Gubernur Jawa Barat akhirnya dipastikan diikuti oleh tiga pasangan calon yaitu Danny Setiawan-Iwan Sulanjana (Da`i), Agum Gumelar-Nu`man Abdul Hakim (Aman), dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade).

Adanya ketiga pasangan calon merupakan sesuatu yang menggembirakan bagi perkembangan politik di Jabar. Selain akan memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat, hal ini juga diharapkan mampu mengurangi potensi konflik antarpendukung pascapemilihan dibanding jika calonnya hanya dua pasang.

Melihat ketiga pasangan calon tersebut, pertanyaan yang muncul adalah pasangan mana kira-kira yang akan muncul menjadi pemenang untuk menakhodai kelanjutan pemerintahan di Jabar? Terlalu dini memang untuk menjawabnya sekarang. Akan tetapi, sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat, tidak ada salahnya kalau peluang masing-masing calon kita cermati sebelum berlangsungnya pemilihan.

Ada beberapa parameter yang bisa dilihat untuk mengukur peluang masing-masing pasangan calon yaitu dukungan dan mesin partai, tingkat kepopuleran individu, pengalaman birokrasi sang calon, ada tidaknya dikotomi tua muda di masyarakat, dan program apa yang diusung pada masa kampanye masing-masing calon?

Mesin partai

Jika melihat dari dukungan partai, pasangan Agum-Nu`man tampaknya merupakan pasangan yang layak untuk diperhitungkan keluar sebagai pemenang. Ini kalau kita memakai kalkulasi politik dukungan yang diberikan masyarakat terhadap partai pada pemilu 2004. Agum-Nu`man yang diusung koalisi partai PDIP, PPP, PKB, PBB, PBR, PKPB, dan PDS kurang lebih memiliki 42 kursi di DPRD. Berada di urutan kedua, pasangan Danny-Iwan yang didukung Partai Golkar dan Partai Demokrat dengan kurang lebih 38 kursi. Terakhir, pasangan Heryawan-Dede yang diusung koalisi PKS-PAN dengan 21 kursi.

Masalahnya adalah, sering terjadi dalam pemilihan baik bupati/wali kota, gubernur bahkan presiden, mesin partai tidak menjadi satu-satunya faktor penentu kemenangan. Format pemilihan yang dilakukan langsung oleh rakyat ditambah dinamika politik yang terus berubah menjadikan dukungan rakyat terhadap partai seperti pada Pemilu 2004, tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran. Dilihat dari faktor mesin partai pendukung, pertarungan sengit akan terjadi pada pasangan Danny-Iwan dan Agum-Nu`man. Kedua pasangan hampir memiliki dukungan seimbang.

Bagi pasangan Agum-Nu`man, kekurangan yang perlu mereka perbaiki dalam hal mesin partai ini adalah diperlukannya kerja keras oleh pasangan ini untuk menarik simpati para kader PDIP, terutama mereka yang menginginkan kader dari partai yang dicalonkan. Sementara bagi Danny-Iwan, kerja keras yang harus dilakukan adalah dalam menarik massa pendukungnya, terutama yang tinggal di daerah pantura yang merasa tidak diwakili oleh Golkar karena tidak diakomodasinya calon dari wilayah pantura.

Tantangan terberat bagi kedua pasangan, Agum-Nu`man dan Danny-Iwan tentunya datang dari calon “kuda hitam” yang diusung PKS dan PAN. Siapa pun tahu, mesin politik partai pendukung pasangan Heryawan-Dede ini tidak bisa dilihat sebelah mata. Bukankah PKS dipandang sebagai salah satu partai yang solid kadernya terutama di Jawa Barat dan siap bergerak memenangkan pasangan ini?

Kepopuleran individu

Selain mesin partai, tingkat kepopuleran individu juga turut menentukan kepada pasangan mana suara dukungan akan diberikan. Melihat konfigurasi pasangan calon, nampaknya masing-masing calon punya tingkat popularitas yang hampir seimbang. Danny tentunya sangat diuntungkan karena posisinya sebagai incumbent yang masih menduduki jabatan gubernur. Meskipun Iwan, pasangan Danny, tidak sepopuler sang Gubernur, sosoknya sebagai mantan Pangdam Siliwangi (2003-2005) cukup dikenal masyarakat Jawa Barat.

Begitu juga dengan pasangan Agum-Nu`man. Agum adalah sosok purnawirawan jenderal yang cukup populer tidak hanya pada level politik lokal tapi juga politik nasional. Sebagai pituin urang Sunda, popularitas Agum juga disokong oleh popularitas pendampingnya Nu`man yang merupakan Wakil Gibernur Jawa Barat sekarang.

Sementara pasangan Heryawan-Dede lagi-lagi bisa dikatakan “underdog” jika melihat popularitasnya di masyarakat. Meskipun Heryawan masih kalah populer dengan calon gubernur lainnya, pendampingnya, Dede Yusuf punya tingkat popularitas yang tinggi. Selain pernah terkenal sebagai aktor laga papan atas Indonesia, Dede juga dikenal oleh masyarakat Jawa Barat karena posisinya sebagai anggota DPR pusat dari Jabar.

Bahkan, cukup mengejutkan kalau melihat hasil survei LSI yang dilakukan pada September 2007. Popularitas Dede ternyata bisa mengungguli presentasi masyarakat yang mengenal Danny. Menurut survei LSI, Agum Gumelar, Dede Yusuf, dan Nurul Arifin dikenal oleh lebih dari 65% warga Jawa Barat. Bahkan, Agum sudah dikenal sekitar 80% warga Jawa Barat. Sementara Danny Setiawan yang merupakan Gubernur Jawa Barat baru dikenal oleh 50.5% warga Jawa Barat sendiri.

Nampaknya, ketokohan Dede sebagai aktor cukup berpengaruh untuk mendongkrak popularitasnya. Terbukti, Nurul Arifin yang tidak mencalonkan diri pun cukup populer melebihi Danny Setiawan karena posisinya sebagai artis. Masalahnya, sejauh mana akurasi survei LSI ini bisa dipertanggungjawabkan?

Pengalaman birokrasi

Dari sisi pengalaman birokrasi di daerah, tentunya Danny memiliki kapabilitas yang lebih dibandingkan dengan para pesaingnya. Selain masih menjabat gubernur, Danny juga pernah menjabat sebagai sekretaris daerah. Sementara itu, Agum juga punya pengalaman yang cukup mumpuni dalam hal birokrasi. Selain karena pernah menjabat sebagai menteri, Agum juga di-backup oleh pengalaman Nu`man, pendampingnya, untuk urusan-urusan birokrasi di daerah karena Nu`man masih menjabat sebagai wakil gubernur.

Dari sisi pengalaman birokrasi ini, sekali lagi posisi Heryawan-Dede menjadi “kuda hitam”. Meskipun keduanya pernah aktif di partai masing-masing, ditambah pengalaman Heryawan yang menjadi Wakil Ketua DPRD DKI dan Dede yang menjabat anggota DPR RI, kemampuannya untuk menakhodai birokrasi di pemerintahan dipandang kalah berpengalaman dibanding pasangan calon yang lain.

Dikotomi tua muda

Pasangan Heryawan-Dede mendapatkan poin yang signifikan jika masyarakat menghendaki regenerasi kepemimpinan di Jawa Barat. Kalau dikotomi politisi tua dan muda dijadikan jargon politik oleh pasangan ini, nampaknya peluang Heryawan-Dede cukup terbuka.

Ketokohan Agum dan Danny yang sudah lama malang melintang di dunia birokrasi pemerintahan dan politik memudahkan masyarakat untuk melihat prestasi mereka selama ini. Jika keduanya dipandang berprestasi biasa-biasa saja, bisa jadi pilihan masyarakat akan jatuh pada pasangan baru Heryawan-Dede yang diharapkan bisa membawa angin segar perubahan di Jawa Barat.

Setelah melihat masing-masing potensi pasangan calon, baik itu mesin partai maupun popularitas dan kemampuan individu, hal lain yang akan berpengaruh signifikan adalah program-program pembangunan apa yang ditawarkan oleh masing-masing pasangan calon pada masa kampanye nanti. Di sini, masyarakat calon pemilih diharapkan jeli untuk menangkap dan mengkritisi program mereka. Bisa jadi, masa kampanye dan pemaparan visi, misi, dan program justru akan menjadi poin paling penting bagi masyarakat dalam menentukan pilihannya.

Kita tunggu saja, akankah kesempatan masa kampanye nanti dijadikan momentum oleh para pasangan calon untuk menarik simpati masyarakat atau tidak? Sebaliknya, sejauh mana masyarakat akan memilih calon berdasarkan program yang ditawarkan calon? Atau, akankah masyarakat tetap bersikap acuh tak acuh dan hanya memilih pasangan calon karena popularitas individu, faktor dikotomis tua mudanya calon, atau masyarakat semakin kritis atas program yang ditawarkan para calon?

Akhirnya, jawaban tentang siapa yang paling berpeluang menuju Gedung Sate sebagai gubernur dan wakil gubernur akan ditentukan oleh rakyat Jawa Barat. Akankah masyarakat mempercayai Danny untuk melanjutkan kepemimpinannya? Ataukah masyarakat memilih Agum untuk menggantikan posisi Danny di Gedung Sate atau justru calon yang tidak diunggulkan tapi punya tenaga baru sebagai pasangan muda Heryawan-Dede yang akan unggul? Wallahualam. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: