Teori Konspirasi dan Barack Obama

BH, 23/01/08 

Persaingan Barack Obama dan Hilary Clinton untuk mendapatkan simpati dari pendukung Partai Demokrat untuk menjadi calon presiden Amerika semakin ketat. Kalau di pemilihan pemula yang lebih dikenal dengan Kaukus Ohio, Obama yang menang, maka pada pemilihan di New Hampshire justru Hilarly yang berjaya.

Tampilnya Barack Obama yang ikut meramaikan persaingan menjadi calon presiden dari Partai Demokrat dengan pesaing beratnya Hillary Clinton banyak mendapat perhatian publik Amerika.

Selain banyak simpati atas kemunculannya sebagai calon presiden masa depan Amerika dari keturunan minoritas African-Amerika, berkulit hitam, muda dan cerdas, ada beberapa anggapan yang memojokkannya dengan alasan-alasan yang kurang rasional. Tapi lebih cenderung kepada penggunaan teori konspirasi untuk menjatuhkannya.

Mereka beranggapan bahwa ada skenario besar dibelakang pencalonan Obama sebagai calon presiden yang akan membahayakan Amerika dikemudian hari kalau sang senator kelak naik tahta menjadi orang nomor satu di negeri Paman Sam. Teori konspirasi apa yang membuat orang Amerika takut kepadanya? Apakah itu hanya ‘black campaign’ yang biasa ditemui dalam kampanye-kampanye politik?

 Apa Itu Teori Konspirasi?

Teori konspirasi awalnya diambil dari kata konspirasi atau bersekongkol. Dalam kamus Webster’s New Collegiate disebutkan bahwa asal kata konspirasi adalah ‘to conspire’ yang berarti ‘to join in a secret agreement to do an unlawful or wrongful act or to use such means to accomplish a lawful end’.

Ini berarti bahwa teori konspirasi adalah sebuah teori yang digunakan untuk mengungkapkan adanya persekongkolan  atau sebuah design besar pada  suatu peristiwa atau kegiatan melanggar hukum yang dilakukan  secara gelap dan rahasia  untuk kepentingan tertentu.

Pro dan kontra tidak bisa dielakan dalam menyikapi adanya konspirasi dibalik suatu pristiwa. Para pengagum teori ini sangat getol mengutak-atik hubungan antara suatu peristiwa dengan desain besar yang mungkin ada.

Mereka selalu mencari sesuatu dibalik laporan resmi kepolisian atau fakta yang kasat mata. Karenanya, tak heran kalau para psikolog, diantaranya Goertzel (1994) dalam bukunya Belief in Conspiracy Theories mengatakan bahwa seseorang yang pernah percaya pada satu teori konspirasi tentang sebuah pristiwa cenderung akan percaya terhadap teori konspirasi yang lain, begitu juga sebaliknya orang yang tidak percaya akan satu konspirasi cenderung untuk tidak percaya selamanya.

Sementara para penentang teori ini mengatakan bahwa teori konspirasi adalah sebuah teori yang absurd, tidak bisa dipertanggungajawabkan dan harus dipandang hanyalah sebagai manipulasi politik dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Banyak kejadian yang dipercaya oleh para pendukung teori konspirasi bahwa dibelakang kejadian itu ada skenario besar. Misalnya kematian Putri Diana dianggap sebagai adanya konspirasi para agen rahasia Inggris yang dengan sengaja menghabisinya karena disinyalir akan menikah dengan seorang lelaki Muslim Dodi Al-Fayed. Krisis ekonomi yang melanda kawasan Asia Tenggara dipandang sebagai usaha George Soros keturunan Yahudi untuk melemahkan kekuatan ekonomi umat Islam yang menjadi mayoritas dikawasan ini. Dan yang paling menghebohkan adalah anggapan bahwa ada konspirasi besar dalam kejadian  serangan teroris 11 September yaitu bahwa ada individu-individu di Gedung Putih yang tahu akan serangan tersebut tetapi membiarkannya dengan tujuan memperoleh justifikasi untuk menghabisi para teroris terutama kelompok al-Qaida dan akan berimplikasi pada ditingkatkannya anggaran pertahanan bagi militer.

Lalu apa hubungannya teori konspirasi ini dengan pencalonan senator Barack Obama sebagai bakal calon presiden dari Partai Demokrat?

Ada Apa Dengan Obama?

Obama, senator dari Illinois kelahiran Hawaii tahun 1961 dipandang sebagai politisi yang sedang naik daun dan berpotensi untuk menjadi calon presiden dari Partai Demokrat. Selain karena masih muda untuk ukuran calon presiden, pria ini dianggap sebagai senator cerdas, santun dan menarik dalam bertutur kata. Kecerdasannya bisa dilihat dari track recordnya ketika masih kuliah. Dialah orang keturunan kulit hitam pertama yang menjadi president pada Harvard Law Review ketika dia kuliah di Harvard Law School, universitas bergengsi di Amerika bahkan di dunia.

Selama masa kampanye, yang banyak mendapatkan perhatian dari Obama  ternyata bukan pada latarbelakang ethnisnya sebagai keturunan kulit hitam yang banyak dipertanyakan orang Amerika, tetapi masa lalunya yang mempunyai hubungan dengan  dunia Islam.

Alec MacGillis dalam tulisannya di Washington Post mengatakan bahwa, meskipun berkali-kali Obama menyanggah bahwa dia bukan Muslim, dan berkali-kali juga menyebut dalam kampanyenya bahwa dia adalah anggota dari Trinity United Church of Christ, bahkan untuk mempertegas sambil menyebut alamatnya di jalan No 95, the South Side of Chicago, tetap saja para penentangnya tidak percaya.

Bahkan mereka percaya akan teori konspirasi dibalik pencalonan Obama. MacGilles lebih jauh menulis bahwa public Amerika memandang Obama sebagai a “Muslim plant” in a conspiracy against America, and that, if elected president, he would take the oath of office using a Koran, rather than a Bible, as did Keith Ellison, the only Muslim in Congress, when he was sworn in earlier this year.

Obama dianggap sebagai mata-mata yang sengaja disusupkan oleh orang Islam sebagai bagian dari desain besar menghancurkan Amerika dari dalam. Mereka takut kalau Obama akan disumpah dengan menggunakan al-Quran seperti halnya Keith Ellison, satu-satunya anggota kongres di Amerika yang beragama Islam.

Ketakutan dan prejudice terhadap Obama nampaknya disebabkan karena latarbelakang keluarga Obama yang mempunyai bapak tiri seorang Indonesia dan sang senator pernah tinggal di Indonesia. Bahkan rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan tetapi cukup keras berkembang ke publik Amerika adalah bahwa Obama pernah belajar di madrasah selama empat tahun. Padahal Obama hanya sekolah di SDN 1 Menteng, Jakarta ketika berusia 6 sampai 10 tahun.

Bagi publik Amerika, mendengar kata ‘madrasah’ apalagi ‘pesantren’ sering diasosiasikan dengan stigma negatif sebagai sarang pencetak para teroris. Hal ini menunjukkan bahwa banyak diantara mereka yang tidak tahu apa bedanya sekolah, madrasah dan pesantren yang sebenarnya. Mereka hanya tahu dari media bahwa tiga bersaudara pelaku bom Bali –Mukhlas, Amrozi dan Ali Imron—mempunyai ikatan yang kuat dengan sebuah pesantren di Tenggulun, Jawa Timur. Dan karenanya mengeneralisir bahwa pesantren adalah sarang radikalisme, padahal di Indonesia pesantren berjumlah ribuan.

Dari kasus Obama ini, kita bisa melihat bahwa ternyata teori konspirasi bisa sangat membutakan siapa saja. Kalau biasanya teori konspirasi lebih dilekatkan pada orang Islam yang selalu curiga akan adanya konspirasi Yahudi atau Amerika dibalik peristiwa-peristiwa besar tertentu seperti peristiwa 11 September, Bom Bali, dan krisis ekonomi 1997; ternyata publik Amerika sendiri yang dianggap sebagai cukup rasional dan mempunyai rata-rata pendidikan yang lebih tinggi juga termakan isu konspirasi tadi. Hal ini bisa dilihat dari  polling yang dilakukan oleh Pew Research Centre for the People and Press di Amerika pada bulan Agustus lalu, yang menujukkan bahwa 45 persen dari responden mengatakan bahwa mereka tidak akan memilih calon yang berasal dari kalangan Muslim, berbanding dengan 25 persen jika calon berasal dari Mormon, dan 16 persen jika calon berdasar dari Kristen Evanglican.

Kasus Obama juga menunjukkan bahwa memperbaiki anggapan adanya Clash of Civilization antara Barat dan Islam ternyata tidak gampang karena masing-masing masyarakat pada umumnya baik itu di Amerika ataupun di negara-negara Islam sendiri masih banyak yang belum saling memahami dan masih saling curiga satu sama lain.

Akhirnya, waktu yang akan membuktikan, apakah Obama dengan dilabeli Muslim dan adanya ketakutan disebagian publik Amerika akan adanya konspirasi tadi akan menjegal Obama untuk meraih posisi sebagai kandidat presiden dari partai demokrat atau justru sebaliknya akan membawanya melenggang ke Gedung Putih? Jika pun Obama gagal meraih tiket calon presiden, mudah-mudahan itu hanya karena kalah tidak mampu meyakinkan publik Amerika akan program-program yang ditawarkan ketika kampanye, bukan karena teori konspirasi tadi, dan ketakutan akan adanya seorang presiden Amerika yang beragama Islam, meskipun sebenarnya bukan.. Wallahu A’lam bi al-Showab.





3 Responses to Teori Konspirasi dan Barack Obama

  1. Sangat menarik penjelasannya mengenai teori konspirasi. Jujur saya sedikit terganggu dengan beberapa “black campaign” mengenai Obama yang disebut sebagai seorang muslim garis keras yang berusaha untuk menghancurkan Amerika dari dalam.

    Ada juga yang menyebut2 Obama pernah bersekolah di “Islamic hard-line boarding school” *madrasah garis keras*. Kesannya dunia Islam sarat dengan kekerasan dan keburukan. Sungguh propaganda yang mendiskreditkan umat muslim.

    Saya sedang mencoba untuk membuat artikel mengenai Islam dan politik, mungkin mas ada referensi yang bisa saya gunakan untuk menambah bahan? terima kasih sebelumnya…

  2. alinur says:

    Betul Mas Andika, aneh juga di negara yg sudah maju sekalipun ternyata prasangka itu masih aja ada, itulah politik. Untuk referensi Islam dan politik saya kira di internet juga banyak, tapi ini barangkali bisa membantu:
    Suminto, H. A. Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta: LP3ES, 1985
    Rahman, Fazlur, ‘The Principle of Shura and the Role of Ummah in Islam.” in State, Politics and Islam. Edited by Mumtaz Ahmad, Indianapolis: American Trust Publication, 1986.
    Karim, M. R. Dinamika Islam di Indonesia: Suatu Tinjauan Sosial Politik, Yogyakarta: PT Hanindita, 1985
    Ehteshami, Anoushiravan. “Islam, Muslim Polities and Democracy.” Democratization Vol. 11, No. 4, London: Frank Cass, August 2004.
    Effendy, Bachtiar. Islam and the State in Indonesia, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2003.
    Baswedan, A. R. “Political Islam in Indonesia: Present and Future Trajectory.” Asian Survey, Vol. 44, Issue 5, 2004.
    Ali, Fachri and B. Effendy, Islam dan Masalah Kenegaraan, Jakarta: LP3ES, 1985.
    Ahmad, Mumtaz. “Introduction: Islamic Political Theory –Current Scholarship and Future Prospects.” in State Politics and Islam. Edited by Mumtaz Ahmad. American Trust Publications, 1986.

  3. Makasih untuk referensinya, mas. Saya coba cari. Btw, saya baru posting satu tulisan mengenai kartun nabi Muhammad yang kembali dipublikasikan. Mungkin mas bisa memberi perspektifnya mengenai hal ini? http://andikaputraditama.wordpress.com/2008/02/14/muhammad-cartoon-republished-looking-for-some-trouble-huh/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: