Sakitnya Soeharto dan Dilema Politik SBY-JK

PR, 11/01/08
SAKITNYA mantan penguasa Orde Baru, Soeharto, hari-hari ini, ramai jadi pemberitaan media. Beberapa media luar negeri seperti Sydney Morning Herald dan The Straits Times Singapore juga ikut memberitakannya.

Dirawatnya Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina awal tahun ini dipandang berbagai kalangan sebagai sakitnya yang paling serius sejak bolak-baliknya Soeharto ke rumah sakit dalam sepuluh tahun terakhir. Hal ini memicu berbagai kalangan berpolemik tentang haruskah Soeharto dimaafkan dan kasusnya ditutup.

Ada dua kelompok besar dalam menyikapi masalah ini. Kelompok pertama mengatakan, sebagai bapak bang-sa yang banyak jasanya bagi Indonesia alangkah baiknya kalau Soeharto diampuni dan kasusnya ditutup. Selain karena alasan jasanya, alasan kemanusiaan menjadi pertimbangan kelompok ini. Kelompok ini diamini oleh beberapa tokoh politik, terutama dari Partai Golkar. Agung Laksono mengatakan, Partai Golkar meminta pemerintah mengesampingkan perkara Soeharto.

Kelompok kedua pada inti-nya berpendapat sama, Soeharto bisa dimaafkan untuk alasan kemanusiaan. Akan tetapi, kasusnya harus dituntaskan lebih dulu. Biarkan Soeharto diadili demi keadilan di mata hukum dan apabila sudah jelas vonisnya ber-salah, pemerintah dalam hal ini presiden bisa mengampuninya dengan alasan kemanusiaan tadi. Bagi kelompok ini, menggantungnya kasus Soeharto dan ketidakjelasan status hukumnya tidak hanya akan membebani Pak Harto secara pribadi tetapi juga akan menjadi preseden dan catatan buruk bagi seja-rah Indonesia masa datang. Kelompok ini di antaranya didukung Amien Rais dan Gus Dur.
Sekarang, bagaimana sikap pemerintah?

Dilema SBY?

Berlarut-larutnya penanganan kasus Soeharto telah membebani setiap pemimpin yang menjadi presiden di Indonesia pasca-Soeharto. Hal ini sangat wajar karena kasus Soeharto tinggi muatan politisnya.

Tak heran kalau SBY juga tampak hati-hati merespons tuntutan harus tidaknya Soeharto diampuni dan kasusnya ditutup. SBY berada dalam posisi dilematis secara politik, apalagi menjelang pemilu tahun 2009. SBY harus pandai menghitung untung-ruginya secara politik sebelum bersikap. Tampaknya SBY masih menghitung kalkulasi itu sambil menunggu perkembangan politik di lapangan dan memantau kesehatan Soeharto.
Secara politik, jika SBY mengampuni begitu saja dan menutup kasus Soeharto, banyak kalangan yang akan kecewa dengan keputusannya terutama para korban ketidakadilan Soeharto ketika dia berkuasa. SBY juga akan tercoreng karena dianggap tebang pilih dalam menegakkan hukum. Keuntungan yang diraih, SBY akan mendapatkan simpati dari keluarga dan para pendukung setia Soeharto.

Pertanyaannya, sejauh mana signifikansi pendukung Soeharto bagi karier politik SBY?
Sebaliknya, jika SBY melanjutkan kasus Soeharto sampai jelas statusnya bersa-lah atau tidak, termasuk kasus perdatanya, SBY akan dipandang sebagai pemimpin yang berani menegakkan supremasi hukum di Indonesia. Tampaknya ketegasan presiden untuk segera menuntaskan kasus ini akan mendapat simpati banyak kalangan. Toh, kalaupun Soeharto pada akhirnya divonis bersalah, SBY bisa memaaf-kannya lewat hak prerogatifnya untuk menyenangkan para pendukung setia Soeharto. Pertanyaannya, bisakah presiden keluar dari tekanan politik kalangan yang menginginkan kasus Soeharto segera ditutup, terutama dari Partai Golkar?

Sikap Golkar dan JK

Partai Golkar sudah jelas-jelas meminta pemerintah untuk menghentikan kasus Soeharto dan memaafkannya demi alasan kemanusiaan dan karena jasa Soeharto bagi bangsa ini. Sikap Golkar ini harus dibaca dengan hati-hati oleh pemerintah, terutama SBY. Apakah sikap Golkar itu murni demi alasan kemanusiaan atau ada kepentingan dan strategi politik di sebaliknya?
Golkar tentu akan membela Soeharto sebagai sesepuh partai. Golkar akan dianggap “kualat” kalau tidak menghormati sesepuhnya. Uniknya, permintaan Golkar agar pemerintah menghentikan kasus Soeharto tidak dilakukan oleh ketua umumnya, Jusuf Kalla (JK). Apakah itu hanya kebetulan atau memang strategi politik Golkar? Ketidaklangsungan JK mengumumkan sikap Golkar bisa dipandang sebagai cantiknya permainan politik JK.
JK bisa mendapat keuntungan politik ganda sekaligus dengan sikap Partai Golkar. Pertama, jika tuntutan Golkar disetujui SBY, dengan serta merta JK akan dipandang berjasa oleh para pendukung setia Soeharto. Selain itu jika tuntutan Golkar dikabulkan, JK dalam waktu bersamaan akan diuntungkan dengan turunnya popularitas politik SBY di mata publik karena tidak melanjutkan kasus Soeharto.

Kalaupun tuntutan Golkar tidak disetujui SBY, popularitas politik JK di mata publik tidak akan tercoreng karena sebagai Ketua Umum Golkar tidak secara langsung mengumumkan permohonan peng-hentian kasus Soeharto. Bahkan bisa jadi JK masih dipandang berjasa oleh para pengikut setia Soeharto.

Akhirnya, permasalahan kasus Soeharto betul-betul akan menguras perhatian politik bangsa ini, terutama presiden SBY. Tampaknya SBY juga mengharapkan kasus ini segera selesai. Ketidakjelasan kasus Pak Harto akan berimplikasi politik bagi pemerintahan SBY, apalagi peringatan sepuluh tahun jatuhnya Soeharto pada bulan Mei tahun ini semakin dekat. Tidak menutup kemungkinan kalau peringatan kejatuhan Soeharto akan dijadikan momentum politis oleh para “oportunis” politik di negeri ini yang ingin mengail keuntungan dari kasus Pak Harto. Apalagi pemilu 2009 sudah diambang pintu.

Saya kira SBY dan jajarannya harus berpikir keras memperhitungkan untung-rugi politiknya dalam menyikapi kasus Soeharto. Wallahu a`lam bi al showab. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: