Meneladani Nabi Yusuf dalam Memilih Pemimpin Jabar

PR, 11/04/03

SEJARAH adalah sunnatullah dengan hukum sebab dan akibat yang tidak berubah. Oleh karena itu, Alquran menganjurkan agar umat Islam senantiasa menelaah sejarah yang memang sarat dengan pelajaran. Sebagaimana diyakini bahwa sejarah serta kisah dalam Alquran adalah sebaik-baik kisah yang memiliki pesan moral yang akan terus berlaku sepanjang sejarah kemanusiaan. Dengan demikian, peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Yusuf menarik untuk dikaji dan dicoba diaplikasikan pada zaman sekarang, terutama bagi masyarakat Jawa Barat yang sedang hiruk-pikuk memilih gubernurnya.

Kisah Yusuf yang diabadikan dalam Alquran memang penuh dengan prediksi dan hikmah yang bisa diambil. Bukankah Allah menurunkan Alquran kepada umat manusia sebagai guide-book agar manusia berjalan sesuai dengan aturan dan sunatullah sehingga manusia tidak tergelincir pada kesesatan? Dan salah satu fungsi diturunkannya Alquran adalah agar umat Muhammad bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah nabi sebelumnya.

Sejak awal penuturannya, Allah telah meminta perhatian Muslimin dengan mengatakan bahwa kisah Yusuf merupakan the best story dan mengandung pelajaran yang sangat penting untuk dijadikan pelajaran bagi-orang-orang yang berakal (QS Yusuf:3).Penutup surat Yusuf juga dengan jelas Allah menyebutkan, Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memiliki akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman. (QS Yusuf: 111)

Takwil mimpi

Melalui kisah Yusuf, paling tidak kita mendapatkan tiga suguhan takwil mimpi yang terbukti kebenarannya. Pertama, mimpinya Nabi Yusuf tentang sujudnya sebelas bintang, bulan, dan matahari. Takwil mimpi tersebut mengisyaratkan bahwa di suatu waktu Yusuf akan menjadi manusia terpandang, dihormati, dan menjadi pilihan Allah sebagai nabi.

Dengan takwil ini, Yusuf sudah diperingatkan ayahnya Ya’kub untuk berhati-hati terhadap saudaranya yang mungkin akan mencelakakannya. Ternyata kekhawatiran sang ayah terbukti dengan dibuangnya Yusuf ke dalam sumur di sebuah hutan oleh saudaranya.

Takwil mimpi kedua, terjadi ketika Yusuf sedang dalam penjara. Dua orang tahanan menghadap Yusuf dan bertanya tentang mimpinya. Tahanan pertama bermimpi bahwa dalam mimpinya dia sedang memeraskan anggur, sedangkan tahanan yang lain menceritakan bahwa dalam mimpinya itu dia seolah-olah memikul sekarung roti di atas kepala dan burung-burung memakannya.Dalam takwilnya Yusuf berkata, seorang akan dibebaskan dan akan kembali melayani raja. Seorang lagi, mantan bendaharawan kerajaan, akan dihukum mati. Takwil Yusuf ternyata benar. Kemampuannya itu tersiar dan mengantarkannya untuk menakwilkan mimpi yang ketiga yaitu mimpinya sang raja yang bermimpi “tujuh lembu kurus akan memakan tujuh lembu gemuk” (43-44).

Yusuf menjelaskan bahwa akan datang masa subur dengan makanan berlimpah ruah selama tujuh tahun, namun setelah itu tiba masa kemarau sepanjang tujuh tahun pula. “Hendaklah kamu menanam bersungguh-sungguh tujuh tahun berturut-turut, kemudian apa yang kamu tuai biarlah ia pada tangkainya, kecuali sedikit dari bahagian yang kamu makan. Kemudian akan datang selepas masa itu, tujuh tahun kemarau yang akan menghabiskan makanan yang kamu sediakan baginya, kecuali sedikit dari yang kamu simpan (untuk dijadikan benih). Kemudian akan datang pula sesudah itu tahun orang mendapat (rahmat) hujan, dan ketika itu mereka dapat memerah anggur” (47-49).

Lantaran takwilnya, raja mengangkat Yusuf untuk menjadi Menteri Urusan Pangan dan Ekonomi (54-55). Ketika masa subur tiba, kerajaan Mesir meminta rakyatnya menyimpan gandum, kurma, dan makanan lain sebanyak-banyaknya untuk masa paceklik mendatang. Berkat kerja Yusuf, kerajaan Mesir tetap berkecukupan pangan di saat kemarau panjang tiba. Penduduk yang kelaparan dari berbagai daerah lain berdatangan ke Mesir untuk membeli pangan dengan sisa kekayaan mereka.

Pesan moral

Dari kisah penakwilan mimpi tersebut, beberapa pesan moral bisa diambil. Pertama, kemampuan Ya’kub dan Yusuf memprediksi masa depan meskipun tentunya dengan izin Allah, perlu mendapat perhatian. Ini menggambarkan bahwa seorang calon pemimpin harus mampu melihat ke depan dan memiliki rencana strategis dalam menyikapi kemungkinan terburuk di masa yang akan datang.

Pandainya Yusuf melihat jauh ke depan terbukti dengan berhasilnya dia memperingatkan sang raja untuk bersiap-siap menyimpan kekayaan di musim hujan sebagai cadangan makanan di musim paceklik.Kemampuan Yusuf memprediksi masa depan dan pekanya sang raja menjalankan strategi yang baik untuk kemakmuran rakyat sangat patut dicontoh oleh pemimpin dan politisi kita di zaman sekarang.

Seandainya para pemimpin di Indonesia memiliki strategi yang baik dan peka terhadap penderitaan rakyat, kebijakan kenaikan BBM dan tarif dasar listrik (TDL) yang diberlakukan di awal tahun, tentunya tidak akan menimbulkan gejolak yang berkepanjangan.

Kedua, Yusuf tidak menjadikan kesediaan menakwil mimpi sang raja sebagai syarat pembebasannya dari penjara. Mungkin kesediaan yang bersyarat itu dirasakan Yusuf memiliki nuansa suap atau korupsi. Di sini dengan jelas bagaimana integritas moral seorang calon pemimpin masyarakat teruji.

Pesan moral kedua ini menunjukkan bahwa untuk memimpin masyarakat, apalagi dalam kondisi negara yang belum bisa keluar dari krisis diperlukan seorang pemimpin yang cukup berwibawa dalam arti memiliki integritas moral, kompetensi, dan keahlian yang mencukupi. Dimensi moral dari krisis ekonomi, misalkan, tidak bisa diremehkan karena ia sekaligus juga krisis kepercayaan.

Pesan moral lain adalah kesediaan Yusuf memangku jabatan sebagai Menteri Ekonomi Kerajaan Mesir pada waktu itu. Karena Yusuf yakin bahwa dirinya mampu mengemban amanah tersebut dan siap berkorban demi kepentingan rakyat. Ini berarti bahwa sebagai calon pemimpin, para politisi kita harus sadar bahwa mengemban amanah sebagai pemimpin tidaklah mudah, tetapi harus introspeksi diri apakah memang mampu untuk berjuang demi masyarakat atau hanya mementingkan diri dan golongannya saja.Kalau kesadaran untuk mengembalikan uang kadeudeuh (seperti terjadi di DPRD Jawa Barat) dari kekayaan negara yang tidak pantas diterima oleh anggota DPRD dalam situasi rakyat yang masih dilanda krisis ekonomi saja masih susah untuk dipenuhi, bagaimana mungkin pemimpin masyarakat itu berpikir untuk kepentingan menyelamatkan ekonomi rakyat dalam skala yang lebih luas?

Kalau saja beberapa pesan moral dari kisah Yusuf bisa diteladani oleh pemimpin dan rakyat Indonesia terutama para calon gubernur Jawa Barat, tidak mustahil Jabar akan menjadi bagian dari negara baldatun tayibatun wa rabbun ghafur. Gubernur Jabar ideal itu akan memiliki rencana pembangunan strategis ke depan, peka terhadap permasalahan rakyat, memiliki integritas moral yang tinggi sehingga melenyapkan budaya korupsi, dan mampu meraih dukungan rakyat sehingga siap berjuang untuk keluar dari krisis. Wallahu a’lam bishawab.***

One Response to Meneladani Nabi Yusuf dalam Memilih Pemimpin Jabar

  1. ahmad says:

    TERIMAKASIH BANYAK SAYA DAPAT REFERENSI BARU UNTUK TUGAS KULIAHKU.SALAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: