Mendiskusikan Terrorism di Asia Tenggara

BH, 10/05/05

Meskipun definisi terrorist atau terrorism masih terus diperdebatkan, ancaman terror yang menghantui kelangsungan peradaban manusia di muka bumi ini terus berlanjut di berbagai belahan dunia. Salah satu kawasan yang rentan terhadap serangan terror adalah kawasa Asia Tenggara.

Tulisan ini berusaha mempetakan tiga hal dasar yang menyebabkan munculnya gerakan terror di kawasan Asia Tenggara dan kemungkinan mereduksi atau mencegah munculnya kembali aksi terror.

Ketiga hal tersebut adalah: Pertama, apa sebenarnya tujuan politis yang ingin dicapai oleh kelompok penebar terror? Kedua, strategi apa yang biasa digunakan oleh kelompok ini di kawasan Asia Tenggara?, Dan ketiga, sejauh mana kelompok terrorist mempunyai kapasitas untuk melakukan kekerasan di wilayah ini? Jika ketiga hal tersebut bisa diungkap, kebijakan tiap tiap-tiap negara di kawasan ini untuk mengcounter terrorism bisa diarahkan kepada salah satu dari ketiga hal tersebut di atas atau bahkan lebih.

Tujuan Politis?

Dari beberapa literature yang mendiskusikan ancaman terrorism di Asia Tenggara, terlihat bahwa kelompok-kelompok terror dikawasan ini mempunyai tujuan politis yang hampir sama, diantara tujuan politis mereka adalah; protest terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah (baca Islam), pemberontakan terhadap kekuasaan pemerintahan yang syah karena pemerintahannya dianggap korup dan diskriminatif dan pemaksaan kehendak untuk mengaplikasikan nilai-nilai agama tertentu atau kalau klaim media tentang adanya kelompok Jamaah Islamiyah di kawasan ini bisa dipercaya, to some extent, mereka berusaha mendirikan Pan Islamic State di Asia Tenggara.

Jika tujuan politisnya seperti itu, maka hal yang mungkin dilakukan oleh masing-masing negara dikawasan ini untuk mengcounter terrorism adalah bahwa setiap pemerintahan perlu mempertimbangkan apakah tujuan politis mereka sudah harga mati yang tidak bisa di negosiasikan lagi? Jika masih bisa, mungkinkah penyelesaiannya dengan cara pencerahan pemikiran dan pendidikan yang ditujukan pada kelompok ini, agar tidak berpikiran sempit? Atau perlukah masing-masing pemegang kebijakan dikawasan ini mengubah politik luar negeri mereka dalam berhubungan dengan kelompok-kelompok radikal atau kelompok separatist? Jika memang tujuan politis penebar terror itu sudah harga mati, apakah jalan terbaik penyelesaiannya harus dilakukan dengan kekuatan militer?

Strategy Kekerasan?

Salah satu hal yang membedakan kelompok terroris dengan kelompok lainnya dikawasan ini adalah bahwa untuk mencapai tujuan politiknya mereka tidak menggunakan cara-cara lobi atau ketika mereka ingin mengganti kekuasaan yang syah, mereka ingin melakukannya secara revolusioner, instant dan tidak melalui jalur parlementer yang legal. Mereka justru menggunakan cara-cara kekerasan seperti dengan pengeboman target-target yang mempunyai symbol protest terhadap kebijakan luar negeri Amerika atau Negara Barat lainnya. Selain melalui pengeboman yang memporakporandakan tempat-tempat sipil, mereka juga terkadang melakukan terror dengan cara penculikan dan pembunuhan secara sadis dengan target masyarakat sipil.

Untuk mengcounter strategy kekerasan yang mereka lakukan, pemerintahan dikawasan ini perlu mempertimbangkan pertanyaan mengapa kelompok-kelompok terror ini melancarkan serangannya terhadap tempat-tempat yang cukup simbolik? Ada beberapa kemungkinan jawaban terhadap pertanyaan diatas. Pertama, tidak diketahui secara jelas apa maksud mereka, salah satunya karena mereka ingin saja melakukan serangan terhadap symbol-simbol tersebut. Jika kenyataannya demikian, pemerintah dikawasan ini tidak bisa berbuat banyak selain mencoba membatasi gerak-gerik mereka. Kemungkinann kedua, mereka melakukan aksi tersebut karena kurangnya pengetahuan mereka tentang nilai-nilai agama, sehingga simbol-simbol yang berupa kepentingan Barat dianggap sebagai bertentangan dan berbahaya bagi kelangsungan nilai-nilai agama yang mereka anut . Solusi pemecahan yang bisa dikedepankan adalah pemerintah dikawasan ini perlu mempromosikan perang pemikiran terhadap pemikiran sempit para kaum radikal. Ketiga, mereka melakukan serangan terhadap simbol-simbol tersebut karena mereka memang sudah frustrasi dan tidak mempunyai alternative lain untuk melampiaskan kemarahannya terhadap kebijakan Amerika. Jika demikian alasannya, maka pemerintah dikawasan ini harus berusaha secara bersama-sama untuk meyakinkan pemerintah Amerika atas kesalahan kebijakan luar negerinya.

Kemampuan Melakukan Terror

Munculnya serangan terror tentunya sangat berkaitan dengan bagaimana kemampuan mereka melakukannya. Diantara banyak hal yang memungkinkan mereka melancarkan serangan terror adalah karena mereka mempunyai perlengkapan senjata, menguasai bahan peledak, punya camp-camp pelatihan yang sangat militant, punya organisasi yang solid dan terakhir mempunyai dukungan keuangan yang memadai.

Solusi yang ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan mereka melakukan terror harus melibatkan kekuatan keamanan, kelompok intelegent, polisi perbatasan masing-masing negara atau kekuatan militer lainnya. Keefektifannya tentu sangat bergantung kepada sumber daya yang dipunyai masing-masing negara dikawasan ini, termasuk kemampuan financial dan law enforcement. Hal ini sangat signifikan dilakukan mengingat terrorism dikawasan ini di duga kuat mempunyai ‘link’ dengan jaringan terrorism international. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam menumpasnya adalah apakah terroris local dan regional dikawasan ini meningkat kemampuannya untuk melakukan terror karena mereka mempunyai akses dan dibantu oleh jaringan international? Jika ya, bagaimana kebijakan yang mesti di ambil oleh masing-masing pemerintah di kawasan ini untuk memonitor atau memutuskan jalur suplai terhadap terroris local, baik senjata maupun financial?

Disamping hal-hal di atas, untuk mengcounter terrorism dikawasan ini, hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa masing-masing pemerintahan di kawasan Asia Tenggara memerlukan pemimpin-pemimpin yang kredibel. Karena rentannya kawasan ini dari penetrasi terrorist disebabkan oleh; 1) pemerintah dikawasan ini sebelumnya tidak dibekali oleh perangkat hukum yang bisa digunakan untuk menjerat pelaku terror, karena memang ancaman terroris baru muncul belakangan ini, dan 2) kepemimpinan pemerintahan dikawasan ini cukup lemah dan korup terutama di tapal batas masing-masing negara, sehingga memungkinkan kelompok terroris untuk terus survive dikawasan ini. Kelemahan-kelemahan seperti ini hanya bisa ditutupi jika masing-masing negara mempunyai pemimpin yang tangguh, bersih, tidak korup dan konsisten dalam penegakan hukum.

Terakhir, pengerahan kekuatan militer untuk memberantas terrorism adalah sangat mudah jika masing-masing negara mempunyai kekuatan militer dan intelegent yang memadai. Permasalahannya, kekuatan militer bukan hanya satu-satunya solusi untuk memecahkan kekuatan terror di kawasan ini. Perang melawan terrorism di kawasan ini juga memerlukan pendekatan-pendekatan lain termasuk pendekatan politis dan ideologis. Sebab jika hanya kekuatan militer, terkadang bukan hanya tidak effektif bahkan bisa jadi kontra produktif dan malah mengundang simpatik dari kelompok-kelompok terror lainnya dari kawasan lain. Wallahu a’lam.

 

 

Benarkah Pesantren di Indonesia Mencetak Kaum Radikal?

Ahmad Ali Nurdin¨

Berita Harian, 18 Maret 2005

 

Setelah peristiwa Bom Bali tahun 2002 yang menewaskan lebih dari dua ratus orang, terutama turis asing dari Australia, perhatian dunia terhadap keberadaan pesantren (Islamic Boarding School) di Indonesia sangatlah besar. Akibat peristiwa itu, muncullah asumsi dikalangan orang Barat bahwa lembaga pesantren identik dengan radicalism dan terrorism.

 

Prasangka atau asumsi tersebut bukanlah tanpa alasan karena para pelaku dan tersangka peledakan tersebut ternyata mempunyai hubungan dan latar belakang pendidikan pesantren. Abu Bakar Basyir (dua hari yang lalu telah di vonis 2 tahun penjara oleh Pengadilan di Indonesia) yang dituduh sebagai peemimpin Jamaah Islamiyah kawasan Asia Tenggara, adalah pimpinan Pesantren Ngruki yang berada di Jawa Tengah. Begitu juga tiga bersaudara pelaku bom Bali –Mukhlas, Amrozi dan Ali Imron—mempunyai ikatan yang kuat dengan sebuah pesantren di Tenggulun, Jawa Timur.

 

Pertanyaan selanjutnya adalah, benarkah pesantren di Indonesia sebagai pencetak orang-orang radikal dan terrorist? Bisakah kita mengeneralisir bahwa pesantren-pesantren di Indonesia adalah sarang kaum terrorist sebagaimana diasumsikan oleh sebagian orang Barat dan medianya? Padahal kenyataannya, menurut data resmi dari Departement Agama Indonesia, ada lebih dari tiga puluh delapan ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia. Dan ternyata dalam beberapa laporan media massa hanya pesantren Ngruki dan Tenggulun lah yang disinyalir mempunyai hubungan dengan kaum radikal di Indonesia.

 

Di Indonesia sekarang ini, ada dua kurikulum pendidikan yang diakui. Pertama system kurikulum nasional yang bersifat sekuler dan ada system kurikulum madrasah yang lebih menekankan pada pelajaran agama Islam. Sementara itu Pesantren, sebagai sebuah system pendidikan tertua di Jawa, biasanya mengadopsi salahsatu kurikulum, dua-duanya digunakan, atau tidak menggunakan sama sekali, tergantung kepada jenis dan bentuk pesantrennya: tradisional atau modern.

 

Di awal berdirinya pada abad kesembilan belas, kebanyakan pesantren hanya menggunakan system tradisional dengan seluruh pelajaran yang diberikan berupa pengetahuan Islam dari kitab-kitab klasik dengan tujuan untuk mencetak pemuka-pemuka agama (kyai). Diantara pelajaran itu adalah: cara membaca Al-Quran dan tafsirnya, hadits Nabi dan syarahnya, hokum Islam (fiqh), kaidah-kaidah fiqh (ushul fiqh) dan kitab-kitab klasik Islam lainnya yang semuanya ditulis dalam bahasa Arab. Pesantren tradisional seperti ini, tidak menggunakan kurikulum yang diakui pemerintah baik itu kurikulum nasional maupun kurikulum madrasah, mereka menggunakan kurikulum yang dibuat sendiri. Santri atau siswa yang belajar di pesantren ini sangat hormat kepada kyai dan mereka enggan untuk menentang pendapat kyai.

 

Hanya saja sekarang ini, hampir semua pesantren di Indonesia sudah modern. Mereka biasanya mengadopsi system kurikulum nasional yang sekuler dan juga menyelenggarakan pendidikan dengan system madrasah. Jenis pesantren ini sekarang kebanyakan berafiliasi kepada salah satu organisasis Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdhatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah.

 

Artinya, di Pesantren modern, santri tidak hanya mempelajari kitab-kitab Islam klasik tetapi juga mempelajari pengetahuan sekuler dengan kurikulum yang diakui oleh pemerintah, baik itu kurikulum nasional ataupun kurikulum madrasah. Bahkan ada pesantren yang menggunakan 70% kurikulum sekuler dan hanya 30% pelajaran agama Islam. Pesantren modern seperti ini bisa memberikan ijazah (diploma) bagi lulusannya sehingga mereka bisa melanjutkan sekolah ke tingkat universitas. Diantara pesantren modern ini adalah Pesantren Gontor-Jawa Timur, Darussalam Jawa Barat, Darunajah, Jakarta dan lain-lain.

 

Lulusan pesantren tradisional biasanya cenderung berpikiran konservatif yang mencurigai modernism tapi tidak menolaknya. Ketika pulang kampung, lulusan pesantren tradisional ini biasanya menjadi terhormat di kampungnya karena dipandang banyak tahu pengetahuan agama Islam dan berusaha untuk mendirikan pesantren, meskipun berskala kecil.

 

Sedangkan lulusan pesantren modern, biasanya lebih berpikiran agresif dan sering mengkampanyekan ide bahwa umat Islam harus berperan aktif mengisi kemodernan. Mereka berusaha mereformasi pemikiran Islam agar sesuai dengan modernism. Lulusan pesantren modern lah yang sekarang mempunyai peranan politik yang cukup berpengaruh di Indonesia. Untuk menyebut contoh, tokoh-tokoh politik Islam yang mempunyai latar belakang pesantren antara lain Abdurrahman Wahid (mantan presiden Indonesia), Hidayat Nurwahid (sekarang Ketua Parlement Indonesia), Amin Rais (mantan ketua Parlement), Ahmad Syafii Maarif (Ketua Muhammadiyah) dan Hasym Muzadi (Ketua Nahdhatul Ulama).

 

 

Jika ternyata para pelaku Bom Bali adalah juga lulusan pesantren di Indonesia, barangkali betul bahwa ada beberapa lulusan pesantren yang cenderung radikal dan fundamentalis. Hanya saja, tidak proporsional kalau mengeneralisir dan menghakimi bahwa pesantren adalah sumber pencetak orang-orang radikal, apalagi kalau dibandingkan dengan Muslim Indonesia lulusan pesantren yang moderat bahkan liberal yang ternyata jumlahnya lebih banyak. Kalau begitu, perlu dicari factor lain mengapa ada lulusan pesantren yang radikal seperti para pelaku Bom Bali. Salah satunya barangkali adalah karena para pelaku Bom Bali tersebut juga terpengaruh oleh latar belakang mereka yang pernah ikut berperang di Afghanistan ketika negara itu melawan Uni Soviet.

 

Atau bisa jadi para pelaku Bom Bali itu salah menafsirkan kata jihad dalam Al-Quran. Mereka hanya tahu arti jihad itu berperang, padahal dalam Islam dilarang memerangi orang non-Muslim kalau bukan untuk mempertahankan diri. Jihad juga mempunyai arti lain seperti belajar dengan keras, perjuangan seorang Ibu melahirkan anaknya  atau bahkan bekerja mencari nafkah dengan sungguh-sungguh, juga bisa berarti berjihad.

 

Akhirnya, saya yakin bahwa Muslim yang moderat akan terus menjadi bagian mainstream atau mayoritas Muslim di Indonesia. Kalaupun ada Muslim Indonesia yang cenderung radikal mereka hanya sebagian kecil saja dan tidak mendapat dukungan yang signifikan dari rakyat Indonesia bahkan kebanyakan Muslim Indonesia menyalahkan para pelaku Bom Bali sebagai Muslim yang tidak paham ajaran Islam secara sempurna.





One Response to Mendiskusikan Terrorism di Asia Tenggara

  1. IRWAN DM says:

    Saya sependapat dengan anda tdak semua alumni pesantren itu radikal,ini hanya kerja orang orang anti Islam yang membuat stigma seperti itu agar pesantren tidak diminati dan akhirnya ditinggalkan oleh umat Islam,ingat selalu QS2;120 bahwa Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah redha,senang kepada kita hingga mengikuti Millah ,agama,budaya mereka untuk itu kita harus selalu waspada dan saling mengingatkan sesama muslim,bahwa Islam itu Rahmatan lilalamin.Ajaran Islam itu sudah baku tapi kita umat Islam Jangan Kaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: