Jeweran Tuhan dan Kearifan Penguasa

PR, 27/02/04

Musibah seakan tak pernah mau menjauh dari  tanah air  yang bernama Indonesia. Negeri yang dulu di gambarkan Koes Plus sebagai tanah surga dengan segala keindahan, kesuburan tanah dan kekayaan lautnya seakan tak layak lagi di sandang.

Karunia Tuhan berupa musim yang banyak diinginkan oleh bangsa-bangsa di dunia sebagai negara tropis yang hanya mempunyai dua musim: hujan dan kemarau, nampaknya tak disyukuri oleh bangsa ini. Pantaslah kalau Tuhan terus menguji dan murka kepadanya. Bukankah bangsa-bangsa dibelahan bumi lain harus susah; ketika salju turun mereka kedinginan, dan kepanasan ketika summer tiba. Di ranah nusantara, kita tak perlu kedinginan di musim salju dan tidak terlalu kepanasan di musim panas.

Tapi dua musim yang mestinya mendatangkan kenyamanan dan kemakmuran ternyata hanya mendatangkan bencana yang silih berganti. Di musim panas hutan-hutan kita terbakar, asapnya bahkan membuat sesak negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore. Di musim hujan seperti yang terjadi dalam minggu ini, malapetaka kemanusiaan yang merenggut harta benda dan nyawa seperti yang terjadi di Purworejo Jawa Tengah, seakan tak bisa di cegah.

Bukan, bukan karena Tuhan marah terhadap bangsa ini. Tapi karena ulah-ulah tangan serakah yang haus akan kekayaan sehingga hutan dengan begitu saja dieksploitasi, akhirnya tanah gundul, longsor dan banjir menerpa sebagai konsekuensi. Iwan Pals pernah menggambarkan kesalahan manusia terutama penguasa yang korup ketika terjadi bencana tenggelamnya kapal Tampomas; “Bukan-bukan itu, aku rasa kita pun tahu, petaka terjadi karena salah kita sendiri” demikian Iwan dalam syair lagunya.. Bagi Iwan Tuhan tak mungkin sekejam itu “ korbankan ratusan jiwa, bagi mereka yang belum tentu berdosa”.

Nampaknya singgungan Iwan di atas masih terasa sangat signifikan untuk menggambarkan penyebab petaka banjir dan kekeringan yang sering melanda tanah air bernama Indonesia. Bukankah hutan gundul sebagai konsekwensi dari keserakahan sekelompok orang dan kolaborasi pemimpin korup. Bukan rahasia lagi bahwa hutan gundul karena cukong-cukong kayu yang dibeking ‘oknum aparat’ yang ingin mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya dengan mengorbankan lingkungan. Ilegal logging bukan hanya menyebabkan  tanah longsor dan banjir, bahkan kebakaran dan asap tebal yang membuat Singapore dan Malaysia kelabakan juga salah satu penyebabnya adalah tangan-tangan kotor ini. Kolaborasi pengusaha serakah dan oknum pemerintah yang korup nampaknya memang menjadi sumber utama bencana alam di negeri kita.

Dengan teguran bencana kemanusiaan seperti itu mestinya para elit birokrasi di negeri ini sadar dan mau bertindak. Bukankah negara seharusnya menjamin kesejahteraan, keselamatan dan kemakmuran masyarakatnya seperti diamanatkan Undang-Undang Dasar bahwa ‘Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat’. Sayang teguran Tuhan dan alam yang terus menerus terjadi setiap tahun seakan belum mampu menyadarkan penguasa untuk bertindak tegas. Mengapa hal itu bisa terjadi? Lagi-lagi jawabannya adalah karena adanya oknum penguasa yang korup yang merasa diuntungkan dengan bisnis yang serakah demi keuntungan besar yang bisa didapat dengaan cepat.

Betul bahwa pemerintah selalu tanggap akan musibah yang terjadi. Sayang respons elit birokrasi kita hanya dilakukan ketika musibah itu terjadi, ketika keganasan alam sudah mendatangkan korban. Dengan kata lain apa yang diperbuat oleh penguasa, hanyalah solusi sesaat.  Mereka sibuk memberikan uluran tangan bagi para korban dengan mendirikan dapur-dapur darurat, tenda-tenda penampungan sementara, dan makanan alakadarnya penyambung hidup, misalnya. Pengumpulan sumbangan baik berupa uang, makanan dan minuman memang biasanya cepat dilakukan oleh pemerintah, meskipun kadang-kadang tak jarang dana untuk sumbangan kemanusiaan pun masih sempat di korup oleh oknum tak bertanggung jawab. Sekali lagi solusi yang ditawarkan mereka sangat instant dan hanya menjangkau solusi jangka pendek. Setelah kemarahan masa dan kecemasan masyarakat sedikit reda, pembuat kebijakan di negeri ini lupa akan akar permasalahannya, yaitu penjarahan dan pengrusakan keharmonisan alam. Dan siklus bantuan sesaat ini terus berputar dari satu musibah ke musibah kemanusiaan yang lainnya.

Sayang penguasa tak mau merumuskan kebijakan yang komprehensip dan jangka panjang untuk mengatasi masalah ini, disinilah diperlukan kearifan para elit birokrasi. Mungkin pemerintah akan sangat bijak kalau mempertimbangkan program penyelamatan hutan yang pernah ditawarkan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yaitu moratorium.

Moratorium adalah usaha pembekuan atau penghentian seluruh aktifitas penebangan kayu skala besar untuk smentara waktu tertentu sampai subuah kondisi yang diinginkan yaitu keseimbangan hutan kembali di capai. Ide yang ditawarkan oleh WALHI ini kelihatannya merupakan solusi cerdas bagi reformasi awal penanganan masalah kehutanan di tanah air. Dengan ide ini diharapkan illegal logging yang tidak terkontrol selama beberapa decade terakhir yang menyebabkan terjadinya deforestasi dan degradasi hutan trofis bisa diakhiri.

Permasalahannya adalah, beranikah elit birokrasi kita untuk mendengar dan melaksanakan usulan WALHI tersebut? Bukankah banyaknya kolusi dan korupsi penebangan hutan illegal ini telah membuat sebagian elit birokrasi dan pengusaha kakap di negeri yang terus terpuruk ini dengan mudah dan cepat menumpuk kekayaan? Lagi-lagi kearifan penguasa dan kemauan politik untuk menyelamatkan keharmonisan lingkungan sebagai upaya penanggulangan  bahaya banjir dan tanah longsor yang sering membawa banyak korban untuk jangka panjang sangat diharapkan. Hanya calon elit birokrasi yang jujur, bersih, berwibawa, punya tanggung jawab moral serta komitmen yang tinggi bagi keselamat bangsa ini yang bisa diharapkan. Bukan calon-calon eksekutif dan legislative “cacat” yang curang hanya dengan mengandalkan ijazah palsu yang bisa diharapkan memperbaiki asset negeri ini, termasuk asset kehutanan. Hanya calon penguasa yang credible lah yang mau mendengar “Jeweran Tuhan” dan menjadi penguasa yang arif. Wallahu A’lam.





Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: