Dilema Politik PKS menjelang Reshuffle?

BH, 23/11/05

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah salah satu partai politik Islam yang cukup cemerlang di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari peningkatan dukungan dari masyarakat yang cukup signifikan. Kalau pada Pemilihan Umum 1999 PKS hanya mendapat dukungan 1.4 persen dari pemilih di Indonesia, maka pada Pemilu (pilihan raya) 2004, PKS berhasil mendapat dukungan 7.4 persen.

Karenanya, partai ini diharapkan menjadi partai harapan umat Islam masa depan yang bisa mengakomodasi aspirasi umat Islam Indonesia.

Partai ini sekarang merupakan partai pendukung pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil presiden Jusuf Kalla (JK).

Dengan banyaknya kritik terhadap anggota kabinet SBY, terutama bidang ekonomi, Yudhoyono didesak oleh beberapa kalangan terutama para pakar politik dan ekonomi untuk segera mengganti menteri-menterinya yang kurang mampu.

Menanggapi desakan pergantian menteri pada kabinet pimpinan Yudhoyono, adalah sangat menarik mendiskusikan bagaimana posisi PKS dalam merespon reshuffle cabinet. Bahkan Sekertaris Jenderal PKS, Anis Matta seperti dikutip beberapa media massa di Indonesia pernah menyatakan bahwa PKS sedang mempertimbangkan untuk menarik dukungan koalisi terhadap pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla.

Pertanyaannya, benarkah PKS berani untuk menarik dukungan kepada SBY-JK dan menempatkan diri sebagai partai oposisi pemerintah? Ataukah ini hanya gertak sambal untuk menaikan ‘bargaining position’ dan meminta jatah lebih menteri di kabinet?

Pertanyaan kedua ini wajar mengemuka paling tidak karena dua alasan. Pertama, mengapa wacana ini dikemukakan menjelang reshuffle kabinet yang konon katanya akan dilakukan SBY setelah Idul Fitri? Kedua, mengapa isu ini ‘dilempar’ dulu dan baru menentukan sikap setelah reshuffle betul-betul dilakukan? Bukankah akan lebih kelihatan ‘jantan’ bagi PKS kalau langsung menarik diri jika sudah tidak setuju dengan kebijakan pemerintahan SBY-JK.

Bahkan Arbi Sanit pengamat politik dari Universitas Indonesia dengan tegas menyebut bahwa rencana menarik dukungan itu hanya gertak saja. “Gertakan itu kan sudah berkali-kali diucapkan oleh PKS, tapi sejauh ini belum pernah terealisasikan. Apakah alasan yang kali ini diusung lebih kuat dibandingkan alasan yang terdahulu, itu belum jelas,” (Suara Merdeka, 31/10).

Kalkulasi Untung Rugi Politik

Dalam dunia politik sebagaimana juga dalam ekonomi, kalkulasi untung rugi merupakan sesuatu yang wajar, dan ini pula nampaknya yang masih menjadi pertimbangan PKS apakah harus menarik diri atau tetap mendukung pemerintahan SBY-JK.

Jika PKS dengan tegas menarik diri dari koalisi dengan pemerintah, ada beberapa keuntungan politik yang bisa di ambil oleh partai yang dianggap sebagai partai harapan masa depan ini.

Pertama, PKS akan lebih leluasa mengkritisi segala kebijakan pemerintah yang dianggap tidak popular dan tidak memihak kepada rakyat. Sebagai contoh, PKS tidak akan merasa terbelenggu dan memikul beban psikologis untuk dengan tegas mengkritisi dan menolak kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) yang membuat masyarakat Indonesia semakin sengsara. Begitu juga PKS dengan tegas bisa menolak kenaikan tunjangan 10 juta perbulan bagi anggota DPR (parlemen) tanpa ragu-ragu, dan menghilangkan image penolakan ‘hipokrit dan cari popularitas’.

Kedua, citra partai bersih, peduli dan pelayan umat seperti selama ini didengung-dengungkan akan terjaga. Image pemberantasan korupsi yang tertatih-tatih dan citra pemerintah yang tidak mempunyai ‘sense of crisis’ (dengan menaikan tunjangan DPR dan anggaran kepresidenan disaat rakyat kesulitan), tidak akan lagi menjadi beban moral bagi PKS.

Ketiga, jika PKS dengan tegas menarik diri dari koalisi pemerintahan, konflik internal partai bisa dihindarkan. Bukankah beberapa Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dalam tubuh partai ini banyak yang mendesak Dewan Pimpinan Pusat (DPP) untuk dengan segera menarik dukungan kepada SBY-JK? Gagal mengakomodir aspirasi arus bawah partai akan menimbulkan konflik internal seperti yang terjadi pada parta-partai politik lain.

Keempat, penarikan diri PKS dari pemerintahan SBY-JK juga akan menghilangkan stigma negatif bagi PKS yang dianggap sama saja dengan partai-partai lainnya. Image negative partai-partai selama ini adalah identik dengan mengumbar janji ketika kampanye untuk membela rakyat kecil dan tidak ada aksi realnya setelah berkuasa.

Tentunya para elite politisi partai sangat mafhum dengan keuntungan-keuntungan di atas. Hanya saja nampaknya mereka juga masih mempertimbangkan beberapa kerugian kalau PKS betul-betul menarik diri.

Nampaknya PKS masih enggan untuk rugi kehilangan para menterinya di kabinet. Biasanya mereka bernaung di balik alasan klasik bahwa kalau tidak berpartisipasi aktif berarti kehilangan kesempatan untuk ikut mengontrol dari dalam. Bukankah kehilangan kader menteri di cabinet juga berarti kehilangan kesempatan untuk menunjukan prestasi kader dalam pemerintahan dan itu berarti kehilangan kampanye ‘gratis’?

Atau mungkinkah PKS sedang mempertimbangkan bahwa kalau menarik dukungan terhadap koalisi SBY-JK berarti juga mereka secara otomatis harus menarik Hidayat Nurwahid dari ketua jabatan ketua MPR (parlemen). Karena naiknya mantan presiden PKS menjadi ketua MPR ini disinyalir oleh para pengamat sebagai ‘kongsi balas budi politik’ kepada PKS karena mendukung SBY-JK? Dan menarik Hidayat Nurwahid dari ketua MPR berarti mengurangi kesempatan promosi Nurwahid untuk dijagokan pada Pemilu (Pilihan raya) Presiden tahun 2009?

Nampaknya hanya elit-elit partai saja yang lebih tahu akan untung ruginya PKS jika betul-betul pecah kongsi mendukung pemerintahan SBY-JK. Kita tunggu saja, opsi mana yang akan diambil oleh PKS dalam posisi yang dilematis ini. Apapun keputusan yang diambil oleh para elit partai ini, mau tidak mau akan mempengaruhi citra dan popularitas partai. Karenanya, adalah wajar kalau para politisi PKS harus lebih jeli dan matang dalam melihat untung rugi bagi target politik partai pada pemilu 2009. Sangat dilematis memang!. Wallahu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: