Demokrasi Tanpa Proses Pendidikan yang Baik: Tak Mungkin!

Rep, 17/03/04

Demokrasi adalah sebuah kata yang mempunyai banyak definisi dan interpretasi. Dari mulai rumusan sederhana tentang inti demokrasi dari Abraham Lincoln yang menyebut bahwa demokrasi adalah “government of the people, by the people and for the people” (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat) sampai munculnya model-model demokrasi kontemporer; communitarian democracy, deliberative democracy dan agonistic democracy seperti di klaim Wayne Gabardi (2001) dalam Contemporary Models of Democracy.

Meskipun definisi demokrasi sangat bervariasi, inti dari berdemokrasi itu sendiri adalah kebebasan memilih dan keterbukaan dengan suara rakyat atau perorangan sebagai unsur utama.

Mantan Menlu Amerika Serikat, Madelaine Albright, ketika pada tahun 1999 berkunjung ke Indonesia pernah berkata: “Demokrasi harus muncul dari kehendak perorangan untuk ikut serta dalam keputusan-keputusan yang membentuk kehidupan mereka. Berbeda dengan diktator, demokrasi tidak pernah merupakan pemaksaan tapi selalu berupa pilihan”. Artinya, partisipasi rakyat dalam menentukan keputusan-keputusan di tingkat pemerintah, yang mengatur kehidupan rakyatnya, adalah inti dari kehidupan berdemokrasi.

Karena itu, untuk mendorong rakyat agar mampu berpartisipasi aktif dalam berdemokrasi, adalah wajar bagi pemerintah untuk menengok faktor pendidikan sebagai salah satu pendorong tumbuhnya proses demokratisasi di Indonesia.

*************************

Nampaknya kita akan sepakat bahwa salah satu cara terbaik mendorong rakyat untuk menjalankan pilihan bebas dan membangun dukungan rakyat bagi demokrasi adalah melalui pendidikan. Sistem pendidikan yang baik adalah salah satu faktor utama yang menunjang berhasilnya demokrasi di suatu negara.

Ravitch (2002), seorang pakar pendidikan dari Amerika, pernah berkata:” In a democracy, where government is based on self-rule, every person is a ruler, and all need the education that rulers should have”. Bagi Ravitch, di negara yang demokrasinya sudah mapan, setiap individu adalah pembuat kebijakan dan semuanya membutuhkan pendidikan sebagaimana seharusnya sang pembuat kebijakan punyai.

Pendidikan bisa mendorong setiap individu di masyarakat untuk memperdebatkan segala sesuatu yang mempengaruhi hidup mereka, membantu mereka untuk mempunyai daya analisis yang kuat dan kritis dan membantu setiap individu untuk menjadi warga negara yang lebih baik dan mempersiapkan diri untuk memainkan peran dalam membentuk masa depan bangsa.

Salah satu fungsi pendidikan adalah pemberian informasi kepada masyarakat. Dalam menjaga dan meningkatkan kesadaran demokrasi, adalah sangat penting untuk memberikan informasi yang cukup, akurat dan benar di masyarakat.

Karena sangat berbahaya bagi demokrasi jika masyarakatnya mudah berprasangka dan mudah di giring ke konflik dan permusuhan karena kebodohan dan pemutarbalikan informasi. Boleh jadi salah satu faktor mudahnya masyarakat teprovokasi untuk melakukan anarki, seperti sering terdengar di wilayah konflik di Indonesia, adalah karena masyarakatnya dengan mudah di hasut dan adanya misinformasi. Disinilah perlunya pendewasaan masyarakat dalam menyaring informasi, dan tentunya pendewasaan sikap itu perlu di bina lewat pendidikan.

Albert Shanker, seorang pakar di bidang pendidikan dan demokrasi dan juga mantan President Persatuan Guru di Amerika, pernah menulis: “A Martian who happened to be visiting Earth soon after the United States was founded would not have given this country much chance of surviving. He would have predicted that this new nation, whose inhabitants were of different races, who spoke different languages, and who followed different religions, would not remain one nation for so long. They would end up fighting and killing each other…But that didn’t happen…public schools played a big role in holding our nation together”. Arah tulisan Shanker sangat jelas bahwa baginya, diawal ditemukannya benua Amerika, negara yang sering kita rujuk sebagai negara paling demokratis, diprediksi tidak akan berumur panjang. Dengan penduduknya yang terdiri dari berbagai ras, dengan variasi bahasa yang digunakan, dan mempunyai bermacam-macam kepercayaan agama, negara super power ini diprediksi akan terus dilanda kerusuhan dan saling membunuh diantara sesama suku.

Tapi ternyata prediksi itu salah, bahkan sekarang Amerika di pandang sebagai satu satunya polisi dunia yang mempunyai tradisi demokrasi yang semakin kuat. Menurut Shanker, pendidikan sangat berperan besar menyokong tetap utuhnya negara Paman Sam ini.

Catatan yang di buat Shanker di atas semakin memperkuat thesis bahwa pendidikan sangat berperan penting dalam mengajarkan demokrasi. Bukankah negara kita yang sekarang sering dilanda pertentangan antara etnis hampir sama dengan apa yang dilukiskan Shanker diawal penemuan benua Amerika? Bangsa kita dengan kekayaan suku, agama, bahasa dan budaya sangat potensial untuk terjerumus pada konflik dan disintegrasi bangsa. Untuk mencegah semuanya itu, nampaknya sangatlah wajar kalau kita menengok kembali sistem pendidikan kita, dengan keberhasilan pendidikan, diharapkan proses demokratisasi di negeri tercinta ini akan berjalan dengan baik dan berhasil. Jika konflik antar etnis di Indonesia terus berlangsung dan proses demokratisasi yang diusung oleh gerbong reformasi nampak tidak berhasil, adalah wajar kalau fungsi pendidikan perlu dipertanyakan keberhasilannya. Wallahu a’lam.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: